M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi pasangan (Pexels/Alina Rossoshanska)
e. kusuma .n

Dulu aku percaya, cinta adalah rumah. Tempat kembali setelah hari yang melelahkan, tempat mengadu tanpa takut dihakimi. Dan aku menemukannya pada Raka—atau setidaknya, aku pikir begitu.

Kami bertemu secara sederhana. Tidak ada kisah dramatis atau pertemuan tak terduga ala film. Hanya dua orang yang sama-sama lelah, lalu saling duduk bersebelahan. Raka hangat, pandai mendengar, dan selalu tahu kapan harus diam. Aku jatuh cinta pada caranya membuatku merasa cukup, tanpa perlu jadi versi lain dari diriku sendiri.

Awalnya, cinta kami tumbuh pelan. Terlalu pelan sampai aku tidak sadar kapan rasa itu mulai berubah arah. Yang aku tahu, dulu aku selalu ingin pulang lebih cepat agar bisa bercerita padanya. Sekarang, aku justru duduk lebih lama di parkiran, menghela napas, menguatkan diri sebelum membuka pintu.

Perubahannya tidak drastis. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama besar. Hanya kalimat-kalimat kecil yang terasa menusuk tapi sulit dijelaskan.

“Kamu kok sekarang sensitif banget, sih?”
“Dulu kamu nggak gini.”
“Aku cuma jujur, kenapa kamu baper?”

Awalnya aku tertawa, menganggapnya bercanda. Aku mencoba lebih sabar, lebih mengerti. Aku menurunkan ekspektasi, lalu perlahan menurunkan suaraku sendiri. Aku berhenti membantah. Berhenti menjelaskan. Berhenti merasa punya hak untuk tidak setuju.

Dan tanpa sadar, aku juga berhenti bahagia.

Aku mulai menghafal suasana hatinya. Belajar membaca nada bicaranya. Menebak kapan harus diam dan kapan harus mengalah. Cinta yang dulu terasa seperti rumah, kini berubah seperti ruangan sempit yang membuatku berjalan jinjit.

Lucunya, aku masih mencintainya. Atau mungkin, aku mencintai kenangan tentang dirinya yang dulu. Aku benci diriku sendiri karena itu.

Aku benci karena setiap kali ia bersikap manis setelah menyakitiku, aku kembali luluh. Aku benci karena aku tahu ada yang salah, tapi tetap bertahan. Aku benci karena aku mulai membenarkan sikapnya, sambil terus menyalahkan diriku sendiri.

“Dia capek.”
“Dia cuma lagi stres.”
“Dia nggak maksud nyakitin aku.”

Kalimat-kalimat itu menjadi mantra yang kuulang agar bisa tetap tinggal.

Sampai suatu malam, aku bercermin dan hampir tidak mengenali wajahku sendiri. Mataku kosong. Senyumku terasa palsu. Aku terlihat seperti seseorang yang terlalu lama berusaha kuat.

Di titik itu, aku sadar kalau cintaku padanya belum habis, tapi kebencianku pada diriku sendiri sudah penuh. Dan dari situlah, cinta mulai berubah.

Bukan jadi benci yang meledak-ledak. Tidak ada teriakan atau pintu dibanting. Bencinya datang pelan, seperti air yang merembes ke dalam dinding. Tenang, tapi merusak.

Aku mulai benci caranya membuatku ragu pada perasaanku sendiri. Benci caranya memelukku setelah melukaiku. Benci caranya berkata “aku sayang kamu” tapi tidak pernah benar-benar mendengarku.

Aku juga mulai benci diriku sendiri yang dulu. Yang bertahan terlalu lama. Yang berharap seseorang akan berubah hanya karena aku cukup mencintainya.

***

Suatu pagi, aku bangun dengan perasaan asing. Tidak sedih, tidak marah, hanya lelah. Saat itu, aku tahu kalau aku tidak lagi mencintainya seperti dulu. Namun, aku juga belum benar-benar membencinya. Aku hanya tidak ingin lagi berada di sana.

Aku bilang padanya dengan suara tenang, “Aku capek.”

Ia tertawa kecil. “Capek kenapa? Kita baik-baik aja, kok.”

Kalimat itu membuatku tersenyum pahit karena di situlah aku sadar ia tidak pernah benar-benar melihatku.

“Aku nggak baik-baik aja,” kataku pelan.

Ia mendengus. “Kamu selalu ribet.”

Dan di detik itu, sesuatu di dalam diriku putus. Bukan hatiku, tapi harapanku. Aku tersadar, kami tidak lagi sama seperti dulu. Entah aku atau dia yang berubah, yang jelas jalan kami tak lagi beriringan.

Aku memilih pergi tanpa drama. Bahkan tanpa pidato panjang. Aku tidak ingin membuktikan apa pun. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri sebelum aku kewalahan.

Benci itu akhirnya datang sepenuhnya. Bukan pada dirinya, tapi pada apa yang hubungan itu lakukan padaku. Pada rasa kecil yang kuterima. Pada ketakutan yang terlampau sering kutoleransi. Pada cinta yang membuatku kehilangan diri sendiri.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebencian itu perlahan berubah bentuk. Tidak lagi panas. Tidak lagi menyakitkan. Ia menjadi pengingat bahwa aku pernah begitu rapuh dan bodoh.

Pengingat bahwa cinta tidak seharusnya membuatmu membenci dirimu sendiri. Pengingat bahwa kehilangan seseorang lebih baik daripada kehilangan harga diri. Pengingat bahwa pulang seharusnya terasa aman.

Kini, ketika mengingat Raka, aku tidak lagi menangis. Aku juga tidak marah. Aku hanya paham bahwa cinta bisa berubah menjadi benci bukan karena kita berhenti peduli, tetapi karena kita terlalu lama tidak dipedulikan.

Dan kadang, meninggalkan adalah satu-satunya cara agar cinta tidak sepenuhnya menghancurkan kita.

***

Aku pergi, Raka. Pamit dari hubungan ini. Pamit dari hidupmu. Kisah kita sudah seharusnya selesai agar tidak ada lagi kata yang menyiksa, agar tidak ada lagi hati yang terluka.