Selama ini, nama William Shakespeare mungkin lebih sering dikaitkan dengan Romeo and Juliet. Karena rasa penasaran untuk mengenal karya lainnya, saya mencoba membaca The Taming of the Shrew atau Penjinakan Si Pemarah. Hal yang langsung membuat karya ini berbeda adalah bentuknya. Buku ini bukan novel, melainkan naskah drama yang memang dirancang untuk dipentaskan di atas panggung. Dengan panjang sekitar 144 halaman, karya ini relatif singkat, meskipun saya beberapa kali harus berhenti karena teksnya menggunakan bahasa Inggris dengan gaya yang cukup sulit dipahami.
Kisahnya diawali melalui bagian yang disebut Induksi. Christopher Sly, seorang pengemis yang sedang mabuk, diusir dari sebuah tempat minum. Seorang bangsawan kemudian menemukan Sly dan menjadikannya bahan lelucon. Ia memerintahkan orang-orang untuk mengubah penampilan Sly menjadi seperti seorang tuan kaya dan membuatnya percaya bahwa dirinya baru saja sadar setelah lama kehilangan ingatan. Sebuah rombongan pemain drama kemudian datang untuk menghiburnya. Pertunjukan mereka menjadi cerita utama dalam drama ini.
Cerita tersebut membawa pembaca menuju Padua, tempat Baptista Minola tinggal bersama kedua putrinya. Putri sulungnya, Katherina atau Kate, memiliki karakter keras, berani, mudah marah, dan sulit dikendalikan. Berbeda dengannya, Bianca dikenal anggun serta disukai banyak pria. Namun, Baptista menetapkan syarat bahwa Bianca baru boleh menikah setelah Kate lebih dahulu mendapatkan pasangan.
Keadaan tersebut membuat para pria yang mengincar Bianca harus mencari calon suami untuk Kate. Pada saat yang sama, Lucentio datang dan langsung terpikat kepada Bianca. Demi mendekatinya, ia menyamar sebagai seorang pengajar bernama Cambio, sementara pelayannya, Tranio, berpura-pura menjadi dirinya. Hortensio pun menggunakan penyamaran serupa dengan menjadi guru musik.
Situasi berubah ketika Petruchio datang dari Verona dengan tujuan mencari perempuan kaya untuk dinikahi. Setelah mengetahui sifat Kate, ia justru tertarik menjadikannya pasangan. Pertemuan mereka dipenuhi adu mulut, sindiran, dan permainan kata. Kate menolak Petruchio, tetapi pria itu tidak mundur. Ia bahkan menyatakan kepada Baptista bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan. Pada hari pernikahan, Petruchio datang dengan pakaian yang tidak pantas dan membuat suasana kacau sebelum membawa Kate pergi.
Di Verona, proses yang disebut sebagai “penjinakan” dimulai. Petruchio menggunakan berbagai cara ekstrem untuk mengendalikan Kate. Ia menolak memberikan makanan dan waktu istirahat dengan alasan semuanya tidak sesuai untuk istrinya. Pakaian dan pemberian yang diperuntukkan bagi Kate pun selalu dianggap tidak layak. Perlakuan tersebut perlahan membuat Kate kelelahan dan akhirnya memilih mengikuti kehendak suaminya demi menghindari pertengkaran.
Sementara itu, penyamaran Lucentio terbongkar setelah ia dan Bianca menikah secara rahasia. Baptista kemudian menerima keadaan tersebut dan perayaan pernikahan pun berlangsung. Dalam pesta, para pria membicarakan tingkat kepatuhan istri mereka. Petruchio kemudian mengusulkan sebuah taruhan. Ketika masing-masing istri dipanggil, hanya Kate yang memenuhi panggilan. Drama berakhir dengan pidato Kate mengenai kewajiban seorang istri untuk menghormati suaminya.
Setelah menyelesaikan buku ini, saya melihat bahwa drama tersebut tidak sekadar menghadirkan humor atau pertengkaran pasangan. Karya ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat pada zamannya memandang perempuan ideal sebagai sosok lembut dan patuh. Sikap tegas Kate justru diberi label sebagai perilaku yang harus dikendalikan. Bagi pembaca masa kini, hal tersebut menarik untuk direnungkan karena memperlihatkan pengaruh norma sosial terhadap hubungan dan pembagian peran gender.
Hubungan Petruchio dan Kate juga menunjukkan betapa rumitnya komunikasi ketika dua orang sama-sama memiliki karakter kuat. Mereka saling menguji kecerdasan, emosi, dan batas masing-masing. Meski metode Petruchio sangat problematis jika dilihat dari perspektif modern, dinamika keduanya memperlihatkan bahwa hubungan membutuhkan penyesuaian dan pemahaman.
Menariknya, Bianca juga membuktikan bahwa kesan pertama tidak selalu menggambarkan seseorang secara utuh. Sosok yang sejak awal tampak lembut dan penurut ternyata memiliki keberanian untuk menolak ketika berada dalam situasi tertentu.
Pada akhirnya, The Taming of the Shrew menjadi bacaan yang membuka perspektif saya tentang hubungan, kekuasaan, komunikasi, dan gender. Meskipun bahasa Inggrisnya cukup menantang, drama ini memberikan pengalaman membaca Shakespeare yang berbeda dan membuat saya menyadari bahwa karya klasik dapat terus dipertanyakan dan ditafsirkan dari sudut pandang pembaca masa kini.
Identitas Buku
Judul: The Taming of the Shrew
Penulis: William Shakespeare
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Inggris
ISBN: 978-605-06-6982-3
Baca Juga
-
Ulasan The Invisible Man: Ketika Ilmu Pengetahuan Kehilangan Kendali
-
Laura: Perjuangan, Keteguhan, dan Keberanian Melawan Hubungan Toksik
-
Menembus Kesunyian dan Ketidakadilan dalam The Silence of Bones
-
Ulasan Novel Para Putra dan Pujaan Hati: Ketika Kasih Ibu Menjadi Belenggu
-
Mengulas Memoar Educated: Ketika Pendidikan Menjadi Jalan Keluar
Artikel Terkait
Ulasan
-
Berawal Dikejar Deadline, Review Novel Progresnya Berapa Persen?
-
Novel Sabtu Bersama Bapak: Hangatnya Pesan Seorang Ayah
-
Review Film Just Play Dead: Trik Skenario Kematian Palsu yang Penuh Rahasia
-
Review Film Taboo: The Silent Day, Malapetaka di Balik Pengabaian Adat Bali
-
Ulasan Fall 2: Deadpoint,Perjuangan Hidup Mati di Atas Menara
Terkini
-
Sinopsis Revenge, Drama China Terbaru Lu Yu Xiao dan Zhang Ling He di WeTV
-
Manfaat Ekosistem Gambut dan Peran Karbon untuk Satwa dan Manusia
-
Manga Geopolitik Funso Deshitara Hatta Made Resmi Dapat Adaptasi Anime TV
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
-
Belajar dari Pemecatan Purbaya, Jadi Abdi Pemerintah Dilarang Keras Punya Hati yang Melankolis