Cinta dan Rangga rupanya masih punya kesaktian mandraguna untuk membuat masyarakat galau berjamaah. Lewat film pendek terbaru besutan Teddy Soeriaatmadja, dua sejoli ini mendadak muncul lagi menggegerkan linimasa. Bedanya, mereka bukan lagi anak SMA yang hobi baku hantam pakai puisi, melainkan sepasang suami istri yang sedang bertarung melawan kejenuhan rumah tangga.
Uniknya, kembalinya Dian Sastro dkk sukses membuat ingatan kolektif penonton mudik massal ke masa lalu. Memori masa remaja yang sudah berdebu di gudang pikiran mendadak melompat keluar dengan segar bugar. Hebatnya lagi, sihir nostalgia ini ikut meracuni Gen Z. Padahal saat film pertamanya meledak di tahun 2002, sebagian besar dari mereka mungkin belum lahir atau masih sibuk belajar tengkurap. Tapi berkat kekuatan kuantum meme dan potongan adegan di media sosial, mereka bisa ikutan rindu setengah mati pada masa-masa yang tidak pernah mereka alami.
Bumbu penyedap Royco tentu tidak malu-malu kucing memperlihatkan bahwa proyek ini adalah bagian dari strategi jualan mereka. Produknya diselipkan dengan anggun lewat adegan memasak di dapur sebagai simbol perekat hubungan. Penonton pun tidak merasa terganggu atau dicurangi oleh iklan, sebab sebelum disodori barang jualan, mereka sudah lebih dulu disuapi sesuatu yang harganya jauh lebih mahal dari sebungkus penyedap rasa, yakni berupa kenangan manis yang tak ternilai harganya.
Taktik jualan pakai rindu ini pas banget kalau dibedah pakai kacamata Svetlana Boym dalam bukunya The Future of Nostalgia (2001). Boym membagi kangen-kangenan ini jadi dua sekte. Ada sekte restorative yang ngebet pengen memutar balik waktu, dan ada sekte reflective yang cuma ingin asyik menikmati rindu sambil sadar diri kalau umur sudah tidak bisa dibohongi lagi. Nah, Cinta dan Rangga versi baru ini menganut sekte yang kedua, dimana masa lalu dipanggil lagi ke hadapan kita, tapi wajah para tokohnya jelas sudah fana dan berubah.
Strategi memancing air mata kerinduan ini sebenarnya bukan barang gres dari gudang. Tahun 2014 lalu, aplikasi LINE sudah curi start bikin film pendek reuni Cinta dan Rangga yang sampai sekarang masih nongkrong manis di YouTube. Sekarang, formula sakti yang sama dipakai lagi dengan menggunakan tokoh lama, ceritanya dibuat baru, penonton lawas ikutan baper, dan Gen Z pun jadi penasaran ingin ikut nimbrung.
Di sinilah indahnya saat rindu berubah jadi mesin pencetak uang yang gurih. Norman Fairclough dalam Critical Discourse Analysis (1995) dan Media Discourse (1995) pernah membisikkan bahwa bahasa media itu lihai banget menari-nari di antara memberi informasi, menghibur, sekaligus menyelipkan misi terselubung. Walhasil, dalam urusan AADC ini, batas antara karya seni film yang syahdu dan iklan jualan bumbu dapur jadi setipis selembar tisu dibelah tujuh!
Mungkin pada mulanya kita datang karena kangen setengah mati pada Cinta, lalu bertahan karena penasaran setengah mampus dengan nasib Rangga. Eh, tahu-tahu di tengah jalan kita sudah disodori bahasa cinta versi bumbu dapur. Begitulah cara kerja rindu di zaman digital dengan cara menyulap memori lamanya sedemikian rupa jadi pintu gerbang utama yang menyambut dompet kita dengan ramah.
Bagi anak-anak Gen Z, film ini akhirnya berubah jadi museum pop estetik yang bisa mereka kunjungi kapan saja dengan modal kuota internet di YouTube. Lucunya, mereka bisa ikutan rindu dan baper pada masa-masa yang belum pernah mereka injak. Tapi ya begitulah hebatnya budaya pop, umur sebuah cerita ternyata bisa jauh lebih panjang dan awet daripada umur penontonnya sendiri.
Jadi, kalau suatu hari nanti mendadak muncul pengumuman film AADC 3, jangan heran kalau kita kembali heboh berjamaah di media sosial. Barangkali Cinta dan Rangga memang tidak pernah benar-benar pensiun dari hati kita. Mereka hanya sedang duduk manis di ruang tunggu, menanti ada merek dagang lain yang datang membawa undangan reuni berbalut nostalgia.
Baca Juga
-
Tafsir Lagu Pamungkas: Memaknai BKKASM dalam Relasi Orang Tua dan Anak
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Ulasan Film Perfect Days: Ketika Kedamaian Ditemukan dalam Rutinitas
-
Mengapa Anak Zaman Now Ingin Jadi YouTuber ketimbang Astronot?
Artikel Terkait
-
Mendang-mending 2.0: Saat Gen Z Mulai Berani Bilang Tidak pada Racun Belanja
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Di Balik Estetika Foto AI Retro, Ada Gen Z yang Lelah dengan Sempurnanya Dunia Digital
-
Boro-boro Financial Freedom, Gen Z Masih Paycheck to Paycheck
-
Langkah Kecil Gen Z Mengubah Limbah Jadi Nilai Tambah
Entertainment
-
Film Crayon Shin-chan ke-33 jadi Film Terlaris Sepanjang Waralaba Ini
-
Below Tayang 8 Oktober di Netflix, Josh Hartnett Hadapi Monster Laut
-
Netflix Rilis Trailer Steps, Angkat Sisi Lain Saudari Tiri Cinderella
-
Sinopsis Daayra, Film Kriminal Kareena Kapoor dan Prithviraj Sukumaran
-
Anime BEYBLADE X Resmi Masuki Bey Kingdom Arc, Tayang 9 Oktober
Terkini
-
Rawat Skin Barrier Kulit Kering! 4 Pelembap Cholesterol Kunci Wajah Lembap
-
Review Resident Evil 2026: Kurir Medis Melawan Chaos di Kiamat Zombie
-
Bukan dengan Nirempati, Ini Cara Tepat Menerapkan Sikap 'Mindfulness'
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
-
Memahami Trauma Loop Ibu: Apakah Bisa Berdampak pada Pola Asuh Anak?