M. Reza Sulaiman | Azizul Afidah
Ilustrasi Raka (ChatGPT)
Azizul Afidah

Hujan turun ketika Arka menemukan sebuah jam saku tua di dalam laci meja mendiang kakeknya. Jam itu terbungkus kain beludru hitam, dengan permukaan perak yang dipenuhi ukiran aneh. Jarumnya berhenti tepat pada pukul 23.59.

Di bagian belakangnya terdapat tulisan kecil yang nyaris pudar.

“Waktu tidak pernah mencuri siapa pun. Manusialah yang terlalu sibuk hingga lupa hidup.”

Arka mengernyit. Kalimat itu terdengar seperti teka-teki yang sengaja ditinggalkan kakeknya.

Sejak kecil, Arka selalu menganggap kakeknya sebagai orang paling aneh di dunia. Lelaki tua itu sering berbicara tentang dunia yang tidak bisa dilihat manusia, tentang pintu yang muncul di antara detik-detik, dan tentang kesempatan kedua yang hanya datang kepada mereka yang berani menghadapi penyesalan.

Dahulu, Arka selalu menertawakannya.

Namun, malam itu, ketika ia memutar kenop jam saku tersebut, sesuatu yang mustahil terjadi.

Tik.

Jarum menit bergerak.

Tik.

Lampu kamarnya berkedip. Udara mendadak membeku, dan suara hujan di luar jendela menghilang seolah seluruh dunia sedang menahan napas.

Lalu terdengar suara seorang perempuan dari balik pintu kamarnya.

“Arka, waktumu tinggal tujuh hari.”

Arka berbalik dengan jantung berdebar.

Seorang gadis berdiri di dekat pintu. Rambutnya sebahu, gaun putihnya tampak basah, dan matanya berwarna keemasan seperti cahaya matahari yang terperangkap di dalam kaca.

“Siapa kamu?” tanya Arka.

“Aku Nara. Penjaga waktu.”

“Penjaga waktu?” Arka tertawa gugup. “Aku pasti sedang bermimpi.”

Nara tidak tersenyum.

“Tujuh hari dari sekarang, kau akan menghilang dari dunia ini. Bukan mati. Bukan pergi. Semua orang akan melupakan bahwa kau pernah ada.”

Arka menatap gadis itu tak percaya.

“Kenapa?”

“Karena kau terlalu lama hidup di masa depan sampai lupa hadir di masa sekarang.”

Sebelum Arka sempat bertanya lagi, tubuh Nara berubah menjadi serpihan cahaya. Jam saku di tangannya berdetak tiga kali, kemudian kembali berhenti.

Pukul 23.59.

Dan untuk pertama kalinya, Arka merasa takut pada waktu.

Arka berusia tujuh belas tahun. Ia bukan anak yang buruk, tetapi selama beberapa tahun terakhir, ia berubah menjadi seseorang yang bahkan sulit dikenali oleh dirinya sendiri.

Ia selalu mengejar sesuatu.

Nilai sempurna. Peringkat pertama. Beasiswa ke universitas ternama. Masa depan yang menurutnya harus gemilang agar semua orang mengakui keberadaannya.

Ia belajar hingga larut malam, menolak ajakan teman-temannya, mengabaikan pesan ibunya, dan sering menganggap percakapan dengan ayahnya sebagai gangguan.

Baginya, kehidupan adalah perlombaan. Siapa yang berhenti sebentar akan tertinggal.

Karena itu, ia tidak pernah menyadari bahwa ayahnya mulai sering pulang dengan langkah tertatih. Ia tidak tahu bahwa ibunya menyimpan obat di dalam tas, atau bahwa sahabatnya, Dimas, sudah berbulan-bulan menunggu waktu untuk bercerita tentang masalah keluarganya.

Arka selalu menjawab pertanyaan mereka dengan kalimat yang sama.

“Nanti, ya. Aku sedang sibuk.”

Ia tidak pernah tahu bahwa kata nanti terkadang merupakan cara paling halus untuk kehilangan sesuatu.

Keesokan paginya, Arka mencoba mengabaikan peringatan Nara. Ia pergi ke sekolah, mengikuti pelajaran, dan mengerjakan soal-soal seperti biasa.

Namun, saat membuka buku catatan, ia menemukan sesuatu yang membuat tangannya gemetar.

Di halaman terakhir terdapat tulisan dengan tinta hitam.

HARI PERTAMA: Satu orang akan mulai melupakanmu.

Arka menganggapnya lelucon sampai Dimas datang menghampirinya di kantin.

“Maaf, kita pernah satu kelas, ya?” tanya Dimas sambil mengernyit.

Arka membeku.

“Apa maksudmu? Kita sudah bersahabat sejak kelas tiga!”

Dimas tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar canggung.

“Serius, Ka. Aku tahu namamu dari daftar kelas. Tapi aku nggak ingat kita pernah dekat.”

Arka mencengkeram lengan sahabatnya.

“Berhenti bercanda!”

Dimas menarik lengannya, lalu pergi dengan wajah bingung.

Saat Arka melihat jam saku di dalam tasnya, jarum detiknya bergerak mundur.

Ia mulai percaya bahwa Nara tidak sedang berbohong.

Pada malam kedua, Arka memutar kenop jam saku sebanyak tiga kali.

Seketika, dinding kamarnya retak menjadi garis-garis cahaya. Lantai menghilang di bawah kakinya, dan ia terjatuh ke sebuah tempat yang menyerupai kota, tetapi sama sekali berbeda dari dunia yang dikenalnya.

Langitnya berwarna ungu. Gedung-gedung melayang di antara awan. Orang-orang berjalan dengan bayangan yang bergerak lebih cepat daripada tubuh mereka.

Di kejauhan, sebuah menara raksasa memiliki tujuh pintu, masing-masing menyala dengan warna berbeda.

Nara berdiri di hadapannya.

“Selamat datang di Arunika,” katanya. “Dunia di antara waktu.”

Arka menatap sekeliling dengan mulut ternganga.

“Ini sungguhan?”

“Lebih sungguhan daripada penyesalanmu.”

Nara menjelaskan bahwa jam saku itu adalah peninggalan para Penjaga Waktu. Benda tersebut memberi pemiliknya tujuh hari untuk memperbaiki hal-hal yang telah diabaikan dalam hidupnya.

Namun, Arka harus memilih sendiri apa yang ingin diperbaiki.

“Kalau aku berhasil, aku tidak akan menghilang?”

“Itu tergantung pada apa yang kau pahami selama tujuh hari ini.”

Arka menggeleng kesal.

“Kenapa semua orang di dunia ini suka bicara seperti teka-teki?”

“Karena manusia sering mendengar kata-kata, tetapi jarang memahami maknanya.”

Nara mengangkat tangannya. Sebuah pintu bercahaya muncul di udara.

Di baliknya, Arka melihat dirinya sendiri ketika berusia sepuluh tahun. Ia sedang berlari di halaman rumah, tertawa bersama ayahnya yang masih sehat.

Mereka bermain layang-layang.

Arka kecil terjatuh, lututnya terluka, lalu menangis. Ayahnya menggendongnya sambil tertawa dan berkata, “Tidak apa-apa jatuh, Nak. Yang penting, jangan sampai kamu lupa bagaimana rasanya bahagia.”

Arka menatap pemandangan itu lama sekali.

Ia hampir lupa kapan terakhir kali tertawa bersama ayahnya.

“Aku ingin kembali ke sana,” bisiknya.

“Kau tidak bisa mengubah masa lalu,” jawab Nara. “Kau hanya bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan setelah mengingatnya.”

Pintu itu menghilang.

Untuk pertama kalinya, Arka menyadari bahwa ia tidak hanya takut kehilangan masa depan. Ia juga mulai kehilangan kenangan yang seharusnya menjadi bagian terindah hidupnya.

Hari ketiga, Arka pulang lebih awal.

Ia menemukan ibunya sedang duduk di dapur, memilah beberapa lembar tagihan rumah sakit. Wajah perempuan itu terlihat lelah.

“Ibu sakit?” tanya Arka.

Ibunya segera menyembunyikan kertas-kertas tersebut.

“Tidak, Sayang. Ibu cuma sedikit capek.”

Arka terdiam. Selama ini, ia selalu menganggap ibunya akan baik-baik saja. Ia terlalu sibuk memikirkan masa depan hingga tidak pernah bertanya apakah orang-orang yang dicintainya masih memiliki cukup tenaga untuk menjalani hari ini.

Arka duduk di samping ibunya.

“Bu, maaf, ya. Aku jarang menemani Ibu.”

Ibunya menoleh, lalu tersenyum.

“Kenapa tiba-tiba bilang begitu?”

“Karena aku merasa sudah terlalu lama pergi, padahal aku selalu ada di rumah.”

Ibunya tidak menjawab. Ia hanya memeluk Arka.

Pelukan itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti sesuatu yang hampir hilang dari dunia.

Malamnya, Arka kembali membuka jam saku.

Tulisan baru muncul di permukaan peraknya.

HARI KETIGA: Kau tidak harus menjadi luar biasa untuk layak dicintai.

Arka menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berusaha terlihat kuat.

Hari keempat, Arka menemui Dimas.

Ia menemukan sahabatnya duduk sendirian di belakang sekolah, menatap lapangan yang mulai sepi.

“Aku boleh duduk di sini?” tanya Arka.

Dimas menoleh.

“Maaf, kita kenal?”

Pertanyaan itu kembali menghantam Arka.

Namun kali ini, ia tidak marah.

“Aku Arka. Mungkin kamu tidak ingat aku, tetapi aku ingat kamu.”

Dimas mengangkat bahu.

“Kalau begitu, salam kenal.”

Arka duduk di sampingnya. Mereka terdiam beberapa saat sebelum Arka memberanikan diri bertanya, “Kamu sedang punya masalah?”

Dimas menatapnya curiga.

“Kenapa kamu peduli?”

Pertanyaan itu membuat Arka kehilangan kata-kata.

Dahulu, Dimas berkali-kali mengirim pesan kepadanya. Arka selalu menjawab singkat, terkadang bahkan tidak membalas sama sekali. Ia baru sadar bahwa selama ini sahabatnya mungkin sedang mencari seseorang untuk mendengarkan, bukan seseorang yang bisa menyelesaikan semua masalahnya.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi,” kata Arka akhirnya. “Tapi kalau kamu ingin bercerita, aku mau mendengarkan.”

Dimas menatapnya cukup lama.

Kemudian, perlahan, ia mulai bercerita tentang ayahnya yang kehilangan pekerjaan dan ibunya yang harus berjualan lebih lama untuk membayar kebutuhan keluarga.

Arka mendengarkan tanpa menyela.

Hari itu, mereka tidak membicarakan nilai, peringkat, ataupun masa depan.

Mereka hanya duduk bersama sampai matahari terbenam.

Sebelum pulang, Dimas tersenyum.

“Aneh, ya. Rasanya aku seperti pernah punya sahabat yang mirip kamu.”

Arka tersenyum tipis.

“Mungkin kamu memang pernah.”

Ketika ia membuka jam saku, jarumnya bergerak satu putaran penuh.

Hari kelima, Nara membawa Arka ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.

Sebuah perpustakaan tanpa ujung, dipenuhi jutaan buku yang melayang. Setiap buku berisi kehidupan seseorang: keputusan yang pernah dibuat, kesempatan yang dilewatkan, serta masa depan yang mungkin terjadi.

Di salah satu rak, Arka menemukan sebuah buku dengan namanya sendiri.

Ia membukanya.

Halaman pertama memperlihatkan dirinya sepuluh tahun mendatang. Ia berhasil masuk universitas impiannya, memperoleh pekerjaan bergengsi, dan memiliki rumah besar.

Namun, halaman-halaman berikutnya membuat dadanya sesak.

Ia makan sendirian. Ia pulang ke rumah yang sunyi. Ibunya menua tanpa banyak percakapan dengannya. Ayahnya tidak lagi ada di sana. Dimas menjalani kehidupan yang tidak pernah ia ketahui.

Arka membalik halaman dengan tangan gemetar.

Di bagian terakhir tertulis:

Arka mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi kehilangan kesempatan untuk menikmati hal-hal yang pernah dimilikinya.

Ia menutup buku itu keras-keras.

“Ini tidak akan terjadi!”

Nara menatapnya dengan tenang.

“Bisa jadi tidak. Masa depan bukan hukuman yang sudah ditetapkan. Ia adalah kumpulan kemungkinan yang dibentuk oleh pilihanmu.”

“Kalau begitu, bagaimana cara mengubahnya?”

“Berhentilah memperlakukan hidup seolah-olah kebahagiaan baru boleh dimulai setelah semua tujuanmu tercapai.”

Arka terdiam.

Ia selama ini mengira kebahagiaan berada di garis akhir. Ia akan bahagia setelah mendapatkan nilai sempurna, setelah menjadi orang sukses, setelah membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Padahal, ketika sibuk berlari menuju garis akhir, ia bahkan tidak sempat melihat siapa saja yang berjalan di sampingnya.

Hari keenam, kondisi ayah Arka memburuk.

Lelaki itu dibawa ke rumah sakit setelah mendadak kesulitan bernapas. Arka berlari menyusuri koridor dengan air mata yang terus jatuh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan ujian, tugas, ataupun masa depan.

Ia hanya ingin ayahnya membuka mata.

Ketika akhirnya diperbolehkan masuk, Arka duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, maafkan aku.”

Ayahnya membuka mata perlahan.

“Kenapa, Nak?”

“Aku terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menemani Ayah hari ini.”

Ayahnya tersenyum lemah.

“Kamu tidak perlu meminta maaf karena punya mimpi.”

Arka menunduk.

“Tapi aku lupa bahwa Ayah juga bagian dari hidupku.”

Ayahnya mengusap rambutnya.

“Dengar, Arka. Ayah tidak pernah ingin kamu berhenti berusaha. Ayah hanya ingin kamu tahu bahwa hidup bukan cuma tentang seberapa jauh kamu pergi. Hidup juga tentang siapa yang kamu ingat ketika kamu sudah sampai.”

Arka menangis di pangkuan ayahnya seperti anak kecil.

Ia tidak tahu berapa lama mereka duduk seperti itu. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar hadir.

Ketika malam tiba, Arka membuka jam saku.

Tulisan terakhir muncul di permukaan peraknya.

HARI KETUJUH: Tidak semua orang mendapatkan waktu sebanyak yang mereka inginkan. Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai.

Jam itu berdetak cepat.

Tik. Tik. Tik.

Lalu suara Nara terdengar di dalam pikirannya.

“Besok, kau akan menghilang.”

Pada hari ketujuh, Arka kembali ke Arunika.

Ia berdiri di depan menara dengan tujuh pintu. Enam pintu telah padam. Hanya satu yang masih bercahaya, memancarkan warna keemasan.

Nara menunggunya di sana.

“Aku sudah melakukan semuanya,” kata Arka. “Aku menemani Ibu. Aku mendengarkan Dimas. Aku meminta maaf kepada Ayah. Apa lagi yang harus kulakukan?”

Nara menatap jam saku di tangannya.

“Jawab satu pertanyaan. Jika kau bisa memilih, apakah kau ingin menjadi orang yang hebat dan dikenang semua orang, atau orang biasa yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa dicintai?”

Arka terdiam.

Dahulu, ia pasti memilih jawaban pertama tanpa berpikir panjang.

Namun kini, ia teringat wajah ibunya saat memeluknya. Ia teringat suara Dimas ketika mulai bercerita. Ia teringat tangan ayahnya yang menggenggam tangannya di rumah sakit.

“Aku ingin menjadi seseorang yang kehadirannya berarti,” jawab Arka. “Aku tetap ingin punya mimpi. Aku tetap ingin sukses. Tapi aku tidak mau kehilangan diriku sendiri hanya untuk mencapainya.”

Nara tersenyum.

“Kalau begitu, kau sudah menemukan jawabanmu.”

Tiba-tiba, jam saku itu terbuka dengan sendirinya. Cahaya keemasan menyelimuti tubuh Arka, membuatnya sulit melihat apa pun.

“Tunggu!” serunya. “Apa aku masih akan menghilang?”

Nara mengangguk pelan.

“Arka yang lama harus menghilang. Arka yang baru harus belajar hidup.”

Cahaya itu semakin terang.

Arka merasa tubuhnya terangkat, kemudian jatuh ke dalam keheningan.

Ketika membuka mata, Arka sudah berada di kamarnya.

Sinar matahari menyelinap melalui jendela. Burung-burung berkicau di luar. Tidak ada kota ungu, menara ajaib, ataupun gadis bermata keemasan.

Jam saku itu tergeletak di atas meja.

Jarumnya bergerak normal.

Arka segera berlari ke kamar orang tuanya. Ibunya sedang merapikan tempat tidur, sementara ayahnya duduk di kursi dekat jendela.

Keduanya menoleh ketika Arka masuk.

“Ada apa, Nak?” tanya ibunya.

Arka memeluk mereka tanpa berkata-kata.

Ia tidak tahu apakah perjalanannya ke Arunika benar-benar terjadi atau hanya mimpi yang terasa terlalu nyata. Ia juga tidak tahu apakah masa depannya telah berubah.

Namun, ia tahu satu hal: ia tidak ingin kembali menjadi orang yang sama.

Hari itu, Arka mengajak ayahnya berjalan-jalan di halaman rumah. Ia membantu ibunya memasak, lalu mengirim pesan kepada Dimas untuk mengajaknya bertemu.

Ia tetap belajar. Ia tetap mengejar cita-citanya.

Bedanya, kini ia tidak lagi menganggap setiap menit yang digunakan untuk mencintai orang lain sebagai waktu yang terbuang.

Beberapa minggu kemudian, Arka menemukan sebuah kertas kecil di dalam jam saku.

Tulisan di atasnya tampak seperti tulisan tangan Nara.

Waktu tidak memberimu kesempatan kedua untuk mengulang semuanya. Waktu memberimu kesempatan untuk menjalani hari berikutnya dengan cara yang berbeda.

Arka tersenyum.

Ia meletakkan kertas itu di dalam buku catatannya, tepat di halaman pertama.

Di bawahnya, ia menuliskan sebuah kalimat:

“Aku tidak ingin dikenang sebagai orang yang berhasil menaklukkan dunia. Aku ingin dikenang sebagai seseorang yang tidak lupa mencintai orang-orang di dalamnya.”

Di luar jendela, matahari perlahan naik.

Dan untuk pertama kalinya, Arka tidak bertanya berapa lama waktu yang ia miliki.

Ia hanya membuka pintu rumah, melangkah keluar, dan mulai menjalani hari itu.

Sebab akhirnya ia mengerti, kehidupan bukanlah tentang berapa banyak waktu yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang berapa banyak kehidupan yang berhasil kita sentuh selama waktu itu masih menjadi milik kita.