Ponsel Ibu mati tiga hari sebelum hari ulang tahunnya.
Layarnya menghitam, tak bisa dinyalakan lagi. Di dalamnya ada ribuan foto: ulang tahun, suasana saat lebaran, wajah Ayah sebelum meninggal, dan foto-foto kecil yang sering kami ambil tanpa alasan.
“Yah, tinggal beli HP baru, Bu,” kataku sambil membolak-balik ponsel itu.
Ibu tersenyum tipis. “Kalau HP-nya baru, fotonya ikut baru juga?”
Aku tertawa. Waktu itu kupikir Ibu hanya sedang bercanda.
Selama ini, bagiku, foto hanyalah gambar yang memenuhi penyimpanan. Kalau memori penuh, kuhapus. Kalau ingin mengenang sesuatu, tinggal menggulir galeri. Praktis. Cepat. Tak perlu lemari khusus atau kertas yang menguning dimakan waktu.
Ibu berbeda. Ia masih menyimpan kamera digital lama dan beberapa album foto tebal di lemari ruang tengah. Sampulnya kusam, sudutnya mengelupas, dan halamannya berbau kertas lama.
Setiap kali aku pulang, Ibu selalu mengajakku untuk berbincang di ruang tengah dan suka membuka album itu sambil menunjukkan padaku.
“Lihat, ini kamu waktu pertama masuk sekolah, nak.”
“Ini waktu Ayah belajar masak. Gosong semua, tapi dia bilang itu ayam panggang.”
Aku biasanya hanya tertawa sebentar, lalu kembali menatap ponsel.
“Bu, sekarang semua sudah ada di HP. Album begini bikin rumah penuh,” kataku perlahan.
Ibu menutup album perlahan. “Kalau begitu, jangan sampai kamu kehilangan semuanya.”
Aku menganggapnya nasihat biasa.
***
Sebulan kemudian, aku pulang setelah hampir setahun merantau. Pekerjaan membuatku sibuk; panggilan Ibu sering kujawab singkat, pesan-pesannya kubalas nanti. Aku selalu berpikir masih ada hari esok untuk bercerita lebih lama.
Di rumah, Ibu menyambutku dengan sup ayam kesukaanku. Rambutnya tampak semakin putih, langkahnya lebih pelan. Namun, ia tetap menyiapkan makan malam seperti dulu, seolah aku masih anak kecil yang baru pulang sekolah.
Malam itu, listrik padam. Kami duduk di ruang tengah ditemani cahaya lilin. Ibu mengambil sebuah album baru dari laci.
“Bantu Ibu melihat ini, ya.”
Di halaman pertama ada foto ulang tahunku saat berusia tujuh tahun. Aku meniup lilin, Ayah berdiri di belakangku, dan Ibu tertawa di sampingnya. Di halaman berikutnya, ada foto kami bertiga di pantai. Ayah menggendongku, sementara Ibu memegang sandal yang hanyut terseret ombak.
Aku tertawa melihat rambut Ayah yang berantakan.
“Dulu Ayah paling susah disuruh foto,” kataku.
“Iya. Katanya, yang penting momennya, bukan gambarnya.”
Aku terdiam. Kalimat itu terdengar begitu akrab, tetapi sudah lama tak kudengar.
Kami membuka halaman demi halaman album. Ada foto masakan pertama yang kubuat, foto kelulusan, bahkan foto Ibu tertidur di sofa dengan kacamata masih menempel di hidung. Di bawah beberapa foto, ada tulisan kecil dengan tinta biru.
Hari ini kamu pulang dengan nilai bagus. Ibu tahu kamu sudah berusaha keras.
Hari ini kamu menangis karena gagal. Semoga besok kamu lebih berani mencoba.
Aku menatap Ibu. “Ibu menulis semua ini?”
Ia mengangguk. “Supaya nanti, kalau kamu lupa, kamu bisa ingat lagi.”
Aku tersenyum, lalu melanjutkan membuka halaman berikutnya.
Namun, di bagian paling belakang, aku menemukan sesuatu yang berbeda: foto Ibu sendirian di depan rumah sakit. Wajahnya pucat, senyumnya dipaksakan. Di belakang foto itu tertulis tanggal dan hari ketika aku seharusnya menemaninya menjalani pemeriksaan, tetapi memilih lembur karena mengejar promosi.
Dadaku mendadak sesak..
“Bu, ini hari Ibu ke rumah sakit sendirian?”
Ibu merapikan ujung selimut yang ada di pangkuannya. “Iya. Tapi tidak apa-apa, nak. Kamu sedang berjuang untuk masa depanmu.”
Aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak tahu pemeriksaannya seserius itu. Aku ingin meminta maaf. Namun, kata-kataku tertahan ketika Ibu menyodorkan satu amplop kecil yang terselip di sampul belakang.
Di dalamnya ada foto terakhir Ayah, sedang duduk di ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Ibu. Di bawah foto itu, tulisan tangan Ayah masih terbaca dengan tinta hitam yang jelas:
"Kalau suatu hari aku tidak bisa menemani kalian, cetaklah foto-foto kita. Jangan biarkan kenangan hanya tinggal di benda yang bisa hilang. Dan, Bu, kalau anak kita terlalu sibuk, ingatkan dia bahwa pulang juga bagian dari hidup."
Aku menutup mulut rapat-rapat. Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.
Ibu mengusap punggung dan memeluk ku.
“Ayah menulis itu beberapa hari sebelum ia pergi,” katanya.
“Sejak saat itu, Ibu mencetak foto-foto kita. Ibu takut suatu hari kamu lupa suara tawanya. Ibu juga takut kamu lupa jalan pulang yang sebenernya.”
Malam itu aku menangis lama. Bukan hanya karena Ayah, bukan hanya karena foto-foto lama, tetapi karena menyadari berapa banyak momen yang hampir kulewatkan saat sibuk mengejar hari esok.
***
Beberapa minggu kemudian, aku membawa album itu ke tempat kerjaku di kota. Aku mencetak foto-foto baru: Ibu menyiram tanaman, kami makan sup ayam, dan potret kami di depan rumah dengan senyum bahagia.
Di bawah foto terakhir, kutulis:
Hari ini aku pulang. Ternyata, rumah masih menungguku.
Kini, setiap kali ponselku penuh atau layarnya membeku, aku tak lagi panik. Aku tahu ada hal-hal yang tak bisa digantikan oleh perangkat baru: kertas yang bisa disentuh, tulisan tangan yang bisa dibaca berulang kali, dan wajah-wajah yang membawa kita kembali ke mesin waktu.
Aku masih menyimpan foto di ponsel. Namun, beberapa foto kucetak dan kususun dalam album, satu demi satu.
Sebab aku akhirnya mengerti: kita mengambil foto agar bisa mengingat kejadian itu. Dan ketika kita memilih untuk mencetaknya, berarti kita memberikan kenangan memiliki tempat untuk tinggal. Selamanya.
Dan kadang, ketika seseorang sudah tak bisa kita peluk lagi, selembar foto menjadi cara paling sederhana untuk pulang.
Baca Juga
-
Hobi Ngopi dan Rebahan Habis Makan? Waspada Ancaman GERD yang Kini Mengintai Anak Muda
-
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
-
Jangan Tunggu Akun Kebobolan! Kenali 8 Tanda HP Disadap dan Disusupi 'Malware'
-
Mengenal Makna Spiritual Angka Jawa, Pengingat Bijak Bahwa Hidup Ada Batasnya
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Jangan Anggap Remeh Trailer Kusuriya Season 3, Semua Adegan Punya Petunjuk
-
Selamat! Billy Bat Karya Naoki Urasawa Menang Best Manga Harvey Awards 2026
-
Review Other Mommy: Saat Horor Mencekam Dirusak oleh Jumpscare Murahan
-
Rehat Sejenak, 5 Tips Menikmati Akhir Pekan Tanpa Perlu Merasa Bersalah
-
Samsung Galaxy A27 5G: HP Rp5 Jutaan dengan Snapdragon 6 Gen 3, Apa Saja Kelebihannya?