M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Seorang nenek dan gadis muda membaca buku bersama di lingkungan dalam ruangan yang nyaman, mendukung pendidikan dan ikatan. (Pexels)
Atalie June Artanti

Bangun pagi, mengejar target, menyelesaikan pekerjaan, olahraga, belajar hal baru, dan masih merasa ada hal yang harus dilakukan sebelum tidur. Ya, di media sosial, ketika satu hari kita punya aktivitas yang pada barulah dikatakan sebagai sebuah pencapaian.

Namun, di tengah budaya yang mendorong anak muda untuk terus produktif dan mengoptimalkan diri, muncul tren yang justru menawarkan sesuatu yang berbeda: hidup sedikit lebih pelan.

Namanya nonna maxxing.

Tren ini mengambil inspirasi dari kehidupan nonna, sebutan untuk nenek dalam bahasa Italia. Alih-alih mengejar rutinitas yang serba terukur, nonna maxxing mengajak anak muda menikmati hal-hal sederhana seperti memasak makanan rumahan, membaca, berjalan kaki, berkebun, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan sesekali menjauh dari layar.

Kedengarannya sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana.

Tapi justru itu yang membuatnya menarik.

Ketika Tidak Semua Hal Harus Produktif

Istilah nonna maxxing mulai ramai di media sosial pada 2026. Salah satu momen yang ikut memopulerkannya datang dari akun skincare organik @tallowtwins.

Pada 24 Februari 2026, akun tersebut mengunggah konten bertema “nonna summer” yang menggambarkan kehidupan ala nenek Italia: memasak dengan bahan segar, menyiapkan makanan untuk orang tersayang, menggunakan resep tradisional, serta mengurangi waktu di media sosial.

Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian besar dan istilah nonna maxxing ikut menyebar di media sosial.

Meski begitu, gagasan untuk menjalani hidup seperti “nenek” sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebelumnya sudah ada berbagai tren yang mengajak orang kembali ke kehidupan yang lebih sederhana, seperti cottagecore dan estetika “Mediterranean grandma”.

Yang membuat nonna maxxing terasa berbeda adalah penekanannya pada kebiasaan sehari-hari, bukan hanya penampilan.

Memasak, berjalan kaki, berkebun, membaca buku fisik, membuat kerajinan tangan, atau sekadar duduk menikmati sore tidak harus selalu memiliki tujuan besar.

Kadang, melakukannya karena memang ingin menikmati waktu sudah cukup.

Jalan Kaki Tidak Harus Mengejar Target

Salah satu hal menarik dari tren ini adalah cara pandangnya terhadap aktivitas sehari-hari.

Jalan kaki tidak harus selalu dilakukan demi mengejar jumlah langkah tertentu. Memasak tidak harus selalu menjadi konten. Berkebun tidak harus menghasilkan sesuatu yang bisa dijual. Membaca buku juga tidak harus selalu dilakukan hanya sekadar meningkatkan produktivitas.

Ada ruang untuk melakukan sesuatu hanya karena kita menikmatinya.

Semangat ini berkaitan dengan konsep Italia dolce far niente, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai “nikmatnya tidak melakukan apa-apa”. Gagasan tersebut menggambarkan kemampuan untuk menikmati waktu tanpa merasa harus selalu sibuk atau menghasilkan sesuatu.

Bukan berarti bermalas-malasan sepanjang hari.

Justru kehidupan para nonna yang menjadi inspirasi tren ini juga dipenuhi aktivitas. Mereka memasak, merawat keluarga, berkebun, bekerja, berjalan kaki, dan melakukan berbagai pekerjaan rumah.

Bedanya, aktivitas tersebut tidak selalu dibungkus dengan tuntutan untuk menjadi lebih produktif dari hari sebelumnya.

Masak Sendiri, Makan Bareng

Kalau ada satu aktivitas yang paling lekat dengan nonna maxxing, mungkin jawabannya adalah memasak.

Bukan sekadar membuat makanan yang terlihat cantik untuk diunggah ke media sosial, tetapi benar-benar kembali ke dapur. Menyiapkan bahan, mengikuti resep keluarga, membuat pasta, menggunakan bahan musiman, lalu menyantapnya bersama orang lain.

The Washington Post menyoroti Grazia Incampo dan Teresa Calia, dua perempuan Italia berusia 90 dan 88 tahun yang menjadi salah satu wajah tren nonna maxxing. Keduanya berbagi aktivitas memasak dan cerita tentang kehidupan mereka di Altamura, Italia.

Bagi mereka, makanan bukan hanya soal apa yang ada di piring. Ada kebiasaan, keluarga, cerita, dan hubungan yang ikut hadir di dalamnya.

Hal sederhana seperti makan bersama akhirnya menjadi pengalaman sosial, bukan sekadar aktivitas untuk mengisi perut.

Mungkin ini pula yang membuat kebiasaan tersebut terasa menarik bagi generasi yang semakin akrab dengan layanan pesan antar dan segala sesuatu yang bisa dilakukan lewat layar.

Ada kepuasan tersendiri ketika membuat sesuatu dengan tangan sendiri, lalu menikmatinya bersama orang lain.

Ternyata Bukan Cuma Soal Pasta dan Dress Bunga

Kalau hanya melihat versi nonna maxxing yang beredar di TikTok dan Instagram, tren ini memang terlihat seperti estetika baru.

Ada gaun panjang, alas kaki yang nyaman, scarf, meja makan penuh makanan, pasta buatan sendiri, sampai suasana rumah yang terlihat hangat.

Namun, daya tarik tren ini sebenarnya lebih dari sekadar penampilan.

Ada keinginan untuk kembali melakukan aktivitas yang terasa nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bertemu keluarga. Mengobrol dengan tetangga. Membaca tanpa terganggu notifikasi. Memasak bersama. Berjalan kaki tanpa harus terus melihat layar.

Bahkan, tren ini kini berkembang hingga ke dunia perjalanan.

BBC melaporkan bahwa sebagian wisatawan mulai mencari pengalaman yang memungkinkan mereka belajar langsung dari perempuan lanjut usia di Italia. Mereka bisa mengikuti kegiatan seperti belajar membuat pasta, memasak makanan tradisional, atau mengenal kebiasaan lokal.

Jadi, yang dicari bukan hanya tempat wisata, tetapi juga pengalaman dan interaksi antargenerasi.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, mungkin ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kita belajar langsung dari orang yang memiliki pengalaman hidup puluhan tahun.

Ada Sisi Ironisnya Juga

Namun, nonna maxxing bukan tanpa ironi.

Bagaimana mungkin tren yang mengajak orang mengurangi media sosial justru menjadi populer melalui media sosial?

Bagaimana mungkin konsep “jangan terlalu sibuk menjadi produktif” akhirnya berubah menjadi sesuatu yang juga harus diikuti?

Pertanyaan seperti ini ikut muncul dalam pembahasan mengenai tren tersebut.

Selain itu, ada risiko romantisasi kehidupan para nonna. Gambaran nenek Italia yang selalu santai, memasak pasta, berkebun, dan menikmati hidup tentu tidak mewakili seluruh kehidupan perempuan Italia dari generasi tersebut.

Banyak dari mereka juga menjalani kehidupan yang penuh pekerjaan dan tanggung jawab.

Karena itu, nonna maxxing lebih menarik jika dipahami sebagai inspirasi, bukan aturan hidup yang harus ditiru mentah-mentah.

Tidak perlu pindah ke Italia atau tiba-tiba memasak pasta setiap hari untuk mengikuti tren ini.

Ambil bagian yang memang cocok dengan kehidupan sendiri.

Mungkin Bukan Malas, Hanya Ingin Hidup Lebih Perlahan
Pada akhirnya, nonna maxxing bukan berarti anak muda harus berhenti mengejar pendidikan, pekerjaan, atau cita-cita.

Produktivitas tetap punya tempat. Ambisi juga bukan sesuatu yang harus dibuang.

Namun, tren ini memperlihatkan adanya ketertarikan pada keseimbangan. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan selalu terhubung, sebagian anak muda mulai mencari kembali aktivitas yang tidak harus menghasilkan pencapaian.

Tidak semua hobi harus menjadi sumber uang.

Tidak semua kegiatan harus menjadi konten.

Tidak semua waktu luang harus diisi dengan sesuatu yang “berguna”.

Memasak makanan kesukaan, membaca beberapa halaman buku, berjalan sore, merawat tanaman, atau mengobrol lama dengan keluarga mungkin tidak terlihat spektakuler di media sosial.

Tapi bukan berarti semuanya tidak berarti.

Intinya adalah: kita tidak harus selalu melakukan sesuatu untuk pantas menikmati hidup.