Sejak kecil, aku dilarang mengatakan, “Aku tidak bisa.”
Kalau kalimat itu sampai keluar dari mulutku dan Ibu mendengarnya, Ibu akan menghentikan apa pun yang sedang dikerjakannya. Ia akan menatapku, menunjuk benda yang gagal kugapai, simpul tali yang belum berhasil ku ikat, atau peta yang membuatku kebingungan.
“Coba sekali lagi.”, bisikku.
Begitulah masa kecilku berjalan.
Ketika teman-temanku bermain layangan, aku belajar membaca arah angin. Ketika mereka tidur siang, aku berlatih berenang di sungai belakang rumah. Aku pernah mengikuti lomba pidato, menari di panggung kecamatan, menghafal puisi, bahkan tersesat dalam permainan mencari jejak yang menurutku sama sekali tidak masuk akal.
Aku perempuan satu-satunya di antara beberapa anak laki-laki yang mengikuti latihan orientasi alam di kampung kami. Setiap kali aku tertinggal, Ibu tidak akan menyusul untuk menjemputku.
Ia hanya berdiri di garis akhir.
“Perempuan juga boleh takut,” katanya. “Tapi jangan biarkan takut menentukan jalanmu.”, sambung Ibu.
Aku tidak menyukai kalimat itu. Karena aku merasa saat itu Ibu bukan sedang mengajariku keberanian, Ia hanya tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjadi anak kecil seperti selayaknya yang lain.
Aku pernah membuang sepatu latihan ke belakang lemari. Aku juga pernah sengaja gagal dalam sebuah perlombaan agar Ibu berhenti mendaftarkanku ke kegiatan berikutnya.
Namun, tak lama kemudian, sepasang sepatu baru selalu muncul di depan pintu kamarku.
Dan ya, Aku tumbuh dengan dua hal yang saling bertentangan: keinginan untuk menjauh dari Ibu dan kebiasaan mengikuti semua yang ia ajarkan.
***
Ketika diterima di universitas di seberang pulau, aku mengira akhirnya aku bebas setelah sekian lama.
Aku meninggalkan rumah dengan koper biru dan selembar peta kota yang dilipat Ibu menjadi empat bagian. Di sudutnya, ia menulis dengan tinta hitam: Jika jalan pertama tertutup, cari jalan kedua.
Aku menertawakannya dan merasa hanya sebuah kalimat yang tidak bermakna.
Di kota baru, aku belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas. Bagaimana mengatur uang ketika kiriman terlambat. Bagaimana pulang sendirian setelah kendaraan terakhir lewat. Bagaimana menahan tangis di toilet kampus sebelum kembali menghadapi presentasi.
Suatu malam, aku menerima kabar bahwa beasiswaku terancam dicabut karena satu berkas yang tidak pernah sampai ke bagian administrasi.
Aku panik. Semua rencanaku seperti rumah kartu yang disentuh angin. Hancur lebur.
Tanganku hampir menekan nomor Ibu, tetapi berhenti di tengah jalan.
Aku membuka laptop, mencari alamat kantor yang harus kudatangi, menyusun dokumen pengganti, lalu membuat tiga kemungkinan jika permohonanku ditolak.
Dua hari kemudian, masalah itu selesai.
Untuk pertama kalinya, aku merasa telah memenangkan sesuatu yang tidak memiliki piala.
Malam itu aku menelepon Ibu.
“Bu, ternyata aku bisa mengurus semuanya sendiri.”
“Memangnya selama ini kamu mengurus semuanya dengan siapa?” tanyanya.
Aku tertawa. Ibu juga tertawa. Percakapan kami berakhir sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku merindukannya.
***
Tiga tahun kemudian, sebuah badai memutus jalur listrik dan komunikasi di kampung halamanku.
Aku sedang menjalani ujian akhir ketika tetangga mengirim pesan singkat: air sungai naik, beberapa rumah di dekat bantaran mulai dievakuasi. Pesan berikutnya tidak pernah masuk lagi padaku.
Rumah kami berdiri tidak jauh dari sungai itu.
Aku mencoba menghubungi Ibu berkali-kali. Tidak tersambung.
Aku bisa saja menunggu kabar, tetapi bayangan tentang rumah yang perlahan ditelan air membuatku tidak sanggup duduk diam. Dengan sisa uang tabungan, aku mencari kendaraan menuju kota terdekat dengan kampungku. Jalan utama ditutup. Aku mencari jalur lain, menghubungi teman lamaku, dan akhirnya menumpang kendaraan relawan yang hendak mengantar bantuan.
Di perjalanan, hujan memukul kaca seperti kerikil. Deras.
Aku teringat semua latihan yang dulu kubenci: membaca peta, mengenali jalur alternatif, berenang melawan arus, dan tetap berpikir ketika orang lain mulai panik.
Semua itu terasa seperti potongan-potongan kecil yang selama bertahun-tahun disusun oleh seseorang tanpa pernah memberitahuku gambar apa yang akan terbentuk.
Ketika tiba, air telah menggenangi halaman rumah.
Ibu tidak ada di sana.
Aku mencarinya di pos pengungsian, sekolah, dan rumah tetangga. Sampai akhirnya seorang anak kecil menarik ujung jaketku.
“Kakak cari Bu Ratri?”
Aku mengangguk.
Anak itu menunjuk ke bangunan balai desa. Di sana, Ibu duduk dengan kaki terbalut kain, membagikan makanan kepada anak-anak yang menangis. Rambutnya basah, wajahnya pucat, tetapi kedua tangannya bergerak cepat.
Saat melihatku, ia terdiam.
Aku berlari memeluknya.
“Ibu kenapa tidak menghubungiku?”
“Tidak ada sinyal,” jawabnya sederhana dan langsung segera melepas pelukanku karena harus kembali membagikan makanan.
Aku ingin marah. Ingin bertanya mengapa ia selalu membuatku belajar menghadapi segala sesuatu, tetapi tidak pernah mengajariku bagaimana menghadapi kemungkinan jika harus kehilangan dirinya.
Namun, sebelum aku sempat bicara, seorang relawan datang membawa sebuah tas kain yang ditemukan di rumah kami.
“Ibu yang tadi menyelamatkan tasnya duluan,” katanya sambil tersenyum. “Katanya isinya penting sekali.”
Aku membuka tas itu.
Di dalamnya ada kotak besi kecil, berkarat di bagian sudut. Aku mengenalinya sebagai kotak tempat Ibu menyimpan surat-surat penting. Namun, di antara dokumen keluarga, ada setumpuk kertas yang diikat pita biru.
Sertifikat lombaku.
Semuanya ada di sana, bahkan piagam yang pernah kusobek karena kalah.
Di bagian paling bawah, terselip sebuah peta lama dengan tulisan tangan Ibu di sudutnya.
Untuk anakku, yang semoga suatu hari bisa menemukan jalan pulang, bahkan ketika Ibu tidak lagi bisa menunjukkan arahnya.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Hujan di luar masih turun, tetapi aku tidak lagi mendengarnya.
Selama bertahun-tahun, aku mengira Ibu melatihku agar tidak pernah membutuhkan orang lain. Ternyata, ia hanya ingin memastikan bahwa jika suatu hari kami terpisah oleh sesuatu yang tidak bisa kami kendalikan, aku tetap tahu cara menemukan jalan.
Aku menatap Ibu. Ia sedang membantu seorang anak mengikat tali sepatunya, sabar seperti yang tidak pernah kuingat ia lakukan kepadaku.
“Bu,” panggilku.
Ia menoleh.
“Besok, ajari aku mengikat tali lagi.”
Ibu mengernyit. “Kamu kan sudah bisa.”
Aku menggeleng, menahan air mata.
“Ajari saja.”
Kali ini, Ibu tidak menyuruhku mencoba sendiri. Ia duduk di sampingku, mengambil tali sepatu dari tanganku, lalu menunjukkan simpul itu perlahan-lahan.
Di luar, air masih mengalir melewati jalan yang kami kenal sejak kecil. Ada rumah-rumah yang rusak, barang-barang yang hanyut, dan banyak hal yang mungkin tidak akan kembali seperti semula.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menjadi orang paling kuat di ruangan itu.
Aku membiarkan Ibu menggenggam tanganku. Dan akhirnya aku mengerti:
Ia sedang membesarkan seseorang yang bahkan ketika tersesat, akan tetap berani mencari jalan pulang meski sendirian.
Baca Juga
-
Menyelami Dunia Filateli, Saat Sejarah dan Kisah Dunia Tersimpan dalam Prangko
-
Seni Menikmati Hidup Tanpa Harus Produktif Lewat Tren "Nonna Maxxing"
-
Sebelum Lupa, Sebelum Tiada
-
Hobi Ngopi dan Rebahan Habis Makan? Waspada Ancaman GERD yang Kini Mengintai Anak Muda
-
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
-
Menyelami Dunia Filateli, Saat Sejarah dan Kisah Dunia Tersimpan dalam Prangko
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
-
Viral Video Balita Ditinggal di Tenda Gunung Prau, Mengapa Kita Tak Boleh Asal Menghakimi?
-
Lewat Tembang Pangkur, Warga Pracimantoro Merawat Perjuangan Lawan Tambang