A Man Called Otto adalah film drama komedi yang rilis di Indonesia pada 13 Januari 2023. Film ini disutradarai oleh Marc Forster dan ditulis oleh David Magee. Otto Anderson, yang merupakan tokoh utama, dibintangi oleh Tom Hanks.
Otto Anderson merupakan seorang pria berusia 63 tahun, tempat tinggalnya berada di pinggiran kota Pittsburgh, Pennsylvania. Otto baru saja kehilangan istrinya yang bernama Sonya enam bulan lalu, yang membuat dirinya menjadi egois dan pemarah. Menurut pandangannya, semua orang itu pengganggu. Semua yang orang lain lakukan adalah salah.
Hal-hal yang remeh-temeh dapat membuat Otto marah. Seperti ketika ia membeli tali di sebuah toko. Saat ingin membayar, ia tidak terima karena tali yang dibelinya berukuran panjang 1,7 meter, sedangkan ia harus membayar seharga 2 meter. Petugas kasir pun berusaha menjelaskan bahwa tali dijual per meter, jadi, tali 1,7 meter otomatis dihitung 2 meter. Otto mengamuk hingga meminta kasir memanggilkan manajer toko tersebut.
Selain itu, sampah-sampah yang berserakan, sepeda yang parkir sembarangan, bahkan kucing pun dapat menyulut emosinya. Semangat hidupnya hilang usai meninggalnya sang istri. Otto tidak memiliki tujuan hidup. Berkali-kali ia ingin mengakhiri hidup, namun selalu gagal.
Suatu hari, Otto melihat di depan rumahnya terlihat sepasang suami istri yang bernama Tommy dan Marisol sedang kesulitan memarkirkan mobil. Karena berisik, Otto kesal lalu menghampiri mereka dan dengan terpaksa ikut membantu. Ternyata mereka adalah tetangga barunya.
BACA JUGA: Review Film Sleep, Ketika Trauma Gangguan Tidur Menghantui Pengantin Baru
Sebuah keluarga dengan dua orang anak bernama Abby dan Luna. Tidak lama kemudian, suami istri itu mengunjungi Otto dan membawakan makanan sebagai salam perkenalan sebagai tetangga baru. Respon Otto cuek dan dingin. Tetapi tak disangka, kelak keluarga Tommy lah yang membuat hidup Otto lebih berwarna.
Keberadaan tetangganya itu perlahan-lahan memberikan cara pandang baru bagi Otto untuk memandang kehidupan yang selama ini diselimuti trauma, rasa kesepian, dan kehilangan yang begitu mendalam. Berbagai macam pertikaian juga sempat terjadi di antara Otto dan keluarga Tommy, namun justru itu membuat hubungan mereka semakin akrab. Keinginan bunuh dirinya pun hilang.
Banyak pelajaran dari film ini. Terutama tentang bagaimana kejadian traumatis dapat mempengaruhi cara pandang seseorang mengenai kehidupan. Sedangkan bagaimana memandang kehidupan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang itu sendiri.
Perubahan sikap Otto dan hubungannya dengan keluarga Tommy secara lengkap dapat disaksikan dalam film A Man Called Otto di Netflix.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review Jujur Sunscreen Wardah Acne Calming SPF 35 Selama 2 Bulan Pemakaian
-
Lagu Sampai Menutup Mata Mahalini Trending Satu, Ini Makna Liriknya!
-
Mengulas Makna Lagu Gala Bunga Matahari Sal Priadi, Menyayat Hati!
-
Review Novel 'Dia Adalah Kakakku' Karya Tere Liye: Bertaruh Nyawa Demi Adik
-
Review Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi: Alam Terkembang Menjadi Guru
Artikel Terkait
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop
-
Ulasan Film 4PM, Ketika Premis Sederhana Dieksekusi dengan Membahana
-
Apa Itu Manten Tebu? Tradisi yang Diangkat dalam Film Pabrik Gula
-
Nonton Film Jumbo dengan DANA Kaget Gratis Hari Ini, Simak Tutorialnya
-
5 Rekomendasi Film Baru dari Netflix untuk Rayakan Libur Lebaran 2025
Entertainment
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop
-
4 Drama Korea Terbaru di Netflix April 2025, Dari Thriller hingga Romansa!
-
5 Rekomendasi Film Baru dari Netflix untuk Rayakan Libur Lebaran 2025
-
4 Film Adaptasi Novel Stephen King yang Bisa Kamu Tonton di Netflix
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Ulasan Film 4PM, Ketika Premis Sederhana Dieksekusi dengan Membahana
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?