Anime memiliki basis kekuatan yang bermacam-macam. Tak hanya sihir yang bersumber pada elemen-elemen alam, ada juga basis kekuatan yang berkaitan erat dengan indera manusia. Salah satu contohnya adalah suara yang dihasilkan dari indera pengecap yang kemudian digunakan dan dikembangkan untuk memengaruhi indera pendengaran.
Karakter-karakter anime yang memanfaatkan suara sebagai basis kekuatan mungkin tak begitu populer sebab basis kekuatan ini sendiri pun sering diremehkan. Pada umumnya, mereka yang merupakan pengguna basis ini hanyalah karakter pendukung dalam anime. Namun, jika dilihat lebih luas, ada beberapa di antara mereka yang populer di kalangan penggemar meski bukan protagonis utama anime, contohnya adalah sebagai berikut.
1. Kyouka Jirou (Boku no Hero Academia)
Menjadi salah satu karakter pengguna basis kekuatan suara yang populer, Kyouka Jirou memiliki sebuah quirk bernama Earphone Jack Quirk, yang membuat jack headphone selalu menggantung di daun telinganya. Untuk melakukan serangan, dia akan menyambungkan jack headphone ke benda-benda di sekitarnya dan menyalurkan suara detak jantung melalui alat tersebut. Selain itu, dia juga bisa mendengarkan suara dengan volume sekecil apa pun.
2. Jigglypuff (Pokemon)
Saat berada dalam pertempuran, Jigglypuff akan menyanyikan lagu khasnya untuk membuat musuh-musuhnya tertidur. Dengan begitu, dia memiliki cukup waktu untuk menyiapkan dan mendaratkan serangan dahsyat yang sulit untuk dihindari, bahkan tak bisa dihalangi. Di luar medan pertempuran, dia menggunakan nyanyiannya untuk membuat orang tertidur, lalu menggambar wajah orang itu dengan iseng.
3. Rojuro Otoribashi (Bleach)
Jika bicara popularitas karakter, Rojuro Otoribashi memang tak begitu dikenal, tetapi anime asalnya, Bleach, adalah salah satu puncak shounen terhebat sepanjang masa. Dalam bentuk shikai-nya, zanpakuto miliknya mampu menampilkan serangan yang masing-masing namanya terindah dari musik. Sedangkan dalam bentuk bankai-nya, dia menciptakan lagu lengkap yang dapat dia gunakan untuk menciptakan ilusi fisik.
4. Scrathment Apoo (One Piece)
Disebut dengan Roar of the Sea, Scrathment Apoo tak hanya bertarung dengan suara, tetapi dia juga sosok musisi berbakat dan DJ yang terampil. Tak heran jika penggunaan kekuatannya menjadi lebih mematikan. Usai memakan Oto Oto no Mi, dia pun dapat mengubah tubuhnya menjadi alat musik yang bisa dia mainkan. Kemudian, suara yang dihasilkan dari alat musik tersebut mampu menciptakan berbagai macam efek, seperti kerusakan fisik pada targetnya.
5. Margarette Macaron (Mashle)
Margarette Macaron mampu menciptakan notasi musik yang diberi berbagai properti dan memiliki tujuan masing-masing. Setelah itu, dia akan menggunakan notasi musik sesuai dengan kegunaannya. Contohnya, ada notasi musik yang bertarung melawan musuhnya dan ada pula yang melindungi dirinya dari serangan. Selain itu, dia juga bisa menggunakan notasi musik untuk meredam kejatuhannya dari ketinggian.
Meskipun pengguna suara sering diremehkan dan dianggap tak populer, lima karakter anime di atas menampik semua anggapan itu. Mereka mampu bertarung dengan baik, berbekal basis kekuatan suara masing-masing. Nah, setelah membaca daftar di atas, adakah karakter favoritmu? Atau mungkin kamu mengetahui pengguna suara lain yang lebih populer dari mereka yang sudah tertera di atas?
Baca Juga
Artikel Terkait
Entertainment
-
Sinopsis Lets Begin Again, Drama Thailand Dibintangi Namtarn Pichukkana
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Salmokji dan Devil Wears Prada 2
-
Diisi Para Aktor Ternama, Netflix Produksi Film Politik Baru The Generals
-
Sempat Ramai, Sekuel Film Clueless Batal Dibuat
-
Tiket Ludes Sekejap! Fanmeeting NCT JNJM 'Duality' di Jakarta Tambah Hari
Terkini
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan