Dulu, tanda dimulainya kehidupan pada jam tiga pagi adalah keributan yang tulus. Ada bunyi hantaman tiang listrik yang ritmis, tabuhan galon bekas yang cempreng, hingga teriakan segerombolan anak muda dengan sarung melilit leher: "Sahuuuuuur, sahuuuuur!".
Suara-suara itu adalah alarm organik yang tidak bisa ditekan tombol snooze-nya. Ia memaksa kita terjaga, membuka jendela, dan menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam menunaikan lapar dan dahaga.
Namun, mari kita tengok wajah Ramadan di sekitar kita hari ini. Di banyak sudut perumahan urban, keriuhan itu pelan-pelan terkikis. Suasana sahur kini diselimuti kesunyian yang ganjil. Tidak ada lagi rombongan keliling, tidak ada lagi ketukan pintu tetangga. Sebagai gantinya, tanda dimulainya ritual sahur adalah pendar cahaya biru (blue light) yang menyeruak dari balik selimut, diikuti oleh dering telepon yang memecah sepi.
Intimasi Digital: Dari Kentungan ke Voice Call
Fenomena "digital sahur" telah melahirkan tren baru yang unik: Jasa Bangunin Sahur. Jika dulu kita dibangunkan oleh suara kolektif satu kampung, kini kita dibangunkan secara personal lewat voice call atau video call. Fenomena ini marak di media sosial, di mana orang-orang menawarkan jasa—baik sukarela maupun berbayar—untuk memastikan seseorang tidak melewatkan waktu imsak.
Ada pergeseran keintiman di sini. Wajah Ramadan kini berbentuk percakapan privat di seberang kabel sinyal. Kita tidak lagi menengok keluar jendela untuk melihat siapa yang lewat, melainkan menempelkan ponsel ke telinga sembari mata masih terpejam.
"Bangun, sudah jam tiga," ucap suara di ujung telepon. Inilah wajah Ramadan yang baru: sebuah koneksi yang sangat personal namun termediasi oleh perangkat dingin bernama smartphone. Kehangatan komunal yang dulu bersifat fisik, kini menyusut menjadi gelombang suara digital.
Fenomena ini bukan sekadar soal perubahan alat, melainkan pergeseran filosofis tentang bagaimana kita memaknai kebersamaan. Dulu, sahur adalah momen komunal—sebuah kontrak sosial tidak tertulis di mana warga saling menjaga agar tidak ada yang terlewat untuk makan. Sekarang, kontrak itu pindah ke aplikasi pesan instan.
Kalimat "Sahur, Gess!" di grup WhatsApp atau deretan panggilan tidak terjawab menjadi pengganti kentungan kayu. Kita merasa sudah "bersilaturahmi" hanya dengan memberikan reaksi emoji jempol atau membalas telepon singkat, sembari mulut mengunyah nasi dan mata tetap terpaku pada video pendek di TikTok atau Instagram.
Ada ironi yang lahir: kita merasa sangat terhubung dengan dunia luar melalui internet, tetapi di meja makan sahur, kita sering kali menjadi asing bagi orang di sebelah kita. Wajah Ramadan yang dulu penuh dengan obrolan hangat di atas piring, kini berganti menjadi wajah-wajah tertunduk yang disinari layar ponsel.
Menjadi Kesunyian yang Riuh
Digitalisasi Ramadan juga mengubah cara kita memandang ibadah. Di satu sisi, teknologi mempermudah segalanya. Aplikasi jadwal imsakiyah memastikan kita tidak telat berhenti makan, dan panggilan telepon dari orang tersayang memastikan kita tidak kesepian saat bersantap. Namun, di sisi lain, teknologi membawa "keriuhan" yang mengganggu kekhusyukan.
Ramadan seharusnya menjadi momen khalwat—menyepi dari hiruk-pikuk dunia untuk mendekat kepada Sang Pencipta. Namun, dengan ponsel di tangan, "dunia" itu justru kita bawa masuk hingga ke atas sajadah.
Godaan untuk mengecek jumlah like atau membalas chat panggilan sahur sering kali lebih kuat daripada keinginan untuk berlama-lama dalam zikir. Wajah Ramadan kita menjadi wajah yang terdistraksi. Kita hadir secara fisik di bulan suci, tetapi pikiran kita mengembara di belantara informasi yang tidak ada habisnya.
Menemukan Kembali "Wajah" yang Hilang
Lantas, apakah Ramadan digital ini buruk? Tidak sepenuhnya. Teknologi adalah keniscayaan, dan ia memiliki sisi kasih yang mengharukan. Bagi seorang anak rantau yang rindu masakan rumah, atau pasangan yang terpisah ribuan kilometer oleh tuntutan kerja, dering call sahur adalah satu-satunya jembatan yang menjaga mereka tetap "waras" di tengah kesepian. Di sana, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan perpanjangan tangan dari rasa sayang yang tidak mampu menempuh jarak.
Namun, yang perlu kita waspadai adalah hilangnya "nyawa" dari ritual itu sendiri jika kita terlalu bergantung padanya. Jika Ramadan hanya menjadi ajang pamer kesalehan digital atau sekadar perpindahan jam makan yang ditemani gawai, maka kita kehilangan esensi terdalamnya.
Mungkin, cara anti-mainstream untuk merayakan Ramadan tahun ini adalah dengan sesekali "memadamkan" wajah digital kita. Cobalah untuk meletakkan ponsel saat sahur, mendengarkan kembali suara alam atau desis angin fajar, dan benar-benar menatap wajah keluarga di depan kita secara langsung. Menyadari bahwa keberkahan tidak turun melalui sinyal 4G, melainkan melalui kehadiran hati yang utuh.
Wajah Ramadan di sekitar kita mungkin sudah berubah menjadi lebih modern, lebih praktis, dan lebih personal lewat layar. Namun, jangan biarkan ia menjadi dingin. Mari kita kembalikan Ramadan sebagai momen untuk "hadir" sepenuhnya—bukan hanya hadir secara daring, tetapi hadir sebagai manusia yang merindukan Tuhannya tanpa gangguan notifikasi. Sebab pada akhirnya, di hadapan Sang Khalik, yang dihitung bukanlah berapa banyak panggilan yang kita terima, melainkan seberapa tulus hati kita menjawab panggilan-Nya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bukber Ramadan dan Fenomena Flexing, Mau Sampai Kapan?
-
Bukber di Era Media Sosial: Ajang Reuni atau Ajang Adu Nasib di Story Instagram?
-
Restoran Penuh, Saf Salat Kosong: Ironi Ramadan di Tengah Euforia Bukber
-
Ramadan Mengajarkan Melepas dan Sabar Bahkan dari Alas Kaki Bernama Sandal
-
Ramadan Masa Kini: Mengapa Semakin Sepi?
Kolom
-
Standar Meja Makan Lebaran dan Tekanan Sosial Perempuan
-
Lebaran Cashless: Ketika Dompet Digital Menggantikan Amplop
-
Bom Waktu Selat Hormuz: Mengapa Dapur Orang Indonesia Ikut Terbakar?
-
Bukber Ramadan dan Fenomena Flexing, Mau Sampai Kapan?
-
Lebaran di Perantauan: Nostalgia, Rindu, dan Konstruksi Makna Pulang
Terkini
-
Jangan Asal Pilih! 5 Bahan Hijab yang Sebaiknya Dihindari saat Lebaran
-
Menguliti Persepsi tentang Cinta di Novel Gege Mengejar Cinta
-
Perang Kasta Medsos: Gak Ada Bedanya X, Tiktok, atau FB Kalau Penggunanya yang Bermasalah
-
Minke Kembali, Film Bumi Manusia Extended Tayang di KlikFilm 5 Maret 2026!
-
Bye Kulit Kering! 5 Face Mist yang Bikin Segar saat Puasa