Lintang Siltya Utami | Anggia Khofifah P
Agent Kim Reactivated (koreatimes.co.kr)
Anggia Khofifah P

Drama Korea (drakor) Agent Kim Reactivated kembali mencuri perhatian, bukan hanya karena popularitasnya yang terus meningkat, tetapi juga berkat terobosan teknologi yang digunakan dalam proses produksinya. Serial yang dibintangi So Ji Sub ini menjadi drama live-action Korea pertama yang menghadirkan satu rangkaian cerita berdurasi sekitar tiga menit yang dibuat sepenuhnya menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Pencapaian tersebut diumumkan oleh perusahaan produksi AI Morpheus Studio, yang mengembangkan seluruh adegan menggunakan platform AI buatan Korea Selatan bernama AICRON.

Agent Kim Reactivated merupakan adaptasi live-action dari Webtoon populer Manager Kim, yang berlatar di semesta yang sama dengan sejumlah webtoon terkenal seperti Lookism, Viral Hit, dan My Life as a Loser. Drama ini mengikuti kisah Kim Do Hyeon atau Manager Kim, seorang ayah yang tampak biasa, tetapi sebenarnya menyimpan masa lalu sebagai agen rahasia. Demi menyelamatkan putrinya, ia harus kembali menghadapi dunia berbahaya yang pernah ditinggalkannya.

Serial ini tayang secara global melalui Netflix sejak 26 Juni, sementara penayangannya di Korea dilakukan oleh SBS.

Adegan AI yang menjadi sorotan muncul pada episode pertama dan kedua. Alih-alih hanya memanfaatkan AI untuk beberapa efek visual atau potongan gambar singkat, tim produksi memutuskan membuat satu rangkaian cerita utuh menggunakan teknologi tersebut. Adegan itu menampilkan kilas balik masa lalu Kim Do Hyeon saat menjalankan misi rahasia di Korea Utara sebelum peristiwa utama dalam cerita berlangsung.

Dalam urutan aksi tersebut, penonton disuguhkan berbagai adegan berskala besar, mulai dari ledakan gedung, kejar-kejaran mobil di jalan bersalju, pengejaran di dalam terowongan, mobil terguling hingga menabrak pembatas jalan dan tenggelam ke sungai, proses evakuasi kendaraan dari dalam air, baku tembak, pertarungan jarak dekat, hingga pengambilan gambar close-up karakter utama. Seluruh rangkaian tersebut dibuat sepenuhnya menggunakan AI tanpa proses syuting konvensional.

Salah satu pencapaian terbesar dari proyek ini adalah keberhasilan menjaga konsistensi visual karakter sepanjang adegan berlangsung.

Selama ini, menjaga wajah, ekspresi, dan penampilan karakter agar tetap konsisten menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pembuatan video berbasis AI. Namun, Morpheus Studio menilai teknologi yang mereka gunakan mampu mengatasi kendala tersebut sehingga hasil akhirnya tetap terlihat menyatu dengan keseluruhan drama.

Menurut Morpheus Studio, apabila adegan tersebut diproduksi menggunakan metode konvensional, prosesnya akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Tim produksi harus membangun set berskala besar, melakukan syuting di berbagai lokasi, menyiapkan efek ledakan nyata, hingga menggabungkan berbagai efek visual atau Visual Effects (VFX) dalam tahap pascaproduksi. Dengan memanfaatkan AI, latar belakang karakter utama dapat divisualisasikan secara lebih efisien tanpa mengurangi skala aksi yang ingin ditampilkan.

Seluruh proses produksi dilakukan menggunakan AICRON, platform AI berbasis node yang dikembangkan oleh Morpheus Studio dan resmi diperkenalkan pada Februari lalu. Platform ini memungkinkan kreator mengelola seluruh tahapan produksi, mulai dari penyusunan prompt, pembuatan gambar, produksi video, hingga proses penyuntingan dalam satu alur kerja. AICRON juga memanfaatkan lebih dari 150 model AI dan berbagai perangkat video yang dirancang oleh para profesional VFX di Korea Selatan.

Produksi adegan tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden Morpheus Studio, Ryu Jae Hwan, yang sebelumnya dikenal sebagai supervisor VFX untuk film 1947 Boston, Swing Kids, dan Flu.

"Hal paling penting bukanlah sekadar menggantikan beberapa detik efek visual dengan AI. Kami berhasil menyelesaikan satu rangkaian adegan utuh yang menjadi bagian penting dari alur cerita menggunakan AI. Manager Kim sejak tahap perencanaan memang dirancang dengan tujuan jelas untuk mengintegrasikan AI. Proyek ini menunjukkan potensi AI sebagai alat produksi baru yang mampu mewujudkan imajinasi para kreator," kata Ryu. 

Pandangan serupa juga disampaikan oleh CEO Studio S, Hong Sung Chang, dalam acara SBS Drama Media Day beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa AI telah diterapkan secara luas pada sejumlah proyek terbaru perusahaan. Menurutnya, setiap penggunaan AI akan diberi penanda khusus di layar agar penonton mengetahui bagian mana yang memanfaatkan teknologi tersebut.

"Mengurangi biaya produksi memang menjadi salah satu keuntungannya, tetapi yang lebih penting adalah membuktikan bahwa hal ini bisa dilakukan. Saya yakin seiring waktu penonton akan semakin menghargai teknologi ini," ujar Hong. 

Di sisi lain, prestasi Agent Kim Reactivated juga terlihat dari performa penayangannya. Berdasarkan data Nielsen Korea, episode keenam yang tayang pada 11 Juli berhasil mencatatkan rating nasional rata-rata 22,3 persen, sekaligus menjadi rekor tertinggi drama tersebut hingga saat ini. Angka itu juga menempatkannya sebagai drama Jumat-Sabtu dengan rating tertinggi kedua dalam sejarah SBS, hanya berada di bawah The Penthouse 2 yang mencapai puncak 29,2 persen.