Film The Last House karya Louis Leterrier baru saja hadir di Netflix dan berhasil menarik perhatian lewat premis sederhana tentang sebuah keluarga yang terjebak di dalam rumah sendiri akibat bencana misterius.
Namun, meski konsepnya terdengar menjanjikan, film ini justru mendapat respons kurang positif dari kritikus dengan skor 30 persen di Rotten Tomatoes.
Film tersebut dianggap gagal memaksimalkan premis menarik yang dimilikinya, terutama karena bagian tengah cerita terasa berulang-ulang dan bagian akhirnya mengecewakan.
Jika kamu menyukai The Last House tetapi ingin menyaksikan film thriller bertema bertahan hidup dengan ketegangan yang lebih kuat, berikut enam film yang bisa menjadi pilihan.
1. 10 Cloverfield Lane (2016)
10 Cloverfield Lane bercerita tentang John Goodman yang berperan sebagai seorang penyintas. Ia mengurung Michelle, diperankan Mary Elizabeth Winstead, di ruang bawah tanahnya dengan alasan bahwa dunia di luar telah mengalami bencana udara yang mengerikan.
Ketegangan film ini muncul karena penonton tidak pernah benar-benar tahu apakah Goodman merupakan penyelamat atau justru ancaman bagi Michelle. Setiap usaha Michelle untuk melarikan diri juga menghadirkan persoalan teknis yang membuat ketegangannya semakin nyata.
Berbeda dengan The Last House, pengungkapan penting dalam film ini justru memperluas jalan cerita.
2. Knock at the Cabin (2023)
Knock at the Cabin mengubah liburan keluarga yang seharusnya tenang menjadi situasi mengerikan ketika Andrew, Eric, dan putri angkat mereka, Wen, didatangi empat orang asing bersenjata di kabin terpencil.
Para penyusup yang dipimpin Leonard mengaku mendapatkan penglihatan mengenai kiamat dan mengatakan bahwa keluarga tersebut harus mengambil keputusan tertentu untuk menentukan apakah bencana benar-benar akan terjadi.
Andrew dan Eric awalnya tidak percaya, tetapi berbagai peristiwa mengerikan perlahan membuat keyakinan mereka goyah.
Kesamaannya dengan The Last House terletak pada keluarga yang terisolasi dari dunia luar. Rumah yang semestinya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi ruang penuh pertanyaan, ancaman, dan ketidakpastian.
3. A Quiet Place: Day One (2024)
Film prekuel karya Michael Sarnoski ini membawa penonton kembali ke hari pertama ketika alien pemburu suara tiba di Bumi.
Jika film sebelumnya banyak memanfaatkan suasana sunyi di pedesaan, A Quiet Place: Day One memindahkan teror tersebut ke tengah kekacauan New York City.
Lupita Nyong’o berperan sebagai Sam, seorang perempuan dengan penyakit mematikan yang harus menghadapi invasi bersama sosok asing yang ketakutan, diperankan Joseph Quinn.
Selain menghadirkan ketegangan tanpa henti, film ini juga memiliki kedalaman emosional. Ceritanya tidak sekadar mengenai bertahan hidup, tetapi juga tentang menemukan ikatan kuat ketika akhir kehidupan terasa semakin dekat.
4. It Comes at Night (2017)
Trey Edward Shults menghadirkan gagasan bahwa ketika dunia sedang runtuh, ancaman terbesar justru bisa datang dari manusia lain.
Joel Edgerton berperan sebagai seorang ayah yang menerapkan aturan ketat di dalam rumah yang tertutup rapat ketika wabah menghancurkan dunia di luar.
Kedatangan keluarga lain perlahan membuat aturan yang sebelumnya dibuat untuk melindungi mereka berubah menjadi sumber konflik.
5. Leave the World Behind (2023)
Leave the World Behind karya Sam Esmail memiliki struktur yang cukup mirip dengan The Last House. Ceritanya mengikuti dua keluarga yang terpaksa berbagi rumah sewaan di Long Island ketika jaringan internet lumpuh dan sebuah kapal kontainer kandas dengan sendirinya.
Namun, Esmail lebih tertarik mengeksplorasi kecurigaan yang tumbuh di antara karakter yang diperankan Julia Roberts dan Mahershala Ali daripada sekadar menunjukkan kejadian di luar rumah.
6. Vivarium (2019)
Vivarium memiliki kemiripan paling kuat dengan The Last House karena sama-sama menghadirkan karakter yang tidak mampu keluar dari lingkungan tempat mereka berada.
Tom dan Gemma secara spontan mengunjungi kawasan Yonder, tetapi setiap jalan yang mereka tempuh selalu membawa mereka kembali ke tempat yang sama.
Setiap rumah di kawasan tersebut memiliki warna hijau yang identik dan tersusun dalam barisan seragam di bawah hamparan awan seperti lukisan. Ketika seorang bayi tiba di dalam kardus disertai petunjuk untuk membesarkannya, situasi semakin terasa aneh dan tidak nyaman.
Sayangnya, nuansa monoton yang sengaja dibangun justru sedikit melemahkan ketegangan dalam film tersebut.
Jika The Last House membuat penasaran karena premis keluarga yang terjebak dan harus bertahan hidup, keenam film tersebut menawarkan pendekatan berbeda terhadap tema serupa.
Baca Juga
-
4 Kuliner Hidden Gem Sekitaran Depok, Murah, Enak, dan Bikin Ketagihan
-
Dont Say Good Luck: Kisah Remaja Dihadapkan Antara Mimpi atau Keluarga
-
Sinopsis Your Mother Your Mother Your Mother, Angkat Kisah Pembunuh Bayaran
-
Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib
-
CoComelon: The Movie Rilis Trailer Perdana, JJ Cs Siap Berpetualang
Artikel Terkait
-
The Last House Seharusnya Menjadi Film Tentang Keluarga Bukan Monster
-
Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional
-
Review Film Forrest Gump: Potret Indah Kejujuran Hati yang Menembus Zaman
-
Rilis Trailer Perdana, Robert Pattinson Mainkan Dua Peran di Primetime
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
Entertainment
-
Manga Kemono Jihen Akan Tamat di Volume ke-26 Setelah 10 Tahun Serialisasi
-
Epik! Kolaborasi Yura Yunita, Feby Putri, dan Idgitaf Tembus 3 Besar Tren Musik YouTube
-
Cerita Berakhir, Webtoon Villains Are Destined to Die Dapat Adaptasi Anime
-
Putuskan Hengkang dari JYP Entertainment, Jeongyeon: TWICE Pusat Hidup Saya
-
Mulai Rp 1,35 Juta, Ini Harga Tiket Konser NCT 127 'The RedLine' di Jakarta
Terkini
-
Fresh Graduate vs AI: Kena Mental Sebelum Sempat Punya Pengalaman Kerja?
-
Investasi Pariwisata Tembus Rp39 Triliun: Warga Lokal Ikut Kaya atau Cuma Jadi Penonton?
-
Tegas! Marc Marquez Bilang Jorge Martin Bukan Calon Juara Dunia MotoGP 2026
-
Quarter Life Crisis dan Makna Kemerdekaan Gen Z: Merdeka Bekerja Belum Tentu Merdeka Hidup
-
Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional