Kehidupan kantor dalam drama Korea tidak selalu berisi tentang persaingan besar atau kisah cinta antara rekan kerja. Ada pula rutinitas, pekerjaan yang menumpuk, hubungan dengan senior, dan berbagai situasi kecil yang diam-diam membuat hari kerja terasa melelahkan. Hal inilah yang menjadi premis I Hate Going to Work.
Drama yang dibintangi Kim Dong Wan dan Han Soo Yeon ini mengisahkan kehidupan para karyawan dengan segala masalah yang mereka hadapi di tempat kerja. Salah satu tokohnya bahkan mendapat tanggung jawab besar setelah dipindahkan ke departemen perencanaan penjualan dan memimpin sebuah proyek penting.
Menariknya, berbagai konflik tersebut disampaikan lewat format mockumentary yang membuat ceritanya terasa santai sekaligus satir. I Hate Going to Work pun menawarkan realita dunia kantor dengan cara yang cukup berbeda dari drama Korea pada umumnya. Simak ulasan lengkapnya.
Rutinitas Kantor yang Justru Jadi Sumber Cerita
I Hate Going to Work mengikuti Kang Baek Ho (Kim Dong Wan), seorang karyawan yang kariernya berkembang cukup cepat karena dikenal sebagai sosok yang gila kerja.
Perubahan besar terjadi setelah ia dipindahkan ke departemen perencanaan penjualan dan dipercaya memimpin sebuah proyek yang turut menentukan masa depan departemennya. Tanggung jawab tersebut tentu membuat tekanan di tempat kerja semakin terasa.
Namun, cerita drama ini tidak hanya berisi perjalanan Baek Ho sebagai pemimpin proyek. Penonton juga diajak melihat kehidupan karyawan lain dengan persoalan masing-masing. Ada hubungan dengan senior, pembagian pekerjaan, posisi di lingkungan kantor, sampai kewajiban mengikuti kegiatan perusahaan yang kadang sulit ditolak.
Menurut saya, drama ini memahami bahwa kehidupan pekerja tidak selalu membutuhkan konflik besar agar menarik. Konflik-konflik yang terlihat sederhana justru terasa familiar karena memang relate dengan keseharian banyak orang.
Komedi Satir yang Membuat Drama Kantor Terasa Berbeda
Hal yang membuat I Hate Going to Work semakin menarik adalah format mockumentary yang digunakan sepanjang cerita. Para karakter sesekali berbicara langsung kepada kamera, seolah-olah sedang diwawancarai mengenai apa yang baru saja terjadi. Teknik ini membuat penonton terasa lebih dekat dengan pikiran dan keluhan mereka.
Format tersebut juga membantu komedinya bekerja dengan baik. Situasi yang sebenarnya menyebalkan di kantor bisa terasa lucu karena karakter memberikan respons yang apa adanya. Humor tidak selalu datang dari lelucon yang dibuat secara terang-terangan, tetapi dari absurditas kebiasaan dan hubungan antarpegawai.
Saya suka pendekatan ini karena drama tidak berusaha menjadikan semua karakter sebagai sosok yang sepenuhnya baik atau buruk. Apalagi, I Hate Going to Work tidak membutuhkan villain dengan rencana jahat atau konflik besar untuk mempertahankan cerita.
Budaya kerja dan berbagai aturan tidak tertulis di kantor sudah cukup menjadi bahan satir. Komedinya pun terasa lebih relevan karena berasal dari situasi yang mungkin pernah dialami penonton sendiri.
Realistis, Ringan, tetapi Tidak Ada Sedikit Cela
Kekuatan lain dari drama ini terletak pada pengembangan karakternya. Hubungan antara Baek Ho, rekan-rekan kerjanya, hingga karyawan baru berkembang melalui interaksi sehari-hari.
Jadi, penonton tidak hanya melihat mereka sebagai bagian dari sebuah proyek, tetapi juga memahami sedikit demi sedikit bagaimana mereka menghadapi pekerjaan dan lingkungan kantor.
Pendekatan tersebut membuat dramanya terasa ringan untuk diikuti. Tidak ada misteri besar yang harus dipecahkan atau konflik yang menuntut perhatian penuh di setiap episode. Ceritanya lebih cocok dinikmati sebagai potret kehidupan pekerja yang berjalan dari satu masalah kecil ke masalah berikutnya.
Meski begitu, ritmenya mulai terasa melambat di paruh kedua. Beberapa konflik kehilangan ketajaman komedi yang sebelumnya menjadi salah satu daya tarik utama. Bagi penonton yang menyukai perkembangan cerita cepat, bagian ini mungkin terasa sedikit kurang menggigit.
Secara keseluruhan, I Hate Going to Work bisa masuk daftar tontonan bagi yang mencari drama ringan dengan cerita yang tidak terlalu rumit. Serial ini menawarkan pengalaman menonton yang santai, tetapi tetap punya cukup banyak momen menghibur untuk membuat ceritanya menarik diikuti.
Baca Juga
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
-
Bos-bos Kecil di Negeri Besar: Potret Gagal Negara Membuka Lapangan Kerja
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
-
Influencer Pamer Kekayaan di Tengah Krisis, Masihkah Layak Jadi Tontonan?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
Tak Semudah Hompimpa: Nostalgia yang Berujung Nyesek di Playlist Galau
-
Review Serial Ted Lasso Season 1: Drama Olahraga yang Sangat Menginspirasi
-
Review A Sun: Pilih Kasih dan Ekspektasi Orang Tua yang Menorehkan Luka
-
Hadiah Natal dengan Pengorbanan Manis Nan Ironis dalam The Gift of the Magi
Terkini
-
Park Ji Hyun Cetak Sejarah Masuk Nominasi International Emmy Awards 2026
-
Musim Kedua Anime The Cat and the Dragon Diumumkan Tayang pada 2027
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita
-
The Last Interview Tayang November, Wawancara Kerja Jadi Penuh Ketegangan