Lintang Siltya Utami | Anggia Khofifah P
Doctor X: Mafia in White (soompi.com)
Anggia Khofifah P

Drama Korea Doctor X: Mafia in White tengah menjadi sorotan setelah episode keenamnya menampilkan peristiwa Gerakan Demokratisasi 18 Mei 1980 di Gwangju, Korea Selatan. Penggambaran sejarah sensitif tersebut memicu perdebatan di kalangan penonton hingga muncul petisi yang meminta penayangan drama SBS itu dihentikan.

Menurut laporan media Korea Selatan, petisi bertajuk "Petition to Suspend the Broadcast of SBS Drama Doctor X" diajukan ke platform petisi elektronik Majelis Nasional pada 25 Oktober 2026, setelah permohonan tersebut disampaikan sehari sebelumnya. Petisi itu telah memperoleh 100 dukungan awal yang diperlukan untuk dipertimbangkan dalam proses publikasi. Pemohon juga meminta agar proses produksi episode keenam diperiksa.

Dalam petisinya, pemohon mempertanyakan relevansi peristiwa Gwangju dengan jalan cerita drama medis tersebut. Ia menilai pengangkatan peristiwa bersejarah itu terasa mendadak karena dianggap tidak memiliki hubungan yang cukup kuat dengan alur utama. Pemohon juga membandingkannya dengan serial Jepang asli yang lebih berfokus pada kemampuan dan keterampilan dokter sebagai tokoh utama.

Menurut pemohon, penambahan tema politik dalam adaptasi Korea Selatan terkesan dipaksakan untuk menyampaikan pandangan politik tertentu.

Gerakan Demokratisasi 18 Mei, yang juga dikenal sebagai Pemberontakan Gwangju, merupakan peristiwa penting dalam sejarah Korea Selatan. Pada Mei 1980, warga Gwangju melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer di bawah Chun Doo Hwan. Gerakan tersebut ditindas secara brutal oleh militer dan menyebabkan banyak korban jiwa. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu simbol perjuangan demokrasi di Korea Selatan.

Dalam episode keenam Doctor X, yang tayang pada 24 Oktober, kisah berfokus pada Oh Sang Beom, karakter yang diperankan Ha Sung Kwang. Ia merupakan penyintas peristiwa Gwangju yang kehilangan kakak laki-lakinya dan mengalami luka tembak di kepala. Trauma tersebut membuatnya terus menghadapi rasa sakit kronis, halusinasi, serta perasaan bersalah atas kematian sang kakak.

Melalui kilas balik ke Gwangju pada 1980, episode tersebut menampilkan situasi kekerasan terhadap warga sipil, termasuk penggunaan gas air mata dan suara tembakan. Cerita juga memperlihatkan kunjungan ke Pemakaman Nasional 18 Mei, lokasi nyata yang menjadi tempat penghormatan bagi para korban gerakan demokratisasi tersebut.

Sejumlah detail dalam episode itu kemudian memicu beragam interpretasi di kalangan penonton. Salah satunya adalah nomor bus 518 yang muncul dalam adegan perjalanan karakter. Sebagian penonton mengaitkannya dengan tanggal 18 Mei. Dialog samar dari radio bus yang menyebut sekitar tanggal tersebut juga menjadi bahan diskusi.

Kemunculan mantan presiden fiktif bernama Ji Du Seok, yang dibawa ke rumah sakit menggunakan helikopter dalam keadaan tidak sadar, turut memancing spekulasi. Sebagian penonton menilai karakter tersebut menyerupai mantan Presiden Chun Doo Hwan.

Reaksi publik pun terbelah. Sebagian penonton mengapresiasi keberanian drama dalam menggambarkan trauma jangka panjang para penyintas serta mengangkat kembali ingatan tentang perjuangan demokrasi. Di sisi lain, sejumlah penonton mempertanyakan penggunaan simbol dan unsur politik dalam drama yang berfokus pada dunia medis.

Kontroversi semakin menjadi perhatian setelah Lee Ok Gyu, kepala produser di Studio S, mengunggah poster promosi drama dengan tulisan "No fear" di media sosial pada 24 Oktober. Unggahan tersebut dianggap sebagian orang sebagai tanggapan terhadap kritik yang muncul. Namun, Lee tidak memberikan penjelasan mengenai maksud tulisan tersebut ataupun kaitannya dengan kontroversi.

Di tengah perdebatan, Doctor X: Mafia in White justru mencatat pencapaian rating tertinggi sejak penayangannya. Menurut data Nielsen Korea, episode keenam memperoleh rating nasional sebesar 19,5 persen, dengan angka tertinggi mencapai 21,3 persen.

Hingga kini, perdebatan mengenai relevansi penggambaran sejarah dalam drama tersebut masih berlangsung.