M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Poster Hua Jai Sila (Mydramalist)
Tika Maya Sari

Drama bernuansa gelap dark romance ternyata pernah disajikan oleh negara tetangga kita yakni Thailand. Dari awal posternya saja, aku langsung kepincut perihal janji plotnya yang brutal. Drama itu berjudul Hua Jai Sila.

Melansir Mydramalist, Hua Jai Sila adalah drama yang diadaptasi dari novel bertajuk Asun Roeng Fai karya Nawika yang mengusung genre romance dan crime. Mi Thanawat Panyarin yang ditunjuk sebagai sutradara pun terbilang berhasil menyajikan drama konsep greget dan nuansa teror.

Drama ini sendiri resmi rilis sejak 4 Maret 2019 - 10 Juni 2019 lewat jaringan One31 dengan total 27 episode. Sekali masuk ke episode pertama, penonton segera dibawa ke dalam labirin misteri penuh intrik gelap.

Balas Dendam dan Reuni Paling Kelam

Hua Jai Sila mengisahkan seorang anak hasil hubungan gelap bernama ‘Tor’ Aran Ritthinatkosol (Tor Thanapob Leeratanakacorn) yang tinggal bersama keluarga ayahnya. Dia selalu disiksa oleh Sida Ritthinatkosol (Ann Sirium Pukdeedumrongrit) si ibu tiri, dan juga Sawit Ritthinatkosol (Typhoon Kanokchat Munyad-on) si saudara tiri.

Nyaris setiap hari demi menghindari siksaan mereka, Tor bermain dengan Minta Kanasrikul (Fern Nopjira Lerkkajornnamkul) yang merupakan tetangganya. Nasib mereka pun mirip lah. Sama-sama disiksa oleh keluarga tiri.

Puncaknya, di suatu malam Tor nekat kabur dari kejaran Sida dan memilih untuk melompat ke sungai berarus deras. Dia lalu dianggap sudah mati karena hanyut. Namun, ternyata dia diselamatkan oleh Pimsuda Wisetworawet (Noon Siraphon Wattanajinda) yang merupakan pekerja seks komersial dan mengenal ibu kandungnya.

Selama beberapa tahun kemudian, Tor tumbuh sebagai pengusaha bisnis underground sukses yang bernama Sila Wisetworawet. Dia lantas kembali demi membalaskan dendam masa lalunya. Termasuk saat reuni kembali dengan Minta, hatinya kadung pekat. Namun siapa sangka, bahwa ambisinya semakin menggila dan dia kian brutal saat harus mengeksekusi segalanya. Akankah Tor berhasil menuntaskan balas dendam berdarahnya termasuk menghapus eksistensi Minta?

Janji Brutal yang Nggak Diingkari

Dari awal saja aku menduga bahwa drama ini bakal brutal. Dan iya, eksekusinya melampaui ekspektasiku. Dilihat dari poster dramanya saja, Hua Jai Sila sudah menjanjikan misteri dan ritme balas dendam khas cerita dark plot. Ditunjang dengan sinematografi pekat bernuansa dingin, dan penggunaan beberapa kostum karakter yang betul-betul cool. Bukan tipe gonjreng, melainkan monokrom yang makin menekankan esensi jahat dan kelam itu sendiri.

Drama ini menyajikan opening ciamik ala shattered glass, yang secara tidak langsung menjadi kunci utama konflik yang gahar. Opening khas inilah yang menjadi ciri khas drama, yang mengingatkanku pada format opening donghua pada drama Never-Ending Summer, maupun model kota futuristik pada drama Derailment.

Aku sendiri sangat salut atas casting aktor yang cemerlang. Terutama untuk peran Tor alias Sila, karena betulan manifestasi dari dendam, kebencian, tapi luluh pada hubungan murni. Buatku, Tor Thanapob Leeratanakachorn adalah aktor yang tepat karena ekspresinya greget. Rupawan iya, menawan iya, dan sorot matanya yang tajam pun oke punya. Dia berhasil melampaui ekspektasiku sih.

Juga pada akting Fern Nopjira Lerkkajornnamkul, aku menyukai ekspresi nanarnya yang khas Minta. Karakternya dibikin agak menye-menye, tapi memiliki keberanian yang terselubung. Kupikir, kalau saja kita ada di posisi Minta, ya sudah pasti cuma bisa pasrah sih. Sebab berada dalam genggaman Sila yang seorang bos underground, nyaris nggak ada jalan keluar sama sekali.

Magnetnya Cuma Ada Pada Intrik Sila - Minta

Terlepas dari posisi sebagai tokoh utama, kupikir drama ini terlalu condong pada hubungan toxic mendominasi Sila dan Minta semata. Yah, memang sih hal tersebut penting dalam membikin baper penonton, tetapi rasanya yang lain jadi terabaikan.

Padahal peran Pimsuda yang turut menjadi pilar kesuksesan Sila bisa lho disorotkan lebih banyak. Toh Noon Siraphan Wattanajinda mampu menyajikan ekspresi tenang, elegan, sampai mematikan. Justru Ann Sirium Pukdeedumrongrit terkesan masih sebagai emak-emak biasa, padahal harusnya dia bisa lebih kejam lagi. 

Tapi Typhoon Kanockchat Munyad-on terbilang sukses membawakan peran Sawit yang nyebelin, playing victim, kejam, dan playboy abis. Semua sifat fakboy modal dengkul berhasil dibabat olehnya. Penonton beneran dibikin senewen tiap dia muncul.

Rating 13+ Beneran Atau…?

Konon, drama ini memiliki rating 13+. Tapi kok rasanya terlalu brutal ya? Aku bakal setuju kalau ratingnya diganti ke 17+ sih.

Drama ini memang bukan tontonan eksplisit, tetapi tetap saja ada beberapa scene yang nggak bisa ditonton semua usia. Pun termasuk plot utama kisah, dan intrik pekerjaan underground yang tentu disini bakal dibatasi oleh norma ya.

Bagiku sendiri, drama ini sebaiknya ditonton untuk usia 19 atau 20 tahun ke atas. Sebab, ada banyak kekejaman duniawi yang disajikan disini. Mulai dari kekerasan--nggak segamblang genre gore kok--trauma psikologis, intrik pekerjaan underground, sampai pada hubungan toxic penuh dominasi. Dalam drama sih oke-oke saja karena bakal tamat dalam beberapa episode. Namun di real life, drama ini betulan brutal dan bisa-bisa bikin kita kena depresi parah.

After all, menilik dari sinematografi dingin, plot yang dag dig dug ser, sampai pada romansa mendominasinya, aku memberikan nilai 8/10 untuk Hua Jai Sila.

Identitas Drama

  • Judul: Hua Jai Sila
  • Judul Alternatif: Heart of Stone, Man of Vengeance
  • Adaptasi: novel Asun Roeng Fei karya Nawika
  • Sutradara: Mi Thanawat Panyarin
  • Genre: romance, crime, drama, revenge
  • Rating: 13+
  • Rilis: 4 Maret 2019 - 10 Juni 2019
  • Jaringan: One31
  • Negara Asal: Thailand
  • Bahasa: Bahasa Thailand
  • Jumlah Episode: 27