Sekar Anindyah Lamase | Gigi Ann
Fjord (x.com)
Gigi Ann

Fjord berkisah mengenai perjuangan keluarga konservatif dan penganut nilai agama yang kental dalam mengambil kembali anak-anak mereka dari negara dengan hukum dan budaya yang liberal serta sekuler

Teknisi asal Romania, Mihai Gheorghiu, dengan istrinya dari Norwegia yang bekerja sebagai perawat, Lisbet, memutuskan untuk pindah dari Romania ke kampung halaman Lisbet dengan keluarga mereka. Keluarga Kristen evangelis ini mempunyai lima anak dan pindah agar dapat lebih dekat dengan keluarga Lisbet usai kematian orang tua Mihai.

Di Norwegia, keluarga Gheorghiu yang konservatif bertetangga dengan keluarga Mats Halberg. Mats adalah seorang kepala sekolah di wilayah itu, sedangkan istrinya, Noora, merupakan seorang pengacara. Pasangan Halberg tinggal di rumah dengan anak perempuan Mats dari pernikahan sebelumnya, Noora, serta Ake, ayah Mats yang terkena stroke.

Noora berteman dengan dua anak tertua keluarga Gheorghiu, Elia dan Emmanuel. Mereka bersekolah dan kerap naik bus jemputan yang sama setiap hari. Kedekatan Noora dengan Elia malah membuat teman dekat Noora, Elsa, cemburu.

Nilai agama dan konservatif keluarga Gheorghiu kerap bentrok dengan nilai masyarakat Norwegia.

Masalah muncul saat guru olahraga di sekolah tersebut sadar ada bekas luka di tubuh Elia. Selain itu, sopir bus sekaligus konselor sekolah, Frida, juga mendengar obrolan Elia dan Emmanuel mengenai hukuman fisik dari ibu mereka.

Atas informasi tersebut, keduanya mengadukan kepada Mats selaku kepala sekolah dan Child Welfare Services atas dugaan tindakan kekerasan terhadap anak-anak.

Gunda dari Child Welfare Services menemui keluarga Gheorghiu. Saat itu, mereka disambut oleh Lisbet. Lisbet kaget atas tuduhan tersebut.

Aturan yang tegas terkait kesejahteraan anak di Norwegia dan kekuasaan dari Child Welfare Services menjadikan Mihai dan Lisbet menelan pil pahit: anak-anak mereka diambil oleh negara dengan terpaksa.

Film ini menjadi produksi antara Rumania, Prancis, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia, yang tayang secara global dalam Cannes Film Festival 2026 pada 18 Mei.

Fjord disambut tepuk tangan meriah selama 12 menit dan memenangkan penghargaan Palme d'Or alias Film Terbaik Cannes, François Chalais Prize, FIPRESCI Prize, Prize of the Ecumenical Jury, serta Prix de la Citoyenneté.

Film dengan bahasa Norwegia, Inggris, Romania, dan Swedia ini mendapatkan pujian dari para kritikus, terutama mengenai penampilan para pemerannya dan naskahnya. 

Di Indonesia, Fjord tampil menjadi pembuka Jakarta World Cinema (JWC) 2026 yang dilaksanakan pada Sabtu (30/10). Hadir juga dalam kesempatan itu, sinematografer film ini, Tudor Vladimir Panduru, dan ada pesan khusus dari sang sutradara, Cristian Mungiu.