Lintang Siltya Utami | Ferika Sandra
Suasana di dalam XXI Tunjungan Plaza saat acara Nobar Duluan, Laut Bercerita di Pemutaran Khusus Kota Surabaya. (Dok Pribadi/Ferika Sandra)
Ferika Sandra

Sebelum rilis serentak di bioskop pada 29 Oktober 2026 lalu dan menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial, saya beruntung karena berkesempatan menghadiri pemutaran khusus film Laut Bercerita di Kota Surabaya 5 hari sebelum tanggal penayangan resmi.

Tentu saja, sebagai penggemar karya-karya Leila S. Chudori, mantan jurnalis Tempo yang piawai meramu fakta menjadi narasi memikat, Laut Bercerita selalu punya tempat khusus di ingatan saya. Novel ini mengisahkan 13 aktivis yang dihilangkan secara paksa pada rentang 1997–1998 dan tak pernah kembali hingga hari ini.

Sebuah kisah yang menyayat hati, sekaligus meninggalkan luka yang tak kunjung selesai. Akhir pekan lalu, saya berkesempatan menghadiri acara Nobar Duluan Laut Bercerita di Pemutaran Khusus Kota Surabaya. Tentu saja, kesempatan ini tidak datang begitu saja. Saya harus ikut “war” tiket yang rasanya lebih berdarah-darah daripada perjuangan mendapatkan tempat duduk di transportasi umum saat jam pulang kerja.

Suasana XXI Tunjungan Plaza 1 hari itu benar-benar riuh. Beberapa studio yang dibuka khusus untuk pemutaran film ini terisi penuh oleh penonton yang antusias. Istimewanya lagi, acara tersebut dihadiri langsung oleh sang sutradara, Yosep Anggi Noen, bersama para pemeran seperti Pak Arswendy Bening Swara, Yoga Pratama, dan Afrian Arisandy.

Setelah delapan tahun berlalu sejak saya menamatkan novelnya, melihat tokoh-tokoh yang dahulu hanya hidup dalam imajinasi akhirnya hadir di layar memberikan sensasi tersendiri. Adegan demi adegan terasa tajam, kelam, dan sukses membuat mata serta hati terasa pedih.

Namun, yang membuat dada makin sesak bukan sekadar adegan penyiksaan atau keluarga korban yang terus menunggu di meja makan yang tak pernah lengkap. Ada hal lain yang jauh lebih mengganggu: mengapa cerita tentang masa lalu ini terasa begitu dekat dengan keadaan Indonesia hari ini?

 Sejarah Seolah Diputar Ulang di Depan Mata

Suara-suara kritis kembali dibungkam. Korupsi makin ugal-ugalan. Penguasa bertindak serakah tanpa rasa malu sedikit pun. Sementara itu, mimpi tentang “Indonesia Emas” yang terus digadang-gadang makin terasa seperti utopia murahan, atau jangan-jangan sekadar bahan lelucon politik.

Spanduk demonstrasi diturunkan paksa. Bencana dan krisis datang bertubi-tubi tanpa penanganan yang memadai. Rakyat kecil terus diperah keringatnya, ditarik pajak setinggi-tingginya, tetapi kesejahteraan yang diterima rasanya masih jauh dari kata layak.

Persis. Setidaknya, begitulah kesan yang muncul ketika saya membandingkan kenyataan hari ini dengan latar penindasan yang dihidupkan Leila dalam Laut Bercerita. Di tengah gelapnya ruang pemutaran, ada satu kalimat yang menghantam kesadaran saya: “Pemerintah pengecut, masa takut sama anak muda.”

Kalimat itu terasa getir karena semestinya pemerintah tidak perlu takut kepada anak muda yang bertanya, membaca, apalagi menyampaikan kritik. Namun, ketika suara kritis justru dianggap sebagai ancaman, kita patut bertanya: sebenarnya siapa yang sedang ditakuti penguasa?

Ketika Buku Dianggap Ancaman oleh Pemangku Kebijakan

Ada satu gagasan penting dalam Laut Bercerita: membaca adalah awal dari perlawanan. Cerita itu seperti hendak mengingatkan bahwa semuanya bisa bermula dari buku-buku, sebab kita hidup di negara yang menganggap buku sebagai ancaman.

Refleksinya terasa makin menohok ketika melihat pendidikan seolah dinomorduakan dibandingkan program-program yang lebih sibuk mengurus urusan “perut”. Padahal, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kenyang. Kita juga membutuhkan pengetahuan agar tidak mudah dibohongi.

Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja harga buku dan berbagai beban pajak yang membuat buku berkualitas terasa sulit dijangkau sebagian masyarakat. Mengapa akses terhadap pengetahuan masih terasa mahal? Apakah kita benar-benar ingin membangun masyarakat yang cerdas dan kritis, atau cukup puas dengan masyarakat yang bisa mengikuti apa saja tanpa banyak bertanya?

Ketakutan terhadap suara kritis juga terasa di ruang digital. Akun-akun yang menyuarakan kepedulian, membagikan fakta, dan mengkritik kenyataan bisa menjadi sasaran doxing serta intimidasi. Jika dahulu ancaman hadir melalui lorong-lorong gelap dan pengeroyokan, sekarang tekanan bisa datang melalui layar ponsel. Teknologi berubah, tetapi upaya membungkam suara yang dianggap mengganggu tampaknya belum benar-benar pergi.

Kita Sedang Hidup di dalam Cerita Itu

Sepanjang film diputar, saya terus membatin: bukankah ini seharusnya hanya cerita tentang masa lalu? Mengapa rasanya begitu menakutkan dan relevan dengan apa yang kita lihat di berita hari-hari ini? Walakin, menonton Laut Bercerita kemarin akhirnya bukan sekadar menikmati sinematografi atau bernostalgia dengan novel yang pernah saya baca. Film ini seperti cermin raksasa yang disodorkan tepat di depan muka kita.

Barangkali itulah yang membuatnya begitu menyakitkan. Penggemar buku ini datang ke bioskop untuk menyaksikan kisah tentang orang-orang yang dirampas kebebasannya pada masa lalu, tetapi justru pulang dengan membawa pertanyaan tentang keadaan negeri kini.

Sejarah memang tidak selalu berulang dengan wajah yang sama. Namun, ketika kritik kembali dicurigai, pengetahuan terasa mengancam, dan intimidasi masih menjadi cara membungkam suara, rasanya terlalu naif jika kita menganggap semuanya sudah selesai. Tentu saja yang paling menakutkan, jangan-jangan  bukan hanya sedang menonton cerita lama yang diputar kembali. Saya dan orang-orang beruntung yang berhasil dapat tiket bioskop itu sedang menyaksikan cerita yang sama, hanya dengan latar waktu yang berbeda.