Bulan Ramadan merupakan momen dimana umat muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Di negara kita sendiri, Indonesia, umumnya waktu berpuasa memakan kurang lebih 13 jam per hari.
Sebagian dari kita mungkin berpikir, makan banyak saat sahur akan membantu tubuh lebih bertenaga dan kenyang lebih lama, tapi tak jarang kita justru merasa lemas dan mengantuk selama berpuasa.
Makan berlebih waktu sahur bukanlah solusi yang tepat untuk menjaga kebugaran tubuh. Agar kondisi tubuh dan pencernaan tak menghambat aktivitas di bulan puasa, kita sebaiknya mengatur menu sahur yang sehat.
Berikut 3 tips yang dirangkum dari alodokter.com, sehatq.com, dan sahabatnestle.co.id, simak baik-baik, ya!
1. Kurangi konsumsi karbohidrat simpleks dan makanan instans
Karbohidrat simpleks mengandung gula sederhana yang mudah diserap oleh tubuh. Gula jenis ini cepat menaikkan dan menurunkan gula darah sehingga tubuh mudah merasa lemas dan mengantuk. Baik nasi putih, roti, gorengan, maupun makanan instan adalah contoh karbohidrat simpleks yang sering dijadikan menu sahur andalan.
Terlepas dari cara penyajiannya yang praktis, ada baiknya kita mengganti karbohidrat simpleks dengan karbohidrat kompleks. Karbohidrat kompleks mengandung gula kompleks yang lebih lama larut dalam tubuh sehingga menjaga kadar gula darah tetap stabil, contohnya nasi merah, umbi-umbian, dan gandum.
Ada pula protein yang dikenal sebagai sumber energi. Protein bisa kita dapat dari ikan, telur, tempe, atau susu. Selain membuat kenyang lebih lama, protein sangat baik dikonsumsi sebagai cadangan energi dan pembentuk jaringan sel, dengan begitu organ dan fungsi tubuh dapat bekerja secara optimal selama kita berpuasa.
2. Ganti dengan buah dan sayur
Buah dan sayur merupakan alternatif yang tepat sebagai menu sahur sehat yang mengenyangkan. Selain kaya akan serat, buah dan sayur mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral yang mampu mempertahankan energi serta cairan dalam tubuh.
Salah satu buah yang identik dengan bulan Ramadan adalah kurma. Di samping rasanya yang manis, kurma sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi saat sahur. Kandungan serat dan mineral yang tinggi dapat membantu melancarkan pencernaan, membuat kenyang lebih lama, dan mencegah dehidrasi selama berpuasa.
3. Cukup minum air dan hindari minuman berkafein
Salah satu fungsi ginjal adalah membuang zat dan cairan berlebih melalui urine. Nyatanya minum banyak air di waktu sahur justru dapat mengganggu kerja ginjal. Ginjal akan bekerja lebih keras dalam memproduksi urine, inilah mengapa kita lebih sering buang air kecil setelah sahur.
Begitu pula minuman berkafein seperti kopi. Kopi memiliki efek diuretik yang dapat merangsang pembuangan urine, akibatnya cairan tubuh akan berkurang lebih cepat sehingga lebih rentan mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, sebaiknya hindari minum kopi saat sahur bila tak begitu dibutuhkan.
Itulah 3 tips yang bisa kalian ikuti. Pastikan agar kalian tak makan minum berlebihan, ya! Makan berlebihan bisa mengakibatkan asam lambung, terganggunya sistem pencernaan, hingga rasa tak nyaman pada perut, lho!
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Hukum Qadha Puasa Ramadan di Hari Jumat, Boleh atau Tidak?
-
Puasa Sunah Syawal dan Ganti Puasa Ramadan, Mana yang Harus Didahulukan?
-
Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syawal, Ini Niat dan Waktunya
-
Niat Puasa Qada Ramadan dan Puasa Syawal, Mana yang Harus Didahulukan?
-
Lebaran Duluan! Umat Islam di Jember Salat Ied Hari Ini
Health
-
5 Tips Atasi Lelah setelah Mudik, Biar Energi Balik Secepatnya!
-
Mengenal Metode Mild Stimulation Dalam Program Bayi Tabung, Harapan Baru Bagi Pasangan
-
Kenali Tongue Tie pada Bayi, Tidak Semua Perlu Diinsisi
-
Jangan Sepelekan Cedera Olahraga, Penting untuk Menangani secara Optimal Sejak Dini
-
3 Tips agar Tetap Bugar saat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?