Ada banyak manfaat kencur untuk kesehatan yang jarang disadari, salah satunya yaitu mengobati batuk. Rimpang satu ini masih satu keluarga dengan jahe. Tidak heran bila bentuk keduanya mirip dan membuat banyak orang bingung membedakan antara kencur dengan jahe.
Bukan hanya dimanfaatkan sebagai campuran makanan tertentu, rimpang satu ini juga dapat diolah menjadi minuman menyegarkan. Salah satu contohnya yaitu minuman beras kencur yang banyak dijual dipasaran.
Mengutip dari situs resmi Hellosehat.com, terdapat 4 manfaat kencur untuk kesehatan yang bisa kamu dapatkan bila mengonsumsinya, diantaranya:
1. Mengobati Batuk Berdahak
Banyak orang yang menggunakan kencur dengan campuran garam sebagai obat batuk alami, terutama saat berdahak. Jadi, batuk berdahak yang dialami bisa reda dengan lebih cepat saat rutin mengonsumsi kencur. Selain itu juga membuat pernapasan lebih lega.
Selain mengobati batuk, kencur juga mampu mengobati diare. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science, disebutkan bahwa ekstrak dari kencur mempunyai kandungan antibakteri serta zat sitotoksik cukup banyak.
Berdasarkan penelitian inilah kencur dipercaya merupakan salah satu solusi bagi penderita diare. Bahkan sudah dibuktikan melalui penelitian kepada hewan, hasilnya gejala diare penerima ekstrak kencur lebih ringan dan berangsur hilang.
3. Mencegah Timbulnya Karies Gigi
Manfaat kencur untuk kesehatan berikutnya adalah mencegah karies gigi. Bakteri Lactobacillus acidophilus penyebab kerusakan gigi yang berkembang, seperti karies bisa terhambat melalui konsumsi rimpang satu ini karena sifatnya yang antimikroba.
Biasanya penyakit satu ini sering dialami oleh anak-anak. Bila gigi rusak, bisa menimbulkan berbagai permasalahan yang mengganggu kesehatan, seperti sakit gigi bahkan berpotensi terkena infeksi.
4. Mengurangi Dampak Stres
Manfaat terakhir yang tidak banyak orang ketahui adalah mengurangi dampak stres. Diteliti bahwa kencur mempunyai sifat antidepresan, baik rimpang maupun daunnya yang dapat memberikan dampak menenangkan.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Universitas Jahangirnagar bagian departemen farmasi yang berasal dari Bangladesh. Hal inilah yang membuat kencur banyak dipakai orang untuk mengurangi dampak dari kondisi stress, gelisah bahkan depresi.
Dampak konsumsinya terhadap pengguna, akan berbeda untuk setiap orang ya. Pasalnya, berbagai jenis obat-obatan itu tidak akan sama khasiatnya antara individu satu dengan lainnya. Tapi, tidak ada salahnya mencoba dengan harapan memperoleh manfaat kencur bagi kesehatan.
Baca Juga
-
Perhatikan! 8 Tips Memilih Timbangan Badan Digital Berkualitas
-
Catat! 4 Tips Membeli Keyboard di Shopee agar Mendapatkan yang Berkualitas
-
3 Daya Tarik Rumah Jaksa Agung Malang sebagai Tempat Penginapan
-
Sebelum Pesan Kamar di Rumah Jaksa Agung Malang, Perhatikan 4 Hal Berikut
-
Tata Cara Kompres Foto Tanpa Software Tambahan Lewat Situs 11zon
Artikel Terkait
-
Dokter Zaidul Akbar Ungkap Jenis Rimpang yang Ampuh Tangani Penyakit Hipertiroid, Apa Saja?
-
Cara Buat Obat Batuk Herbal Sendiri di Rumah, Simpel Loh
-
Resep Obat Batuk Herbal Praktis, Semua Bisa Bikin di Rumah
-
Ini Keunggulan Bumbu Dapur Menjadi Bahan Herbal Sebagai Obat Batuk
-
Peringatan BPOM AS Tentang Antidepresan Justru Meningkatkan Kasus Bunuh Diri pada Remaja
Health
-
Mengenal Virus Nipah (NiV): Bahaya Buah Terkontaminasi dan Cara Mencegah Infeksinya
-
4 Makanan yang Membantu Meningkatkan Kualitas Tidur
-
Bukan Sekadar Kafein, Biji Kopi Arabika Ternyata Mengandung Zat Antidiabetes Alami
-
Banjir Jakarta: Ancaman Kesehatan Publik yang Tersembunyi di Balik Genangan
-
Pelembap Bisa Bikin Jerawatan? Kenali Bahaya Penggunaan Moisturizer Berlebihan
Terkini
-
Xiaomi Pad 8 Siap Meluncur di Pasar Global, Usung Chipset Kencang Snapdragon 8s Gen 4
-
4 Brightening Sleeping Mask Alcohol-Free untuk Kulit Cerah Tanpa Iritasi
-
Cara Mengaktifkan 2FA: Langkah Mudah Lindungi Akun Media Sosial dari Peretas
-
Seni Meraih Doktor Berasa Healing di Eropa: Sebuah Perjalanan yang Menginspirasi
-
Sinopsis Can This Love Be Translated?: Saat Bahasa Kalbu Lebih Sulit dari Bahasa Asing