Apa yang kamu dengar ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau?
Tiinn tiinn tinnn!
Tiinn tiinn tinnn!
Tiinn tiinn tinnn!
Ya, sudah pasti riah-riuh klakson setiap kendaraan yang menggema di telinga. Sore hari setelah pulang kerja atau selepas bepergian selalu punya iramanya sendiri yang mampu membakar kesabaran. Di balik kaca helm, di balik jendela mobil, dan di antara kepulan asap knalpot setiap pengguna jalan, kita pasti merasakan betapa lambatnya laju angka hitung mundur lampu lalu lintas tersebut.
Di dalam ruang sempit mobil, atau bahkan di atas jok sepeda motor yang tertahan karena harus menatap kelap-kelip angka hitung mundur berwarna merah yang menyala—bergantian di setiap sudut jalan. Kita mengutuk kemacetan, meremas kemudi, dan terus menatap arloji berdial hitam dengan tali NATO krem yang melingkar indah di tangan dengan desahan napas lelah—berangan-angan agar cepat sampai ke tujuan tanpa harus berada dalam himpitan kemacetan saat ini. Argh! Gila ya? Setiap menit di ibu kota—terlebih saat sore hari—terasa lambat sekali! Sungguh membuang dan menyia-nyiakan waktu saja! Tidak bisakah sebagian dari kita naik helikopter saja agar lebih cepat sampai?
Sayangnya dialog itu hanya angan-angan semata. Kita terlalu lelah berkegiatan, ditambah lagi harus berkutat dengan lampu merah di jalan, dan pengguna jalan yang tidak sabaran—sungguh menyebalkan, bukan?
Tapi tahukah kamu?
Terkadang semesta memang sengaja—sengaja menggurat skenario dalam hidup kita agar kita menyadari bahwa potongan hidup yang kita anggap terbuang sia-sia di tengah hiruk-pikuk kemacetan, ternyata sengaja Ia goreskan untuk kita, supaya kita dapat mengendurkan bahu yang tegang dan memberi rasa kretek di setiap anggota badan.
Semesta memberi perasaan gelisah, perasaan terburu-buru dikejar waktu, perasaan resah, dan perasaan gugup sebelum kita sampai tujuan—terlebih saat temaram lampu merah bersinar terang—sebagai bentuk perhentian paksa yang paling jujur dari-Nya. Ia menciptakan momen ketika dunia luar secara fisik menahan derap langkah kita, memberi jeda yang kerap kali gagal kita berikan untuk diri kita sendiri.
Bayangkan saja lampu merah dan angka hitung mundur itu sebagai tanda koma dalam rentetan kalimat panjang dari hari yang kita jalani. Sepanjang pagi hingga sore, kita isi dengan kalimat runtut yang penuh kata kerja seperti, mengetik, berjalan, berdiskusi, berbicara, bernegosiasi, dan menyelesaikan semuanya tanpa henti. Lalu tanpa kita sadari, sesungguhnya kita sudah kehabisan napas sepanjang menjalani hari. Maka, ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, alih-alih merutuki keadaan, ambillah kesempatan sejenak untuk menyadari betapa hebatnya diri kita dalam mengambil peran yang kita pikul pada hari-hari yang berat ini.
Sandarkan punggung pada kursi mobil yang kita kemudikan, tarik napas panjang, kemudian embuskan perlahan. Tenang, jika kita berkendara menggunakan sepeda motor sebenarnya kita tidak perlu bahu pengendara lain untuk bersandar, cukup buka sebentar kaca helm yang kita gunakan, atau jika keberatan untuk membukanya karena debu dan kepulan asap knalpot, kita bisa menarik napas dan mengembuskannya perlahan di balik kaca helm atau masker yang kita gunakan.
Lihatlah sekeliling kita, amati setiap pengguna jalan selain diri kita sendiri—bukan sebagai orang-orang yang menghambat laju perjalanan kita, melainkan sebagai manusia yang sama-sama lelah, sama-sama berjuang untuk pulang, dan merindukan kehangatan bersama keluarga tersayang atau kesunyian yang menenangkan.
Amatilah setiap pengguna jalan selain diri kita sendiri, seperti penjual kerupuk yang melangkah pelan di trotoar, penjaja tisu yang menawarkan dagangannya kepada setiap pengendara, pengamen jalanan yang melantunkan lagu tren masa kini, awan jingga yang mengarak indah di balik gedung bertingkat, atau pantulan cahaya lampu jalanan di atas aspal.
Perhatikan semua itu. Ketika kita memilih untuk berhenti mengejar waktu, waktu berhenti menjadi ancaman. Kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya seberapa cepat kita tiba di tempat tujuan, tetapi tentang bagaimana kondisi raga kita saat melangkah masuk ke pintu rumah. Jeda singkat di tengah kemacetan adalah bentuk campur tangan semesta untuk mengingatkan kita bahwa tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita kendalikan. Namun, kita selalu bisa mengendalikan bagaimana cara kita bernapas di dalamnya.
Saat lampu lalu lintas akhirnya berganti hijau, melangkah majulah dengan tempo perlahan—walau sesungguhnya sudah pasti pengendara lain di belakang kita akan langsung memburu dengan bunyian klakson—percayalah kita tidak akan selamanya terjebak dalam kemacetan itu, kita tidak sedang tertinggal, kita hanya baru saja memberi ruang bagi jiwa untuk menyusul raga yang terlalu cepat berlari.
Sebab di antara klakson yang bersahut-sahutan dan kepulan asap knalpot yang mengudara, selalu ada temaram jingga hingga tarian awan yang memanjang indah di langit dan menjerit lembut—meminta perhatian kita untuk sekadar dipandang.
Artikel Terkait
-
Productivity Guilt: Rasa Bersalah Memilih Jeda saat Semua Orang Produktif
-
Post-Graduation Slump: Hilang Arah karena Rutinitas Berubah setelah Kuliah
-
Burnout Bukan Prestasi: 5 Tanda Kamu Cuma Sibuk, tapi Nggak Produktif
-
Baju Hitam Melambangkan Apa? Ini 5 Maknanya dalam Fesyen dan Kehidupan
-
Dari Harus Segera ke Aku Bisa Pelan-pelan, Seni Menurunkan Tempo Hidup
Health
-
Sibuk Jalani Hari, tapi Kapan Terakhir Kali Bertanya Aku Baik-Baik Saja?
-
Sering Mengasihani Diri Sendiri? Jangan-Jangan Kamu Lupa Mengambil Jeda
-
Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
Terkini
-
Review Dark Matter Season 2: Perjalanan Takdir Melintasi Dimensi Lain!
-
Productivity Guilt: Rasa Bersalah Memilih Jeda saat Semua Orang Produktif
-
5 Rekomendasi Pore Cleanser Korea untuk Pori-pori Bersih Mendalam
-
Post-Graduation Slump: Hilang Arah karena Rutinitas Berubah setelah Kuliah
-
Review Four Hands Two Sonatas: Kisah Dua Pianis Melawan Trauma Masa Lalu