Pukul sepuluh malam, saya baru saja menutup laptop setelah menyelesaikan deadline artikel untuk hari ini. Tubuh saya lelah, mata saya perih, dan ada rasa hampa yang aneh meski rutinitas ini hampir terjadi setiap hari.
Saya berpindah ke tempat tidur, meraih ponsel, dan mulai menggulir media sosial hingga tertidur. Har-hari lainnya juga berlalu tidak jauh berbeda saat ada deadline yang memang harus segera diselesaikan.
Hidup saya terasa sangat produktif karena jadwal yang padat. Namun, di tengah semua keriuhan dan daftar tugas yang berhasil diselesaikan, saya tersadar akan satu kelalaian besar: saya sibuk mengurus semua hal, kecuali diri saya sendiri.
Kita sering kali menjadi manajer yang hebat untuk pekerjaan, pasangan yang penuh perhatian, atau anak yang berbakti bagi orang tua, bahkan menghabiskan ribuan kata setiap harinya untuk bertanya tentang kabar orang lain, dan menyelesaikan masalah di sekitar kita.
Namun, kapan terakhir kali kita duduk diam, menatap cermin, dan dengan tulus bertanya pada bayangan di sana: “Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu benar-benar baik-baik saja?”
Jebakan "Kesibukan" sebagai Bentuk Pelarian
Bagi saya, menjadi sibuk sempat menjadi sebuah kebanggaan. Ketika kalender kerja penuh dan notifikasi ponsel terus berdering, saya merasa penting dan dibutuhkan. Namun, belakangan saya sadar kalau ini hanya sebuah mekanisme pertahanan diri.
Saya merasa semua kesibukan ini menjadi pelarian yang elegan dari emosi-emosi yang tidak ingin saya hadapi. Saat bergerak tanpa henti, saya tidak memberikan ruang bagi otak dan hati untuk memproses rasa sedih, kecewa, atau lelah.
Saya menumpuk emosi-emosi negatif itu di sudut pikiran, berharap hilang dengan sendirinya. Saya terlalu takut untuk berhenti sejenak karena semua rasa lelah dan kerapuhan yang disembunyikan akan langsung menyeruak ke permukaan begitu saya diam.
Mengabaikan Sinyal Halus dari Tubuh dan Pikiran
Karena jarang berkomunikasi dengan diri sendiri, saya sering kali melewatkan sinyal-sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh. Mulai dari sakit kepala ringan yang tak kunjung hilang, emosi yang mudah tersulut hanya karena masalah sepele, hingga kualitas tidur yang memburuk.
Saya menganggap semua itu hanya kelelahan fisik biasa yang bisa disembuhkan dengan secangkir kopi hitam di pagi hari. Saya pun akhirnya menyadari kalau ini bentuk pengabaian diri seolah diri seperti mesin yang tidak punya rasa.
Menuntut performa maksimal setiap hari, tapi pelit memberikan perhatian emosional. Bertanya "Aku baik-baik saja?" bukan sekadar formalitas, melainkan cara mendeteksi retakan-retakan kecil dalam jiwa sebelum pecah menjadi burnout atau depresi yang parah.
Seni Melakukan Deep Talk dengan Diri Sendiri
Mengubah kebiasaan ini tidaklah mudah, saya akui itu. Pertama kali saya mencoba duduk diam tanpa gawai dan bertanya pada diri sendiri tentang kondisi emosi, rasanya sangat canggung. Pikiran saya menolak dan ingin segera kembali sibuk.
Namun, saya memaksakannya. Saya mulai menulis jurnal kecil setiap malam, menuliskan apa yang sebenarnya saya rasakan hari itu tanpa sensor dan tanpa penghakiman. Saya belajar untuk mengakui bahwa tidak apa-apa jika hari ini gagal, lelah, dan sedang tidak ingin tersenyum.
Menghadapi emosi jujur ini ternyata jauh lebih melegakan dibanding pura-pura kuat di hadapan orang lain. Melalui deep talk dengan diri sendiri ini, saya bisa memberi validasi atas rasa lelah saya dan mencari solusi yang tepat, bukan sekadar mencari pelarian sementara.
Menjadikan Self-Check-In sebagai Rutinitas Wajib
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa merawat diri sendiri bukan selalu tentang pergi ke spa mewah atau liburan ke tempat yang jauh di akhir pekan. Bentuk perawatan diri yang paling mendasar dan paling murah adalah dengan rutin melakukan self-check-in.
Saya pun mulai menyediakan waktu 5 hingga 10 menit setiap hari untuk memeriksa kondisi mental sendiri. Saya rasa, ini langkah yang tepat untuk mulai berhenti bersikap egois pada diri sendiri agar terus berjalan dan memenuhi berbagai tanggung jawab.
Ingat, kita tidak akan bisa memberikan yang terbaik untuk dunia jika ruang di dalam diri sendiri sudah kosong dan rapuh. Mulai hari ini, di sela-sela agenda yang padat, luangkanlah waktu sejenak untuk memberi ruang pada diri sendiri.
Tarik napas dalam-dalam, letakkan tangan di dada, dan bertanya dengan penuh kelembutan: "Bagaimana kondisimu saat ini? Apa yang sedang kamu butuhkan?" Dengarkan jawabannya dengan saksama, karena jiwa kita berhak untuk didengar.
Baca Juga
-
Dari Harus Segera ke Aku Bisa Pelan-pelan, Seni Menurunkan Tempo Hidup
-
Tidak Membuka Medsos Sejenak, Apakah Kita Benar-benar Akan Ketinggalan?
-
Jeda Bukan Berarti Berhenti: Makna Self-Care di Tengah Hidup Serba Cepat
-
Kemewahan Jeda: 10 Menit Tidak Produktif Bukan Berarti Membuang Waktu
-
Dari Hustle Culture ke Pause Culture: Saat Jeda Menjelma Jadi Kebutuhan
Artikel Terkait
Health
-
Sering Mengasihani Diri Sendiri? Jangan-Jangan Kamu Lupa Mengambil Jeda
-
Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Sering Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain? Bisa Jadi Otakmu 'Kelebihan Muatan'
Terkini
-
Xiaojun WayV Umumkan Debut Solo Lewat Mini Album Pertama, 'Hey, Somebody'
-
Saat Minta Maaf Diremehkan: Bahaya Emotional Invalidation dalam Pertemanan
-
Anggaran Perpusnas Dipangkas, tapi Target Literasi Harus Naik: Masuk Akal?
-
Bukan Cuma RGB, Headset Gaming Terbaru iQOO Ini Punya Fitur Mengejutkan
-
The Record of a Fallen Vampire Tayang 2027, Angkat Konflik Vampir-Damphir