Indonesia punya letak geografis dan astronomis yang membuatnya memiliki keanekaragaman bentukan alammelimpah seperti gunung, pegunungan, laut, gua, sungai, danau, lembah, dan lain sebagainya. Salah satu aktivitas yang banyak digemari dengan memanfaatkan potensi wilayah dan alam tersebut ialah pendakian. Namun, tetap saja alam bebas bukanlah kuasa manusia untuk ditahlukkan. Berikut, 6 etika dasar yang wajib kamu pegang teguh saat melakukan pendakian!
Etika Mendaki Gunung yang Harus Dipatuhi Pendaki
1. Jaga Sopan Santun
Satu hal paling penting yang harus kamu perhatikan ialah menjaga sopan santun. Entah kepada sesama manusia ataupun kepada alam itu sendiri. Alam juga adalah bagian dari mahluk hidup yang perlu kita jaga dan hormati keberadaannya. Jadi, usahakan kamu tidak bertindak sembrono dan semena-mena bahkan di tengah hutan sekalipun. Ingatlah, jika kamu juga adalah tamu bagi alam yang perlu menjaga sopan santun. Mulutmu adalah harimaumu, jadi sebisa mungkin jaga mulutmu dari umpatan kotor atau lebih baik diam.
2. Tidak Memetik/Merusak Tanaman Sembarangan
Yang kedua, ialah tidak memetik atau merusak sesuatu sembarangan. Sebenarnya ini berlaku untuk segala hal, tapi utamanya tanaman yang merupakan salah satu mahluk hidup di sana. Ingatlah, tindakan iseng atau yang kamu anggap sepele dan remeh bisa menjadi malapetaka entah bagi diri sendiri atau orang lain. Misalkan mengganti arah penunjuk jalan yang biasanya tertempel di pohon, merusak palang jalan, dan lain sebagainya. Mengganti penunjuk arah merupakan tindakan kriminal fatal yang bisa menyebabkan pendaki tersesat, apalagi merusak palang yang sengaja dipasang karena medan terlalu berbahaya. Ancamannya gak main-main!
3. Jangan Tinggalkan Apapun Selain Jejak
Seringkali kita akan menemui banyak sampah di sepanjang perjalanan yang ditinggalkan para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Meski sudah banyak papan pengingat untuk membawa turun sampahmu, nyatanya kesadaran masyarakat terkait menjaga lingkungan masih terbilang rendah. Mulai dari alasan 'ah cuma satu', 'berat kalau dibawa', 'nanti juga ada yang pungut'dan berbagai macam alasan tidak bertanggung jawab lainnya. Ingatlah, tindakan sepele seperti masih membuang sampah sembarangan bisa menimbulkan bencana yang merugikan banyak orang. Kira-kira dong kalau ngerepotin orang!
4. Jangan Ambil Apapun Selain Gambar
Masih satu paket dengan poin ketiga, kamu juga tidak boleh asal atau sembarangan dalam mengambil sesuatu di gunung tersebut. Kalau yang kamu ambil adalah sampah, itu justru hal positif yang membantu menjaga ekosistem. Tapi jika yang kamu ambil justru tanaman atau satwa di daerah tersebut, kamu perlu berhati-hati! Bisa jadi itu tanaman atau satwa yang dilindungi undang-undang yang justru akan membuatmu terkena denda jutaan rupiah dan dipenjara! Selain itu, emang kamu sudah izin main asal ambil sesuatu yang bukan milikmu?
5. Menghormati Kepercayaan Sekitar
Sudah menjadi sebuah rahasia umum kalau gunung atau alam memiliki kisahnya sendiri. Entah sekadar mitos atau cerita rakyat turun temurun, kamu tetap harus menghormati kepercayaan masyarakat sekitar. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Entah kamu percaya atau tidak, kamu tidak boleh terang-terangan bersikap kurang ajar yang membuatmu dicap lancang.
6. Menjaga Kaki dan Tangan
Etika dasar yang terakhir yakni menjaga kaki dan tanganmu. Maksudnya, perhatikan dengan baik kemana kakimu melangkah dan pada apa tanganmu bertumpu. Medan gunung tak semudah jalanan kota. Bisa jadi ada duri atau lubang yang bisa membuatmu cidera. Juga jangan bersandar pada pohon tumbang atau apapun, salah-salah kalau pohonnya rapuh kamu bisa jatuh ke jurang!
Sekian terkait enam etika dasar pendakian yang wajib kamu jaga, tetap jaga kesehatan dan tingkah laku. Salam lestari!
Baca Juga
-
Belajar dari Krisis 1997: Ketika Rupiah Pernah Terpuruk dan Bangkit Kembali
-
Novel Boulevard of Wedding Dreams: Cara Memaknai Cinta setelah Patah Hati
-
Jangan Menarik Cinta saat Kesepian: Bercermin di Buku Malioboro at Midnight
-
Menambal Luka Masa Kecil di Novel Biantama Karya Carissa Alda
-
Dari Orde Baru ke Reformasi: Kontroversi Barnas dalam Catatan Habibie
Artikel Terkait
-
Idul Adha, Erick Thohir akan Resmikan Masjid dan Rumah Keluarga Besar di Gunung Sugih
-
Pelaksanaan Salat Idul Adha Warga Muhammadiyah di Sejumlah Daerah
-
Erick Thohir akan Resmikan Masjid At Thohir dan Rumah Keluarga Besar Thohir di Gunung Sugih
-
Sapi Kurban Kabur Masuk ke Pasar Argosari Auto Bikin Panik Pedagang, Publik: Mau Cari Bumbu Rendang Dulu Itu
Hobi
-
4 Juara Dunia F1 Belum Cukup, Max Verstappen Incar Nurburgring 24 Jam
-
Bikin Nostalgia! Sally dari Film Cars Kini Hadir lewat Porsche 911 Asli
-
Kecewa Berat, Fabio Quartararo Akui Terlalu Optimis dengan Motor Yamaha V4
-
Batasan Kontestan Asian Games Dicabut, John Herdman Urung Jadi Pengangguran Parsial
-
Komposisi Paling Mewah, Tak Salah John Herdman Jadikan Lini Pertahanan Modal Utama Skuat Garuda
Terkini
-
Pakai Baju Adat Jawa ke Sekolah, Siswa SMAN 4 Yogyakarta Bangga Kenakan Gagrak
-
Belajar dari Krisis 1997: Ketika Rupiah Pernah Terpuruk dan Bangkit Kembali
-
Mudik Tanpa Internet? Ini Cara Pakai Google Maps Offline agar Bisa Navigasi
-
Nobar Pelangi di Mars, Yoursay Kumpulkan 250 Anggota Komunitas Parenting Yogyakarta
-
Novel Boulevard of Wedding Dreams: Cara Memaknai Cinta setelah Patah Hati