Novel Biantama: Way Back Home karya Carissa Alda terbit pada September 2024. Melalui perjalanan tokoh utamanya, pembaca diajak memahami bagaimana luka emosional dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, hubungan, dan arti “rumah”.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Sabian Aditama, atau yang akrab dipanggil Bian. Di mata orang lain, Bian hanyalah seorang remaja laki-laki yang pendiam, polos, dan tidak banyak bicara. Ia terlihat baik-baik saja, bahkan cenderung dianggap anak yang tidak pernah membuat masalah.
Sinopsis Novel
Di balik sikap diamnya, Bian menyimpan banyak kegelisahan. Ia tumbuh dalam keluarga yang gagal membangun komunikasi yang sehat. Hubungan antara Mama, Papa, dan dirinya berjalan tanpa kedekatan emosional yang cukup. Selama bertahun-tahun, Bian memilih memendam perasaan, keluhan, dan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Sikap pendiamnya bukanlah sifat alami semata, melainkan bentuk pertahanan diri dari situasi keluarga yang tidak memberinya ruang untuk berbicara. Ia belajar menyimpan segalanya sendiri.
Kehidupan Bian mulai berubah ketika ia bertemu seorang perempuan yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Untuk pertama kalinya, Bian merasa ada seseorang yang benar-benar memperhatikan apa yang ia rasakan.
Perhatian itu memberikan rasa nyaman yang selama ini tidak ia dapatkan di rumah. Namun karena kekosongan emosional yang lama ia rasakan, Bian keliru menafsirkan perasaan tersebut. Ia menganggap kenyamanan itu sebagai cinta.
Kesalahpahaman emosional ini justru memicu konflik baru dalam kehidupannya. Hubungannya dengan orang tua semakin renggang, sementara Bian mulai mempertanyakan banyak hal tentang dirinya sendiri.
Di titik inilah cerita berkembang menjadi perjalanan pencarian diri. Bian tidak hanya berhadapan dengan perasaan terhadap orang lain, tetapi juga dengan luka lama yang selama ini ia hindari.
Sepanjang cerita, Bian harus belajar membedakan antara perhatian, kenyamanan, dan cinta yang sebenarnya. Ia juga mulai menyadari bahwa konflik dalam keluarganya tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari pola komunikasi yang tidak sehat selama bertahun-tahun.
Perjalanan emosional Bian digambarkan secara perlahan. Ia mulai memahami perasaan orang tuanya, menghadapi masa lalunya, dan berusaha memperbaiki hubungan yang telah lama renggang.
Pertanyaan besar yang menjadi inti cerita adalah: apakah Bian mampu memperbaiki keadaan keluarganya dan menemukan kembali makna rumah yang sesungguhnya?
Kilas balik di novel ini berfungsi mengungkap pengalaman masa lalu yang membentuk karakter Bian dan menjelaskan sumber konflik emosionalnya.
Tidak ada konflik fisik besar atau adegan dramatis yang berlebihan. Ketegangan cerita justru muncul dari pergulatan batin tokoh utama. Cara ini membuat pembaca lebih fokus pada perjalanan psikologis Bian.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya bahasa yang digunakan Carissa Alda tergolong sederhana namun puitis. Kalimat-kalimatnya tidak panjang, tetapi sarat makna emosional. Pilihan kata yang lembut membuat cerita terasa intim, seolah pembaca sedang membaca catatan perasaan seseorang.
Pendekatan ini membuat pembaca lebih mudah terhubung dengan tokoh utama. Banyak bagian cerita terasa reflektif, mengajak pembaca merenungkan pengalaman hidup mereka sendiri, terutama tentang hubungan dengan keluarga.
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah pesan tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga. Banyak konflik emosional dalam kehidupan nyata sebenarnya berawal dari hal yang sama: perasaan yang tidak pernah diungkapkan.
Melalui kisah Bian, pembaca diajak menyadari bahwa diam tidak selalu berarti baik-baik saja. Kadang, seseorang hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya.
Meski Biantama: Way Back Home, ceritanya cenderung berkembang secara perlahan, tetapi justru memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan banyak hal tentang hubungan, luka emosional, dan arti pulang ke rumah.
Identitas Buku
- Judul: Biantama (Way Back Home)
- Penulis: Carissa Alda
- Penerbit: Coconut Books
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 320 halaman
- ISBN: 978-623-10-2384-1
- Genre: Fiksi/Novel Remaja
Baca Juga
-
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Krisis 1998 dan Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
Artikel Terkait
-
The Adventures of Tom Sawyer: Kenakalan yang Menghidupkan Masa Kecil
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Predator Berjubah Dokter: Mengurai Benang Kusut Nafsu dalam Mimpi Ayahku
-
Kenakalan Miss Keriting, si Guru Matematika di Novel Selena Karya Tere Liye
-
Lebih dari Sekadar Romantisasi Kematian: Review Novel Berpayung Tuhan
Ulasan
-
Film Disclosure Day Mengguncang Iman dan Keyakinan Manusia, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Daging Empuk hingga Ceker Lumer: Mengintip Menu Andalan di Sate Padang Doni
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
Terkini
-
Saat Homer Bertemu Nolan: Alasan 'The Odyssey' Wajib Jadi Film yang Kamu Tunggu di 2026.
-
Mengapa Revolusi Tidak Lahir dari Tagar
-
Elegi Hujan Bulan Juni: Merawat Tabah di Tengah Badai Rupiah yang Tiarap
-
Laut Bercerita Akhirnya Difilmkan: Sebuah Pengingat Akan Luka yang Belum Usai
-
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang