Peningkatan performa yang signifikan dari Timnas Indonesia pasca melakukan program naturalisasi pemain ternyata mengundang negara-negara tetangga ingin melakukan hal serupa. Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu negara yang terkesan dan ingin melakukan naturalisasi pemain layaknya Indonesia adalah Timnas Malaysia.
Bahkan, jika kita lihat dalam susunan skuat terakhir Harimau Malaya di gelaran Piala Asia 2023 lalu, sebagian besar pemain utama yang dibawa oleh pelatih Kim Pan-gon merupakan pemain hasil naturalisasi. Namun sayangnya, meskipun telah mengangkut belasan pemain naturalisasi dalam skuatnya, Malaysia tetap menampilkan performa yang jeblok selama turnamen berlangsung.
Hal itulah yang tampaknya membuat Presiden Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) Datuk Hamidin Mohd. Amin angkat bicara. Banyaknya pemain naturalisasi dalam tubuh skuat Harimau Malaya namun tak memberikan dampak positif kepada permainan tim, membuat dirinya tak ingin lagi gegabah dalam melakukan alih pindah kewarganegaraan pemain.
Dalam statemen terbarunya sepertimana melansir laman harimaumalaya.com.my (8/5/2024), pemimpin tertinggi di persepakbolaan Malaysia tersebut menyatakan bahwa pihaknya akan lebih selektif dalam memproses naturalisasi pemain keturunan.
"Sepertimana yang saya maklum kepada barisan pelatih dari pasukan Timnas Senior maupun junior, kita akan ambil pemain keturunan yang berkualitas untuk mewakili negara," ujar Datuk Hamidin.
Tak hanya itu, dalam statemen yang diberikannya, pria yang tengah didesak untuk mundur dari jabatannya tersebut juga menyinggung terkait Indonesia.
"Tapi ingat, kita tak sama dengan Filipina dan Indonesia, karena mereka mempunyai banyak pemain keturunan yang bisa mereka pilih, baik kualitas maupun jumlahnya. Sementara kita sangat terbatas," lanjutnya.
"Mungkin apa yang cocok di Indonesia saat ini, bisa jadi tak cocok di Malaysia. Jadi, kita lihat terlebih daulu, karena tak semestinya apa yang berhasil di Indonesia, bisa diterapkan pula di Malaysia," tukasnya memberikan perbandingan antara kondisi Indonesia dan Malaysia.
Sekarang kita tinggal melihat, bagaimana langkah selanjutnya dari FAM ini. Apakah mereka akan benar-benar serius seperti Indonesia yang mencari para pemain keturunan yang berkualitas untuk mengisi skuat mereka, ataukah masih saja melakukan hal yang sama seperti selama ini, di mana mereka asal-asalan dalam menggaet pemain yang mau dinaturalisasi?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
Artikel Terkait
-
Presiden FAM Berminat Gelar Laga Uji Coba Antara Indonesia vs Malaysia
-
Dihujat karena Main Egois saat Lawan Irak, Shin Tae-yong Akui Marselino Ferdinan Salah: Saya Mohon Maaf
-
Shin Tae-yong Gemetar Lihat Banyak Pemain Guinea dari Klub Eropa: Ini Tim Kuat
-
Shin Tae-yong Kecewa Justin Hubner Tak Dilepas Klub: Saya Merasa Kesulitan
-
Shin Tae-yong Bawa Kabar Buruk Jelang Timnas Indonesia Lawan Guinea: Lini Belakang Hampir Runtuh
Hobi
-
Rekornya Terputus, Marco Bezzecchi Akui Tak Mudah Lawan Alex Marquez
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
GILA! Mesin Ferrari F355 Dipasang ke Motor, Tenaganya 375 HP Brutal!
-
Kimi Antonelli Merasa Lebih Siap untuk F1 GP Miami 2026, Bakal Hattrick?
Terkini
-
Diisi Para Aktor Ternama, Netflix Produksi Film Politik Baru The Generals
-
Review Jujur Dilan ITB 1997: Apakah Layak Ditonton atau Hanya Mengandalkan Nostalgia?
-
Mengulik Didikan Keras yang Mencetak Mega Bintang, Film Michael
-
Pendidikan untuk Perempuan: Kunci Memutus Rantai Ketimpangan, Sudah on Track?
-
Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?