Dua kondisi berbeda dirasakan oleh penyerang andalan Timnas Indonesia U-23 di gelaran Piala AFF U-23 edisi kali ini. Di satu sisi, dirinya harus menjadi bagian dari kekalahan menyakitkan yang dialami oleh Pasukan Muda Merah Putih di partai final gelaran.
Sementara di sisi lainnya, kapasitasnya sebagai seorang predator nan haus gol mendapatkan pengakuan yang cukup luas, di mana dirinya dinobatkan sebagai pemegang gelar top skorer kejuaraan.
Menyadur data dari laman AFF, Jens Raven yang menorehkan total tujuh gol di sepanjang jalannya kampanye Indonesia menuju partai final, tak terkejar oleh para pemain lainnya. Bahkan, lesakan yang dimiliki oleh pemain berusia 19 tahun tersebut masih berjarak empat gol dari pesaing terdekatnya, Otu Banatao dari Filipina yang selama bergulirnya pagelaran hanya mampu membuat total tiga lesakan saja.
Namun sayangnya, gelar individual yang sejatinya cukup prestisius tersebut kali ini terasa begitu hambar bagi mantan penyerang Dordrecht U-21 tersebut. Alasannya pun cukup jelas, karena ketika dirinya dinobatkan sebagai penyabet gelar pencetak gol terbanyak di turnamen, Timnas Indonesia U-23 mengalami nasib pahit, yakni gagal mengangkat trofi di kandang sendiri karena kalah tragis dari Vietnam.
Sebagai seorang pemain sepak bola profesional, orientasi utama bagi bagi mereka adalah membawa kejayaan bagi tim yang dibelanya. Pun demikian halnya dengan Jens Raven. Bahkan mungkin jika diperbolehkan untuk memilih, tentunya Jens Raven akan memilih agar Indonesia U-23 menjadi juara di turnamen jika dibandingkan dirinya mendapatkan gelar individu yang hanya bisa dinikmatinya seorang diri.
Sebuah mindset yang tentunya sangat wajar dan memang dimiliki oleh para pemain sepak bola manapun. Karena bagi mereka, kejayaan tim atau negara yang dibelanya, menjadi sebuah prioritas yang berada di atas segala pencapaian gelar individu yang ada.
Catatan Apik Jens Raven di Turnamen Piala AFF U-23 Edisi 2025
Secara statistik, Jens Raven sendiri memang tampil apik bersama Timnas Indonesia di pentas Piala AFF U-23 edisi kali ini. Menurut data yang dirilis oleh laman aseanutdfc, Raven menjadi top skorer dengan lesakan total tujuh gol dari lima laga yang dijalaninya bersama Timnas Indonesia.
Rataan gol per menitnya pun terbilang baik, di mana data AFF menunjukkan, pemain yang kini memperkuat Bali United tersebut rata-rata bisa menciptakan satu golnya dalam rentang waktu 60 menit permainan.
Rentangan tersebut terbilang jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan para pesaingnya yang lain. Seperti misal Otu Banatao yang menduduki peringkat kedua dengan lesakan tiga gol, rata-rata menciptakan satu gol dalam 130 menit permainan, atau Haqimi Azim Rosli dari Malaysia yang menciptakan dua gol sepanjang turnamen, memiliki rataan 105 menit untuk satu gol yang diciptakannya.
Bukan hanya melulu tentang menciptakan gol, Jens Raven juga unggul dalam hal melepaskan tembakan dan tembakan yang mengarah ke gawang. Dalam lima pertandingan yang dijalaninya di turnamen ini, pemain kelahiran Dordrecht, Belanda tersebut mampu melepaskan 16 tembakan ke gawang, di mana 10 di antaranya mengarah ke gawang lawan atau berbuah gol.
Namun sayangnya, catatan penyerangan impresif yang dimiliki oleh Jens Raven ini sekali lagi terasa hambar bagi sang pemain. Meskipun dirinya dinobatkan sebagai penyerang terbaik di turnamen kali ini, namun kegagalannya membawa Indonesia U-23 untuk berjaya di perhelatan menjadi sebuah kenyataan yang akan terus mengganjal dalam hatinya, sepertimana yang terjadi pada Ilhan Jayakesuma di gelaran Piala AFF senior edisi 2004 lalu.
Kita harapkan, semoga saja suatu saat nanti Jens Raven mampu mengawinkan gelar individu seperti yang didapatkannya saat ini dengan gelar juara bagi Timnas Indonesia. Agar rasa hambar nan mengganjal dalam dirinya tak menjadi sebuah rasa sesal yang bakal berkepanjangan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
Artikel Terkait
-
Kasihan Thom Haye, Dia Sekarang Sendiri
-
Kesan Emil Audero Usai Gabung Klub Serie A US Cremonese
-
Yussa Nugraha: Belum Ada Bukti Thijs Dallinga Punya Darah Keturunan Indonesia
-
Eks Pelatih Eredivisie Sudah Tak Sabar Latih Jens Raven
-
Pelatih Lokal Ini Calon Kuat Gantikan Gerald Vanenburg, Prestasi Segudang Andalan di Saat Genting
Hobi
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
GILA! Mesin Ferrari F355 Dipasang ke Motor, Tenaganya 375 HP Brutal!
-
Kimi Antonelli Merasa Lebih Siap untuk F1 GP Miami 2026, Bakal Hattrick?
-
Venue Playoffs MPL ID S17 Diumumkan, Jakarta Velodrome Jadi Tuan Rumah
Terkini
-
Manga Blue Box Tembus 10 Juta Kopi, Season 2 Anime Siap Tayang Oktober
-
4 Serum Retinol dan Hyaluronic Acid untuk Lawan Penuaan tanpa Kulit Iritasi
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya
-
HONOR Win H9: Laptop Gaming yang Mengurangi Rasa Pusing hingga 58%
-
Cara Dengerin Musik Cermin Cara Mencintai: Si Telinga Detail Pasti Relate