Sekar Anindyah Lamase | Desyta Rina Marta Guritno
Max Verstappen (Instagram/maxverstappen1)
Desyta Rina Marta Guritno

Gelaran GP China 2026 pekan lalu menjadi hari yang mengecewakan bagi pembalap Red Bull, Max Verstappen. Pasalnya, Max mengalami gagal finis akibat masalah teknis pada mobilnya.

Sebelumnya pada sesi sprint race, Max sebenarnya juga sudah kecewa dengan penampilannya. Pembalap asal Belanda ini start dari posisi ke-8, tapi langsung merosot ke posisi ke-14 pada lap pertama karena start yang lambat.

Pada akhirnya, Max hanya bisa finis di posisi 9 dan gagal mengumpulkan poin di sesi balap cepat itu. Max mengeluhkan degradasi ban yang sulit dikendalikan dan kurangnya cengkeraman (grip), terutama di tikungan.

Berlanjut ke hari Minggu atau sesi balap utama, Max mengawali balapan dari posisi ke-8, tapi dia harus mengakhiri balapan lebih awal setelah kompetisi tersebut berjalan 45 putaran.

Ketika ditanyai tentang penyebab kemundurannya, Max menjelaskan bahwa masalah yang dia alami hari Minggu sama dengan yang dia temui di hari Sabtu. Ban yang dia pakai mengalami keausan dan terdapat masalah pada sistem pendingin.

Masalah yang sama seperti kemarin di awal, jadi kami berada di posisi terakhir lagi, dan kemudian mencoba untuk maju tetapi lagi-lagi (kami mengalami) masalah yang sama seperti di Sprint, di mana ada banyak keausan, banyak penggerusan pada ban. Hal itu selalu membuat segalanya menjadi sangat rumit, dan kemudian kami harus memensiunkan mobil tersebut karena masalah pendinginan ERS," ujar Max, dilansir dari situs resmi Formula 1, formula1.com.

Meskipun performa sprint dan main race-nya sangat mengecewakan, Max enggan menyalahkan pihak mana pun, dia mengungkapkan bahwa kegagalan ini tak hanya membuat dia saja yang merasa frustrasi, tapi timnya juga.

Ya, maksud saya banyak yang bisa dipelajari. Ini jelas bukan posisi yang kami inginkan, tentu saja, tetapi saya juga tahu bahwa tim memberikan segalanya, jadi ini membuat frustrasi bagi saya tetapi juga membuat frustrasi bagi mereka," tambah Max.

Lebih lanjut, mereka pun akan segera mencari tahu apa permasalahan yang ada pada mobil dan kemudian memperbaikinya.

Setelah ini, F1 akan langsung menyelenggarakan GP Jepang pada tanggal 29 Maret 2026 mendatang, mungkin dengan waktu sesingkat ini mereka akan mencoba alternatif yang lebih cepat untuk mengatasi permasalahan.

Namun, F1 akan libur sekitar 1 bulan dan baru akan dimulai lagi di seri Miami pada tanggal 4 Mei 2026. Dengan jangka waktu istirahat yang cukup panjang ini Max berharap bisa menyelesaikan masalah sehingga datang ke Miami dengan performa yang lebih baik.

Pada akhirnya, kita perlu mencoba dan mencari solusinya bersama-sama. Tentu saja, kami akan berusaha tampil lebih baik untuk pertandingan melawan Jepang, tetapi setelah itu kami memiliki waktu istirahat yang lebih lama yang mudah-mudahan dapat kami gunakan untuk menyelesaikan beberapa hal," katanya.

Performa Red Bull dan Max Verstappen ini ternyata juga disorot oleh Bos Mercedes, Toto Wolff. Menurut Wolff, dari kamera on board yang terpasang, mobil Max sangat mengerikan untuk dikendarai.

Maksud saya, Max benar-benar berada dalam situasi yang mengerikan. Jika Anda melihat rekaman onboard yang dia miliki saat kualifikasi kemarin, itu sangat mengerikan untuk dikendarai," ujar Toto, dilansir dari F1 Oversteer.

Meskipun mengalami banyak masalah, Max Verstappen dan Red Bull masih memiliki asa untuk kembali ke performa terbaik. Dibuktikan dengan hasil di GP Australia lalu dan penampilan Isack Hadjar di GP China yang finis P8 usai mengalami insiden dengan Ollie Bearman.