Pemain bintang Timnas Prancis, Kylian Mbappe, menjadi katalisator utama dalam kemenangan Les Bleus di partai perdana mereka di Piala Dunia 2026. Pada pertarungan yang berlangsung cukup berimbang melawan Senegal di New York/New Jersey Stadium (17/6), pemain Real Madrid tersebut menjadi aktor utama pembalasan dendam raksasa sepak bola dunia itu atas sang lawan.
Berdasarkan rilisan laman match report FIFA, Mbappe yang tampil spartan pada pertarungan itu sukses menyumbangkan dua gol bagi kemenangan 3-1 Les Bleus. Gol pertama Mbappe, diciptakan pada menit ke-66 melalui akselerasi penyelinapan yang apik, sementara gol kedua diciptakan melalui tembakan jarak jauh mematikan dari luar kotak penalti pada menit ke-90+6.
Dari laman yang sama diinformasikan, satu gol lagi kemenangan Prancis, tercipta pada menit ke-82 melalui sontekan manis Bradley Barcola, sementara satu-satunya gol hiburan bagi Senegal tercipta pada menit ke-90+5 melalui tembakan keras Ibrahim Mbaye yang gagal diantisipasi dengan baik oleh penjaga gawang Maignan.
Bagi Timnas Prancis dan para pendukungnya, kemenangan tim kebanggaan mereka atas Senegal kali ini bukanlah sebuah hal yang terbilang biasa saja. Pasalnya, kemenangan yang diraih oleh Kylian Mbappé dan kolega pada pertarungan melawan Senegal itu, merupakan manifestasi dari kesumat Prancis yang sudah terpendam selama kurang lebih 24 tahun lamanya.
Iya, dengan kata lain, kemenangan Prancis atas Senegal di Piala Dunia 2026 ini, merupakan sebuah balasan yang cukup setimpal atas kekalahan yang mereka derita di tahun 2002 lalu saat keduanya bersua pada laga pembuka Piala Dunia 2002 yang dihelat di Jepang dan Korea Selatan.
Kekalahan 24 Tahun Lalu yang Sempat Membuat FIFA Pusing dan Ubah Kebijakan
Seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, kemenangan Timnas Prancis atas Senegal ini adalah ketuntasan sebuah dendam yang telah terpendam selama kurang lebih 24 tahun.
Semuanya bermula ketika Prancis yang datang ke Piala Dunia 2002 dengan label sebagai juara Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000,di luar dugaan justru diobok-obok oleh Senegal yang saat itu masih terbilang sebagai tim "antah-berantah". Pasca kejadian tersebut, kedua kesebelasan tercatat belum pernah sekalipun bertemu hingga tahun 2026 ini.
Praktis, selama rentangan tahun 2002 hingga 2026 ini, Timnas Prancis dan para pendukungnya, hanya bisa memendam kesumat dalam diri mereka, sembari berharap menemukan kesempatan yang tepat untuk melakukan pembalasan.
Beruntungnya, setelah melewati lima gelaran Piala Dunia dan berbagai turnamen internasional, Prancis akhirnya dipertemukan kembali dengan Senegal, di ajang yang sama ketika mereka terkena sengatan Senegal 24 tahun yang lalu.
Sejatinya, ada sebuah fakta yang cukup menarik jika kita melihat sejarah pertemuan kedua kesebelasan ini di panggung dunia. Sebuah fakta yang pada akhirnya mengubah wajah kebijakan FIFA, bahkan hingga saat ini.
Patut untuk diketahui, gara-gara kekalahan Prancis dari Senegal 24 tahun lalu, induk sepak bola dunia, FIFA bahkan sampai turun tangan dan mengeluarkan kebijakan baru yang diberlakukan sampai sekarang.
Sekadar menginformasikan, laman history FIFA mencatat, setelah kekalahan di laga perdana Grup A melawan Senegal, Prancis seperti "kena mental" dan tampil sangat buruk di gelaran Piala Dunia 2002.
Bagaimana tidak, tim yang datang dengan membawa dua label supremasi tertinggi di kompetisi antarnegara, justru menjadi bulan-bulanan tim sekelas Denmark, Uruguay dan tentu saja Senegal. Di klasemen akhir Grup A, Prancis sama sekali tak menunjukkan marwah sebagai tim besar, dan finish di posisi juru kunci kumpulan.
Pasca hancur-leburnya Prancis di Piala Dunia 2002 lalu, FIFA langsung bereaksi dan mengubah aturan yang saat itu berlaku. Setelah melalui evaluasi perjalanan Timnas Prancis di Piala Dunia 2002, FIFA akhirnya menarik sebuah simpulan bahwa faktor terbesar jebloknya performa sang Juara Bertahan itu dikarenakan ketidaksiapan mereka dalam menghadapi persaingan di turnamen sebesar Piala Dunia.
Alasan itu muncul karena Prancis sendiri saat itu terlena ketika mendapatkan privilege untuk lolos otomatis. Memang, sebelum Piala Dunia 2002, FIFA sendiri memiliki kebijakan bahwa tim yang menjadi juara bertahan turnamen, akan otomatis lolos ke turnamen edisi berikutnya, tanpa perlu bersusah-payah bertarung di babak kualifikasi.
Imbasnya, ketika tim-tim lain bersiap dengan sepenuh sumber daya menggapai tiket putaran final, Prancis justru bersantai-santai dan melakukan persiapan seadanya saja. Memang, mereka juga menyiapkan laga-laga uji coba dalam rentangan waktu itu. Namun patut dicatat, persiapan yang mereka lakukan itu tentu saja bukan melawan tim dengan tier utama kekuatan sepak bola dunia karena tim-tim itu sedang sibuk bertarung berebut tiket kejuaraan.
Dampaknya pun tak main-main. Prancis yang datang ke Benua Asia dengan label mentereng dan terkesan kokoh dalam balutan nama besar dan juaranya, sebenarnya adalah tim yang keropos di dalam imbas tanpa persiapan yang matang.
Alhasil, setelah Prancis diempaskan oleh Senegal di laga pertama, kemudian berturut-turut juga mencapatkan hasil yang tak maksimal ketika berjumpa Uruguay dan Denmark, FIFA melakukan evaluasi menyeluruh.
Belajar dari kejadian yang menimpa Prancis, Induk Sepak Bola Dunia yang sempat pusing akhirnya memutuskan untuk mengubah aturan bahwa tim yang berstatus juara turnamen, tetap diwajibkan untuk mengikuti babak kualifikasi sebagai tahap persiapan sekaligus penentu kelayakan keikutsertaan mereka pada turnamen yang sesungguhnya.
Sebuah kebijakan yang diputuskan, hanya beberapa waktu saja setelah Prancis terkena sengatan dari Senegal yang saat itu bukanlah tim besar di persepakbolaan dunia.
Andai saja 24 tahun lalu Prancis bisa memenangi pertarungan melawan Senegal seperti pada pertarungan kali ini, mungkin saja aturan FIFA yang memberikan tiket lolos otomatis bagi juara bertahan masih akan terus diberlakukan ya?
Baca Juga
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
Tiga Poin Australia dan Permainan Pragmatis Ala STY yang Tak Haram Dimainkan di Guliran Piala Dunia
-
Piala Dunia 2026 dan Poin Perdana Qatar yang Sejatinya Tak Begitu Membantu Mereka di Kontestasi
-
Piala Dunia 2026, Timnas Qatar dan Kelayakan Semu The Maroon Tampil di Putaran Final Gelaran
Artikel Terkait
-
Jelang Debut Bersejarah di Piala Dunia 2026, Kapten Yordania Tegaskan Skuadnya Tanpa Beban
-
Kylian Mbappe Lampaui Rekor Gol Lionel Messi di Piala Dunia
-
Kylian Mbappe: Kalau Mau Bungkam Semua Kritikus, Saya Harus Main Sampai Umur 80 Tahun
-
Kalah dari Prancis, Edouard Mendy Sesalkan Senegal yang Gagal Tingkatkan Level Permainan
-
Son Heung-min Jadi Korban Ejekan, Timnas Korea Selatan Boikot Media di Piala Dunia 2026
Hobi
-
Resmi Disetujui DPR, Mengapa PSSI Ngotot Naturalisasi Pemain Liga Amatir?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
Terkini
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Gus Dur dalam Lensa Greg Barton: Potret Utuh Presiden Keempat Indonesia
-
3 Tahun Kabar Terdepan: Merajut Keberagaman, Mengawal Kebenaran
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Ulasan Serial Zomvivor: Drama Horor Thriller dengan Efek Visual Luar Biasa!