Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Para pemain Kanada berselebrasi setelah menjebol gawang Qatar di Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Tuan rumah Piala Dunia edisi tahun 2022, Qatar mengalami mimpi buruk di pertandingan kedua Grup B guliran Piala Dunia 2026. Bertarung melawan Kanada di BC Place, Vancouver, Kanada, tim berjuluk The Maroon itu harus mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi.

Bukan hanya harus menderita kekalahan hingga setengah lusin gol tanpa balas, pada pertandingan yang berjalan tak seimbang tersebut wakil benua Asia itu juga harus mendapatkan ganjaran dua kartu merah sekaligus.

Tercatat, berdasarkan rilis dari laman match report FIFA, dua pemain Qatar, yakni Homam Ahmed dan Assim Madibo, harus mandi lebih cepat ketimbang rekan-rekannya setelah mendapatkan kartu merah langsung pada menit ke-33 dan 51.

Sementara enam gol yang membuat Qatar tak berdaya di pertandingan itu, dilesakkan oleh Cyle Larin pada menit ke-16, Nathan Saliba di menit ke-6, gol bunuh diri Mohamed Manai di menit ke-75 dan hat-trick penyerang andalan tuan rumah, Jonathan David pada menit ke-29, 45+3 dan 90+2.

Imbas dari kekalahan telak ini, Qatar yang masih setia dengan satu poin hasil dari pertandingan pertama melawan Swiss, masih terdampar di posisi dasar klasemen Grup B, dan membutuhkan keajaiban besar untuk bisa lolos ke fase selanjutnya.

Tanpa Bantuan AFC, Qatar Tak Lebih Baik dari Tim Semenjana Asia

Dalam sebuah pertarungan, menang dan kalah adalah sebuah hal yang terbilang biasa. Namun dalam pandangan saya, kekalahan yang diderita oleh Qatar dari Timnas Kanada ini terlihat jauh daripada itu.

Bagi saya pribadi, kekalahan telak yang didapatkan Qatar justru memperlihatkan kualitas mereka yang sebenarnya. Ibarat kata, sejatinya Timnas Qatar yang memiliki label sebagai kampiun Benua Asia di dua edisi terakhir, ternyata "bukanlah apa-apa", terlebih lagi jika mereka tak mendapatkan bantuan dari AFC alias Induk Sepak Bola Benua Asia.

Saya pribadi mengakui, di tataran persepakbolaan Benua Kuning, Timnas Qatar sendiri memang termasuk sebagai negara yang kuat dan memiliki kualitas cukup baik. Namun jika dikatakan bahwa mereka layak menjadi tim terbaik di konfederasi, saya sendiri masih cukup meragukan sebutan itu.

Alasannya cukup simpel, karena Timnas Qatar sendiri (beserta beberapa negara yang berasal dari kawasan Asia Barat) kerap kali mendapatkan "keuntungan" dari AFC baik dalam hal kebijakan yang diambil, maupun ketika pertandingan berjalan.

Atau dengan kata lain, jika kita mau sedikit buka-bukaan, dalam komunitas persepakbolaan Benua Asia, Qatar dikenal sebagai "Anak Emas" Induk Sepak Bola benua Kuning karena seringnya mereka mendapatkan keuntungan.

Sebutan ini tentunya tanpa sebab. Karena dalam berbagai kesempatan, kita selaku penggemar sepak bola kerap kali disuguhkan dengan bermacam hal yang jelas-jelas sangat menguntungkan Timnas Qatar ini.

Bukti terbaru, tentu saja kita masih ingat dengan keputusan AFC yang memutuskan Qatar sebagai salah satu tuan rumah ronde keempat babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Sebuah keputusan mengada-ada yang pada akhirnya berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh mereka, sehingga satu slot tiket putaran final Piala Dunia 2026 ini berhasil mereka genggam untuk kali pertama dari jalur non-tuan rumah.

Sebelumnya? Ada banyak! Contoh yang paling menyakitkan bagi saya pribadi, meskipun bukan Timnas Indonesia yang mengalami adalah kejadian final Piala Asia edisi tahun 2023 kemarin. 

Pada laga final melawan Yordania, Qatar yang bertindak sebagai tuan rumah pagelaran, sejatinya mendapatkan perlawanan yang cukup keras dari sang lawan. Bahkan jika kita fair, pada laga final tersebut, Yordania lebih pantas untuk menjadi kampiun kejuaraan karena permainan mereka yang cenderung lebih baik ketimbang sang lawan.

Namun apa yang terjadi? Pertandingan final itu berakhir untuk kemenangan kubu tuan rumah dengan skor 3-1 yang mana tiga gol tuan rumah, semuanya diciptakan oleh Akram Afif dari titik penalti!

Iya, teman-teman pembaca tidak salah, tiga gol kemenangan Qatar atas Yordania di laga final Piala Asia 2023 lalu, semuanya diciptakan dari titik putih, yang mana penyebab ketiga penalti itu semuanya adalah trik licik dari tim tuan rumah.

Penalti pertama, terjadi karena Akram Afif melakukan diving setelah mendapatkan kontak yang minim, pun demikian dengan gol kedua. Sementara gol ketiga memang terjadi benturan one-on-one antara Akram Afif dan penjaga gawang Yordania, namun pemberian penalti atas insiden tersebut sangatlah debatable bahkan tak masuk akal karena posisi bola yang fifty-fifty dan  sudah cenderung lepas dari penguasaan Afif.

Dan yang lebih membuat saya pribadi muak adalah, setelah mencetak tiga gol dari titik penalti tersebut, Akram Afif dengan bangganya melakukan selebrasi seolah dirinya menciptakan gol dari permainan terbuka yang fair.

Sekarang coba kita pikirkan bersama, kira-kira apa namanya jika Qatar bukan anak emas dari AFC? Memberikan tiga penalti dalam satu pertandingan saja sudah merupakan sebuah kejadian luar biasa, apalagi hal itu sampai dilakukan pada partai final yang mana pemenangnya berhak menyandang gelar juara? Apa coba namanya?

Selain kejadian di atas, masih banyak lagi keuntungan yang didapatkan oleh Qatar ketika mereka turut serta di kompetisi level benua. Termasuk di antaranya adalah ketika mereka mengerjai habis-habisan Timnas Indonesia di ajang Piala Asia U-23 edisi 2024 lalu.

Namun patut diingat, kuasa AFC untuk membantu Qatar hanya berlaku hingga level benua saja. Kedigdayaan Qatar yang selalu terlihat superior di pentas benua itu ternyata tak berlanjut di level yang lebih tinggi.

Buktinya pun terlihat di guliran Piala Dunia dua edisi terakhir. Tanpa bantuan dari AFC—yang saya yakin kali ini tak memiliki kuasa karena kalah tinggi dengan FIFA—Qatar menjadi bulan-bulanan tim lain di pentas Piala Dunia. 

Bukan hanya di pertandingan melawan Kanada ini, ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2022 lalu pun mereka juga tak mampu bersaing dengan tim-tim lain yang secara kualitas bukanlah kekuatan sepak bola utama dunia.

Dan kali ini, ketika mereka berhadapan dengan Kanada—yang saya yakin langkahnya tak akan terlalu jauh meskipun bertindak sebagai tuan rumah—Qatar sudah kelihatan babak belur karena tak adanya perlindungan dari AFC.

Saya yakin, jika saja pertandingan ini terjadi di level benua yang menjadi wewenang AFC, Qatar mungkin tak akan mendapatkan kartu merah hingga dua biji. Toh, ketika melawan Indonesia dulu bukankah pemain mereka yang salah, namun yang justru mendapatkan hukuman adalah Rizky Ridho?

Dan lagi, Bukankah hal ini juga merupakan sebuah bukti sahih jika sebenarnya kualitas Qatar sendiri tidaklah mengerikan jika tak ada campur tangan dari AFC? Tanpa adanya bantuan dari AFC, Qatar bukanlah negara dengan kekuatan sepak bola yang mengerikan, bukan?

Bahkan, meskipun Qatar memiliki label dua gelar juara Asia dan melakukannya dengan cara back to back, namun saya berani berpendapat, bahwa kekuatan sebenarnya yang mereka miliki tidaklah terlalu berbeda jauh dengan tim-tim semenjana benua Asia, termasuk Indonesia saat ini.

Jadi, bagi teman-teman yang ingin menyaksikan kekuatan sepak bola Timnas Qatar yang sebenarnya, silakan menyaksikan mereka di pertandingan level dunia. Karena sudah pasti, mereka akan bermain tanpa perlindungan dan bantuan dari "Papa AFC".