Babak 32 besar gelaran Piala Dunia 2026 menjadi kuburan bagi tim-tim besar. Setelah Jerman dan Belanda, Kroasia pada akhirnya harus menyusul. Tak hanya terhenti, pulangnya Kroasia juga menjadi pengakhir dari tarian salah satu legenda hidup sepak bola dunia saat ini, Luka Modrik. Ironisnya, perjalanan panjang Modric di level tertinggi persepakbolaan dunia, justru harus berakhir di kaki sahabat karibnya sendiri, Cristiano Ronaldo.
Sebelum pertandingan dimulai antara Kroasia melawan Portugal, publik pencinta sepak bola dunia seolah diharuskan untuk memilih. Dalam fase knock-out seperti ini, tentu saja kita tahu tak ada pertandingan yang berakhir imbang. Harus ada pemenang. Mau tak mau, kita harus memilih satu di antara dua, Cristiano Ronaldo atau Luka Modric.
Pasalnya, karena kedua legenda sepak bola dunia ini berada di kubu yang berbeda, maka melajunya satu dari mereka akan secara otomatis menghentikan langkah yang lain. Dan yang membuat kita harus lebih berlapang dada adalah, dengan usia Ronaldo dan Modric yang sudah tak muda lagi, sudah pasti tarian-tarian indah mereka di pentas Piala Dunia 2026 ini akan menjadi pengakhir dari perjalanan panjang nan indah yang mereka suguhkan.
Bukan Hanya Menjadi Lawan, CR7 Juga Menjadi Pengubur Perjalanan Panjang Luka Modric
Seperti yang sedikit saya singgung di atas, pada pertandingan yang berlangsung di Toronto Stadium, Jumat (3/7/2026) kemarin, Luka Modric yang berada di kubu Kroasia harus bertarung dengan rekan karibnya, Cristiano Ronaldo yang berada di kubu Portugal.
Mungkin, bagi para penggemar sepak bola, pertemuan ini adalah big match seperti pertandingan yang lain. Namun tidak demikian halnya bagi Modri dan Ronaldo. Dalam pertandingan ini, karier keduanya di persepakbolaan level tertinggi dipertaruhkan. Apakah bakal terus berlanjut, ataukah harus terhenti.
Hal yang menurut saya pribadi menjadikan pertandingan ini lebih terasa tragis lagi adalah, dua pemain yang hubungan emosionalnya sedemikian dekat ini akan saling menjegal demi bisa mendapatkan tiket ke babak 32 besar. Sebuah situasi yang pada akhirnya terjawab oleh rentetan sejarah, di mana mereka lebih memilih Luka Modric untuk pulang cepat dari gelaran.
Sejatinya, Modri dan Ronaldo bukanlah dua pemain yang asing satu sama lain. Berdasarkan data yang saya dapatkan dari laman Transfermarkt, Luka Modri dan Ronaldo sendiri pernah saling membahu saat keduanya bermain untuk Real Madrid dari tahun 2012 hingga 2018 lalu. Bersama Modric, Ronaldo yang sebelumnya harus kehilangan Mesut Ozil sang asisten dan suplier bola-bola matang yang menyeberang ke Arsenal, kembali menemukan rekan setim yang cocok dengan gaya permainannya.
Pun demikian halnya dengan Modric. Meskipun kedatangannya dari Tottenham Hotspurs kala itu disebut banyak kalangan sebagai pembelian terburuk --mengingat mewahnya lini tengah Los Galacticos kala itu dan pencapaianya yang biasa-biasa saja di Liga Inggris-- namun kolaborasinya bersama Ronaldo membuat namanya semakin terangkat, alih-alih terkubur di antara bintang-bintang.
Bahkan, diakui atau tidak, kedatangan Modric ke Real Madrid membuat performa Ronaldo semakin trengginas. Tipe Modric yang juga seorang suplier, harus diakui sangat memudahkan kinerja skipper Timnas Portugal itu di lini depan Real Madrid. Sehingga tak mengherankan jika semasa berkolaborasi, Ronaldo sukses membukukan empat gelar Ballon d'Or, masing-masing di edisi 2013, 2014, 2016 dan 2017.
Bukan hanya itu, konsistensi permainan Modri yang semakin berkembang semasa di Madrid, juga membuat sang pemain berhasil menyabet gelar Ballon d'Or di tahun 2018, mengalahkan Ronaldo yang saat itu memilih hijrah ke Juventus. Sebuah pencapaian yang tentunya sangat luar biasa bagi seorang pemain yang di awal kedatangannya ke Real Madrid dicap sebagai penandatanganan pemain terburuk oleh salah satu polling media kenamaan di sana.
Pun demikian halnya dalam hal pencapaian tim. Ketika masih sama-sama membela Real Madrid, Ronaldo dan Modric juga menjadi bagian dari penerus fase kejayaan klub asal Ibukota Spanyol itu. Bukan hanya merajai pentas domestik, Modri dan Ronaldo juga menjadikan El Real sebagai Raja Eropa sebanyak empat kali. Dari enam kali label Liga Champions Eropa yang dimiliki oleh Modric, empat di antaranya dia rengkuh saat membersamai bersama Ronaldo.
Bagi saya pribadi, ini tentu merupakan sebuah capaian yang sangat luar biasa, di mana Modric yang sebelumnya selalu kesulitan dan kering gelar di Tanah Britania, bertransformasi menjadi pengoleksi gelar, yang bukan hanya di level domestik, namun juga merambah tingkatan kontinental.
Dalam pandangan saya, capaian-capaian keduanya di Madrid, harus diakui menjadi salah satu penyebab mengapa Modric bisa dikenal sedemikian luas di persepakbolaan dunia. Mungkin, sebelum 2012 lalu, hanya segelintir—bahkan mungkin hanya penggemar Liga Inggris saja, khususnya Tottenham—yang mengenal nama seorang Luka Modri. Namun, seiring dengan kepindahannya ke Madrid, dan kolaborasinya bersama Ronaldo yang memang saat itu sudah demikian tenarnya, membuat nama Modric semakin terangkat dan meluas.
Namun sayangnya, kedekatan dua legenda sepak bola dunia ini harus terhenti dengan cara yang menurut saya cenderung tak manusiawi. Piala Dunia 2026 yang sudah lama diumumkan keduanya akan menjadi panggung tarian terakhir mereka di pentas sepak bola level dunia, justru mengharuskan mereka untuk saling menyingkirkan, di fase yang masih terlalu dini.
Sebuah ironi yang sangat melukai hati. Meskipun sama-sama menampilkan performa yang luar biasa, takdir mengharuskan salah satu dari mereka untuk menghentikan langkahnya. Dan seperti yang kita ketahui bersama, benang takdir lebih memilih Ronaldo untuk terus melaju ketimbang Modri.
Seperti sebuah elegi, cerita panjang Modri di gelaran Piala Dunia harus diakhiri bukan oleh lawan yang jauh, namun oleh Ronaldo, sosok yang selama bermusim-musim berproses dan meraih beragam pencapaian bersama-sama. Satu tendangan penalti dari penyerang Os Navegadores di laga tersebut, membuat Kroasia tersingkir dengan skor tipis 1-2 dan membuat tarian indahnya di babak 32 besar menjadi yang terakhir kali bisa disaksikan segenap penjuru dunia setelah lima edisi dia melakukannya.
Tag
Baca Juga
-
Bukan Kebetulan? 3 Alasan Mengapa Ramalan The Simpsons soal Final Piala Dunia 2026 Masih On The Way!
-
Piala Dunia 2026 dan Nestapa Korea Selatan yang Kembali Harus Menanggung Beban Prestasi Semu
-
Piala Dunia 2026 dan Tak Selarasnya Casing Timnas Maroko dengan Dapur Pacu Mereka
-
Piala Dunia 2026,Babak 32 Besar, dan Pertemuan Brasil dengan Jepang yang Terjadwal Terlalu Dini
-
Jika FIFA Bertindak Tegas, Kuota AFC di Piala Dunia Bisa Berkurang Gegara Tim-Tim Arab!
Artikel Terkait
Hobi
-
Drama Sepak Bola Korsel: dari Kritik Pemain hingga Pelatih yang Kabur!
-
Prediksi Kanada vs Maroko: Adu Lini dan Taktik Demi Tiket Perempat Final
-
Akhiri Kutukan di Piala Dunia, Cristiano Ronaldo Bisa Pensiun dengan Tenang
-
Babak 16 Besar Piala Dunia Dimulai, Messi dan Ronaldo Jadi Sorotan
-
Kisah Vozinha Tembok Cape Verde, Si Kiper yang Buat Lionel Messi Frustrasi
Terkini
-
Usung Misteri Baru, Film Perdana The Apothecary Diaries Tayang 11 Desember
-
The Affair Is Not the Problem Tayang Juli, Ungkap Rahasia Besar Keluarga
-
Off The Record: Ria SW Ungkap Sisi Lain di Balik Layar Konten Food Vlogger
-
5 Liquid Concealer Glycerin yang Bikin Mata Panda Kamu Hilang Seketika
-
Masuki Pekan Kedua, I Will Find You Betah Puncaki Top 10 Global Netflix