Gelaran Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan hanya menjadi panggung persaingan sengit para bintang sepak bola, melainkan juga menjadi ajang operasi keamanan superketat. Melibatkan 48 tim yang bertanding di 16 kota berbeda, skala turnamen pada tahun ini digambarkan oleh para perencana keamanan bagaikan menjaga puluhan laga Super Bowl yang diadakan secara bersamaan. Menariknya, fokus pengamanan kali ini tidak hanya terpusat pada apa yang terjadi di dalam stadion, melainkan juga meluas hingga ke langit.
Sejak turnamen resmi bergulir pada 11 Juni lalu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) melaporkan telah menyita lebih dari 600 unit drone ilegal yang kedapatan melanggar zona larangan terbang di sekitar lokasi pertandingan dan area fan fest. Angka penyitaan ini melonjak drastis, bahkan tercatat berlipat ganda hanya dalam waktu kurang dari dua minggu.
Drone atau pesawat nirawak memang menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum karena mudah dibeli oleh siapa saja, serta rentan disalahgunakan untuk membawa muatan kamera pengintai hingga bahan-bahan peledak yang berbahaya.
Guna mengantisipasi ancaman keamanan tersebut, FBI bersama dengan lebih dari 60 lembaga penegak hukum lokal dan negara bagian sebelumnya telah menyelesaikan program pelatihan federal khusus di fasilitas Redstone Arsenal. Melalui pelatihan intensif tersebut, para petugas dibekali dengan kemampuan menggunakan radar, kamera canggih, dan alat pendengar khusus untuk mendeteksi keberadaan drone liar hanya dalam hitungan detik.
Aturan yang diterapkan oleh Otoritas Penerbangan Federal (FAA) sebenarnya sudah sangat jelas. Area di sekitar stadion Piala Dunia ditetapkan sebagai Zona Larangan Terbang Sementara atau Temporary Flight Restriction (TFR) yang berlaku mulai dari tiga jam sebelum pertandingan dimulai hingga tiga jam setelah peluit panjang dibunyikan.
Jika masih ada drone yang nekat melanggar radius tersebut, FBI memiliki serangkaian metode teknologi canggih untuk menjinakkannya. Metode ini mencakup pengacauan sinyal navigasi agar drone tersebut menjauh, hingga peretasan dan pengambilalihan kendali elektronik pesawat nirawak tersebut agar dapat dipaksa mendarat di area yang aman.
Ketangguhan sistem deteksi ini sudah terbukti dalam sebuah kasus nyata di Dallas pada pertengahan Juni lalu. Seorang warga negara Honduras bernama Luis Mauricio Flores Ordonez ditangkap dan ditahan oleh pihak berwenang setelah nekat menerbangkan drone berjenis DJI Mini 3 PRO miliknya di dalam wilayah udara terlarang Dallas Stadium saat pertandingan sedang berlangsung.
Hanya dalam hitungan detik setelah drone tersebut memasuki area terlarang, radar FBI langsung melacak posisi perangkat tersebut, dan petugas satuan tugas di lapangan bisa langsung menemukan sekaligus mengamankan sang pilot saat itu juga. Akibat aksi nekatnya, pria berusia 33 tahun tersebut kini harus bersiap untuk menghadapi tuntutan hukum federal di meja pengadilan.
Meskipun hingga saat ini FBI menegaskan bahwa mereka belum mendeteksi adanya ancaman teror nyata terhadap turnamen, Wakil Direktur Pendamping FBI, Christopher Raia, seperti yang dilansir dari NBC News menegaskan bahwa segala bentuk potensi gangguan harus diantisipasi sejak dini.
Keamanan berlapis ini diterapkan secara ketat demi memastikan bahwa ratusan ribu suporter yang memadati stadion maupun area nonton bareng bisa menikmati kemeriahan pesta sepak bola dengan perasaan yang sepenuhnya aman. Pihak kejaksaan setempat juga menyatakan komitmen tegasnya untuk menjaga wilayah udara tetap bersih dari keberadaan drone ilegal dan tidak akan segan untuk menyeret para pelanggar ke ranah hukum.
Bagi para pehobi drone yang mungkin tergoda untuk menerbangkan perangkat mereka demi berburu video estetis di sekitar area Piala Dunia, FBI memberikan peringatan yang sangat keras. Oleh karena itu, saran terbaik dari para penegak hukum bagi para pemilik drone adalah mengurungkan niat dan tidak mencoba-coba untuk menerbangkannya di sekitar area turnamen bergengsi tersebut.
Baca Juga
-
4 Body Serum dengan Kandungan Superfood untuk Kulit Cerah Bernutrisi
-
Kim Se Jeong hingga Cho Han Gyeol Bintangi Drama Baru Bertema High School
-
Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge
-
Usung Genre Romcom, Drama Korea-Jepang 'Merry Berry Love' Tayang Oktober
-
BTS Absen di Grammy Awards 2027, Buntut Kategori Baru Musik Asia?
Artikel Terkait
-
3 Fakta Menarik Jelang Brasil vs Norwegia, Taktik Mematikan Aliran Bola Erling Haaland
-
Momen Bendera Palestina Berkibar Setelah Mesir Menumbangkan Australia
-
Brasil vs Norwegia: Momentum Vinicius Jr Salip Catatan Gol Erling Haaland
-
Didier Deschamps Ungkap Alasan Prancis Sulit Kalahkan Paraguay
-
Ounahi Menggila, Maroko Tekuk Kanada 3-0 dan Siap Hadapi Prancis di 8 Besar
Hobi
-
Ungkap Terima Kasih ke Barca, Ferran Torres Mulai Babak Baru Bersama PSG
-
Rizky Ridho Tak Masuk Skuad Timnas di ASEAN Cup 2026, Ini Bocoran Pemainnya
-
Jay Herdman Lengkapi Jatah Pemain Asing Bali United, Rekrutan Tergokil?
-
Meski Diincar Real Madrid, Rodri Pilih FC Barcelona untuk Wujudkan Mimpi
-
Poin Tertinggal Jauh, Alex Marquez Yakin Kakaknya Bisa jadi Juara Dunia
Terkini
-
Bye Ketombe! 5 Pilihan Shampoo Bar Ramah Lingkungan yang Bikin Rambut Segar
-
Jika Aku Mereka: Melihat Dunia dari Sudut Pandang Penyandang Disabilitas
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
-
The Man Who Didn't Like Animals: Ketika Si Pembenci Hewan Berubah Hati
-
Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga