Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Pertandingan babak semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis melawan Spanyol (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Perjalanan runner-up Piala Dunia edisi 2022, Prancis pada akhirnya harus terhenti di fase semifinal. Pada pertarungan yang berlangsung di Dallas Stadium, Rabu (15/7/2026) dini hari, Les Bleus yang bentrok dengan Spanyol harus memupus impian tampil di fase puncak setelah kalah dua gol tanpa balas. Dalam pandangan saya pribadi, tersingkirnya Prancis dari gelaran justru semakin menegaskan sebuah fakta umum di lapangan, bahwa sejatinya sepak bola memang harus dimainkan secara kolektif bersama, alih-alih hanya mengandalkan skill individu belaka.

Secara statistik, pertandingan antara Prancis melawan Spanyol sendiri dapat dikatakan berjalan dengan seimbang. Status kedua kesebelasan yang sama-sama raksasa sepak bola dunia, benar-benar terlihat di pertandingan ini. Match report FIFA mencatat, tak ada yang lebih dominan ketimbang tim lain.

Di satu sisi, Prancis tercatat mengamankan 46 persen penguasaan bola, sementara Spanyol mengklaim 45 persen penguasaan. Sementara sisanya, terhitung sebagai "bola bersama" karena pertandingan dihentikan oleh sang wasit atau dalam proses perebutan.

Dari fakta di atas, tentu kita sepakat jika permainan memang berlangsung dengan seimbang dan tak ada tim yang lebih superior. Namun, mengapa pada akhirnya Spanyol yang memenangi pertandingan? Seperti yang sedikit saya singgung di awal, Spanyol bisa memenangi pertarungan berat ini karena mereka memainkan sepak bola dengan cara jauh lebih kolektif ketimbang sang lawan yang cenderung mengandalkan skill perorangan yang dimiliki oleh para pemainnya.

Bermain Work Ball in the Box Spanyol versus Shot in Sight Prancis

Satu hal utama yang saya dapati dari pertandingan antara Spanyol melawan Prancis ini adalah, cara kedua kesebelasan dalam melakukan olah bola. Spanyol yang sejak pertengahan dekade 2000an mulai mengembangkan permainan dari kaki ke kaki, pada laga-laga yang mereka jalani di guliran Piala Dunia 2026 ini --termasuk saat melawan Prancis--, masih setia menggunakan gaya permainan itu.

Alih-alih bermain dengan mengandalkan bola-bola panjang, gaya permainan Spanyol hampir sepanjang laganya bertumpu pada distribusi bola pendek nan cepat dan mendatar. Hanya sekali-sekali saja mereka melakukan distribusi bola panjang ke depan. Satu pembeda besarnya dengan permainan Prancis adalah, distribusi bola Spanyol ini melibatkan jauh lebih banyak pemain ketimbang tim lawan yang ketika melakukan penyerangan, mengandalkan para pemain tertentu saja di lini depan.

Permainan bola-bola pendek yang diperagakan oleh Spanyol ini, tak hanya mereka tunjukkan ketika berada di lapangan tengah saja. Namun ketika memasuki sepertiga akhir permainan, termasuk saat merangsek di petak penalti lawan, mereka juga terus memutar-mutar bola. Pola bermain seperti ini dalam permainan sepak bola, sering disebut dengan istilah "work ball in the box", yang mana para penyerang Spanyol mengupayakan adanya overload kuantitas pemain untuk saling berbagi bola-bola pendek di sekitaran jantung pertahanan lawan. 

Pola permainan Spanyol ini dapat kita lihat di menit ke-38 ketika Spanyol memiliki peluang di sekitar titik pusat pertahanan Prancis. Alih-alih langsung merangsek dan melepaskan ancaman dengan tembakan, para pemain La Furia Roja ini justru terus melakukan pergerakan dan bermain-main dengan kombinasi bola-bola pendek. 

Dengan kata lain, para pemain Spanyol ini lebih memilih untuk membuka pertahanan Prancis sedikit demi sedikit dengan dukungan banyak pemain ketimbang langsung memberikan penyerangan secara frontal dan sekali tembak.

Puncak dari permainan work ball in the box yang diperagakan oleh Spanyol ini terjadi di menit ke-58. Permainan ulat-ulit bola para pemain Spanyol di sekitaran kotak penalti Prancis, berhasij membuahkan gol kedua Spanyol melalui kaki Pedro Porro, yang sukses memperdaya Mike Maignan dan memaksanya untuk memungut bola untuk kali kedua.

Sementara di sisi lain, Prancis berkali-kali saya lihat mengedepankan gaya bermain berbasis kekuatan individu, termasuk dalam hal mengeksekusi peluang. Jika Spanyol lebih memilih untuk membongkar pertahanan lawan secara bersama-sama, maka Prancis lebih memilih untuk percaya dengan skill yang mereka miliki.

Ketika mendapatkan peluang di sekitaran kotak penalti, para pemain Prancis cenderung akan lebih memilih untuk mengeksekusinya langsung, ketimbang menunggu pergerakan rekan-rekan setim. Ibarat kata, begitu pemain Prancis melihat target, mereka langsung melakukan tembakan ke arah gawang. Model permainan individual seperti ini, yang mana seorang pemain "langsung menghajar bola ketika melihat peluang" seperti yang dimainkan oleh kebanyakan pemain Les Bleus, dalam dunia sepak bola disebut dengan istilah "shot in sight".

Pola permainan seperti ini sejatinya sudah kerap kali dimainkan oleh Prancis pada gelaran Piala Dunia 2026 ini. Gol-gol yang diciptakan oleh Mbappe, banyak yang dihasilkan dari skema shot in sight yang mereka peragakan. Mereka konsisten bermain seperti ini, termasuk dalam pertandingan melawan Spanyol. Sekarang kita ambil contoh, pada menit ke-36, Barcola yang berada di sekitaran kotak penalti Spanyol, lebih memilih untuk mengeksekusi bola ketimbang berbagi dengan rekan-rekannya yang sudah mulai naik membantu serangan.

Pun demikian dengan Ousmane Dembele yang memilih untuk melepaskan tembakan di menit-menit akhir babak pertama. Padahal di area sekitarnya, bertebaran rekan-rekan setim yang bisa saja diajaknya untuk melakukan tektokan untuk menguras perhatian pemain lawan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya melakukan eksekusi. Namun hal itu tak dilakukan.

Pun demikian halnya dengan peluang kedua Barcola di menit ke-54. Alih-alih melakukan tektokan dengan rekan-rekannya, Barcola justru lebih memilih untuk percaya pada skill individunya dan terus merangsek ke area inti pertahanan Spanyol. Hasilnya? Tentu saja sangat tidak efektif dan berujung kegagalan.

Bahkan, satu peluang emas di menit ke-81 yang didapatkan oleh Desire Doue, juga tak mampu dimaksimalkan karena sang pemain lebih percaya dengan ego pribadinya. Padahal, dengan posisi gawang Spanyol yang sudah kosong melompong karena David Raya melakukan halauan hingga ke tengah lapangan, peluang yang didapatkan akan jauh lebih membahayakan jika bola dibagi dengan rekan setimnya, ketimbang langsung melakukan eksekusi seperti itu.

Apakah pola permainan yang diperagakan oleh Prancis ini salah? Tentu saja tidak. Namun patut untuk digarisbawahi, setinggi apa pun skill individu yang dimiliki oleh seorang pemain sepak bola, hal itu tak selamanya akan efektif dan membawa hasil positif. Karena pada prinsipnya, kita harus kembali memberikan penegasan bahwa kekuatan utama dalam permainan sepak bola adalah bermain bersama-sama, alih-alih mengandalkan ego dan kemampuan individu semata.