Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Selebrasi Lautaro Martinez setelah menjebol gawang Inggris di babak semifinal Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Meski kembali diwarnai dengan beberapa keputusan wasit yang debatable, La Albiceleste Timnas Argentina akhirnya sukses melaju ke partai puncak gelaran Piala Dunia 2026. Uniknya, pertarungan babak semifinal melawan Inggris, kembali mempertontonkan kepada kita akan konsistensi Argentina dalam mempertahankan "penyakit" mematikan mereka saat pertandingan memasuki menit-menit akhir.

Sebenarnya, Timnas Inggris yang menjadi lawan Argentina di babak semifinal gelaran sudah berada di atas angin hingga menjelang akhir pertandingan. Bagaimana tidak, sampai memasuki menit ke-84, Inggris masih unggul satu gol atas Lionel Messi dan kolega. Gol Anthony Gordon di menit ke-55, membawa mereka selangkah lebih dekat ke partai final melalui golnya. Itu artinya, hanya berselang lima menit saja dari waktu normal, Inggris sudah pasti menjadi penantang Spanyol di partai utama gelaran.

Namun sayangnya, penyakit Argentina yang memang belakangan ini suka "memberikan luka" kepada lawan-lawannya pada menit akhir menjelang pertandingan usai membuat Inggris harus terkapar. Hanya berselang lima menit saja sebelum pertandingan babak normal berakhir, lesakan jarak jauh Enzo Fernandez sukses menyamakan kedudukan. Tak hanya sampai di sana, ketika pertandingan memasuki menit ke-90+2, kali ini giliran Lautaro Martinez yang menjebol gawang The Three Lions melalui tandukan telaknya dari mulut gawang.

Timnas Argentina dan Konsistensinya Memberikan Luka di Menit Akhir yang Terus Berlanjut

Meskipun saya bukanlah pendukung Timnas Argentina di gelaran Piala Dunia kali ini, namun saya benar-benar merasa bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Lionel Messi dan kolega ini seharusnya menjadi role model bagi tim-tim lain, dari belahan dunia mana pun.

Pasalnya, selama gelaran Piala Dunia di benua Amerika ini, Argentina sendiri sudah berkali-kali memperlihatkan etos bertarung tanpa mengenal kata menyerah. Dalam kondisi tertinggal, La Albiceleste terus saja berusaha dengan sekuat tenaga untuk membalas ketertinggalan, bahkan membalikkan keadaan dari semula di pihak inferior, menjadi superior di lapangan pertandingan.

Seperti yang kita dapati ketika mereka melawan Inggris di babak semifinal ini, Argentina yang tertinggal semenjak pertengahan babak kedua, terus berupaya untuk mengejar. Saya yakin, Argentina memegang prinsip selagi wasit belum meniupkan peluit panjang tanda akhir pertandingan, maka mereka masih memiliki banyak kesempatan untuk menumbangkan sang lawan. Hasilnya pun terlihat nyata. Argentina yang berkali-kali tertinggal di pertandingan yang mereka jalani, sampai sejauh ini selalu sukses memenangi laga berkat gol menit-menit akhir yang konsisten mereka ciptakan.

Tentu saja saya tak asal menulis terkait dengan hal ini. Karena dalam data yang saya rangkum dari laman FIFA, sedari babak penyisihan grup sampai babak semifinal, Argentina sudah tercatat melesakkan 17 gol. Rinciannya, delapan gol mereka ciptakan di babak grup, kemudian sisanya diceploskan oleh Lionel Messi dan kolega ketika mereka mentas di babak gugur turnamen.

Di sinilah bukti-bukti dari yang saya tuliskan terpapar dengan jelas. Dari jumlah 17 gol yang diciptakan oleh Argentina itu, sepuluh gol di antaranya mereka lesakkan ketika pertandingan memasuki menit ke-80 dan sesudahnya --termasuk di babak perpanjangan waktu tentunya.

Layaknya penyakit kambuh-kambuhan, kebiasaan menciptakan gol di menit-menit terakhir oleh Argentina ini sudah "menjalari" enam dari tujuh laga yang dijalani oleh wakil Amerika Latin tersebut. Dimulai dari laga fase grup, hingga terakhir di babak semifinal melawan Inggris kemarin.

Saya pribadi mencatat, penyakit ini sendiri sudah menjangkiti Argentina semenjak pertandingan kedua melawan Austria lalu. Dalam kemenangan dua gol tanpa balas yang didapatkan, Lionel Messi mencatatkan namanya di papan skor ketika pertandingan berusia 90+5 menit. Pun demikian halnya dengan pertandingan ketiga melawan Yordania. Dalam match report FIFA, Argentina berhasil membobol gawang wakil Asia itu di menit ke-80. Setelah dua pertandingan itu, kebiasaan Argentina ini terus berlanjut di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Dalam daftar yang saya inventarisir, ketika memasuki fase gugur, Argentina mencatatkan gol di atas menit ke-80 saat mereka melawan Tanjung Verde (di menit ke-92 dan 111), kemudian melawan Mesir (menit ke-83 dan 90+2), melawan Swiss (menit ke-112 dan 120+1), hingga ketika melawan Inggris di babak semifinal yang mana mereka menciptakan gol di menit ke-85 dan 90+2 berujung pada kelolosan ke partai final.

Kebiasaan ini terbilang sangat konsisten. Karena jika kita hitung-hitung, Argentina hanya menyisakan satu laga saja tanpa hiasan penciptaan gol telat di pertandingan, yakni saat melawan Aljazair di fase grup kemarin.

Penyakit Timnas Argentina yang gemar menciptakan gol ke gawang sang lawan di menit-menit krusial menjelang ujung pertandingan tentunya harus sangat diwaspadai oleh Spanyol yang akan menjadi lawan mereka di partai final. Pasalnya, dengan kegigihan Argentina yang terus berusaha mengejar gol hingga menit-menit akhir pertarungan seperti itu, keunggulan yang didapatkan oleh Spanyol bukanlah sebuah garansi kemenangan, hingga pertandingan benar-benar terselesaikan. 

List "Gol Telat" Argentina di Piala Dunia 2026

  1. Lionel Messi (menit ke-90+5 vs Austria/fase grup)
  2. Lionel Messi (menit ke-80 vs Yordania/fase grup)
  3. Lisandro Martinez (menit ke-92 vs Tanjung Verde/32 besar)
  4. Diney (menit ke-111 vs Tanjung Verde/32 besar, gol bunuh diri)
  5. Lionel Messi (menit ke-83 vs Mesir/16 besar)
  6. Enzo Fernandez (menit ke-90+2 vs Mesir/16 besar)
  7. Julian Alvarez (menit ke-112 vs Swiss/8 besar)
  8. Lautaro Martinez (menit ke-120+1 vs Swiss/8 besar)
  9. Enzo Fernandez (menit ke-85 vs Inggris/semifinal)
  10. Lautaro Martinez (menit ke-90+2 vs Inggris/semifinal)