Sekar Anindyah Lamase | zahir zahir
David da Silva (Kiri) dan Ciro Alves (Kanan). (instagram.com)
zahir zahir

Kabar yang cukup mengejutkan datang dari salah satu pemain keturunan Indonesia yang berkarir di luar negeri, yakni Dean Zandbergen. Melansir dari laman Instagram @futboll.indonesiaa, pemain keturunan Belanda-Indonesia tersebut dikabarkan tak memenuhi syarat dari FIFA untuk melanjutkan proses naturalisasinya guna membela timnas Indonesia.

Hal ini dikarenakan Dean Zandbergen ternyata memiliki garis keturunan Indonesia dari buyutnya yang lahir di Indonesia. Sementara itu, melansir dari laman resmi FIFA (fifa.com), seorang pemain bisa membela tim nasional negara leluhurnya jika memiliki garis keturunan ketiga atau maksimal dari Kakek-nenek yang lahir atau tercatat menjadi warga negara sebuah negara. Kondisi inilah yang membuat Dean Zandbergen pada akhirnya tidak bisa melanjutkan proses naturalisasinya karena asal-usul darah Indonesia yang dimilikinya berasal dari buyutnya.

“Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengonfirmasi bahwa striker berdarah Indonesia, Dean Zandbergen tidak eligible untuk membela Timnas Indonesia. Hal tersebut dikarenakan garis keturunan Indonesia sang pemain berasal dari buyut, yang tidak memenuhi regulasi kelayakan pemain sesuai aturan FIFA,” tulis laman Instagram @futboll.indonesiaa.

Kondisi yang dialami oleh Dean Zandbergen ini mirip seperti apa yang dialami oleh mantan pemain timnas Indonesia U-20, yakni Mauresmo Hinoke. Kendati sudah sempat mencatatkan beberapa caps bersama timnas Indonesia U-20, Mauresmo Hinoke tak bisa melanjutkan proses naturalisasinya karena memiliki garis keturunan Indonesia dari buyutnya atau garis keturunan keempat.

Lantas, dengan batalnya Dean Zandbergen dinaturalisasi dan membela timnas Indonesia, apakah PSSI akan mengurungkan niat mencari pemain yang berposisi sebagai striker? Tentunya hal ini belum pasti dikarenakan ternyata ada dua penyerang yang berkarir di liga Indonesia yang berpotensi dinaturalisasi dan membela timnas Indonesia di masa depan.

Melansir dari beberapa sumber di laman berita Suara.com, kedua nama tersebut adalah David da Silva dan Ciro Alves. Kedua pemain asal Brazil yang membela klub Java United tersebut memang secara peraturan FIFA sudah bisa menjalani proses naturalisasi dan membela timnas Indonesia.

Melansir dari laman transfermarkt, David da Silva sendiri diketahui sudah berkarir di Liga Indonesia sejak tahun 2018 silam. Sementara itu, rekan senegaranya, yakni Ciro Alves juga telah memenuhi syarat untuk dinaturalisasi melalui jalur menetap selama lima tahun karena sudah berkompetisi di liga Indonesia sejak tahun 2019 silam.

Lalu, apakah PSSI akan lebih memilih menaturalisasi David da Silva dan Ciro Alves guna membela timnas Indonesia?

Usia Terlalu Tua, PSSI Diharapkan Bijak Sebelum Memproses David da Silva dan Ciro Alves

Sebelumnya, baik Ciro Alves dan David da Silva memang cukup terbuka jika mereka nantinya dinaturalisasi dan membela timnas Indonesia. Rekam jejak sebagai striker yang cukup tajam saat bermain di liga Indonesia dan sudah cukup familiar dengan pesepakbolaan Indonesia bisa jadi pertimbangan PSSI jikalau memang ingin menaturalisasi kedua pemain asal Brazil tersebut.

Namun, hal yang perlu diperhatikan sebelum PSSI menaturalisasi kedua pemain tersebut adalah usia keduanya yang sudah tidak muda lagi. David da Silva sendiri saat ini sudah berusia 36 tahun yang tentunya sudah terbilang memasuki usia senja bagi seorang pesepakbola. Sementara itu, Ciro Alves sendiri juga sudah memasuki usia 37 tahun saat ini.

Jika melihat dari kebutuhan jangka panjang PSSI untuk timnas Indonesia, tentunya akan lebih bijak jika federasi lebih memilih pemain dengan usia yang jauh lebih muda untuk dinaturalisasi. Jikalau PSSI tetap ingin menaturalisasi David da Silva dan Ciro Alves, keduanya diprediksi hanya akan bisa membela timnas Indonesia dalam 2-3 tahun lagi.

Namun, kembali lagi tentunya kebijakan staf pelatih dan kebutuhan dari John Herdman selaku pelatih timnas Indonesia yang akan memutuskan siapa saja yang layak membela skuad garuda ke depannya.