Kasus covid-19 belakangan sedang mengalami lonjakan yang sangat tinggi hingga memunculkan kekhawatiran masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk perang melawan virus covid-19, dengan cara ikut serta menekan penyebarannya lewat penerapan protokol kesehatan.
Selain melawan virus covid-19, masyarakat dan pemerintah pun perlu melawan hoaks di tengah informasi yang sangat meresahkan. Diketahui, terdapat beberapa informasi palsu mengenai penanganan virus covid-19 dengan niat buruk, disebarkan ke masyarakat untuk menciptakan kekawatiran baru dalam lingkungan.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kominfo yang mengeluarkan pernyataan terkait informasi hoaks sebagaimana disebarkan oleh pihak tidak bertanggung jawab, didapatkan sebanyak 1.556 berita hoaks soal covid-19 yang tersebar di lingkungan masyarakat.
Salah satu hoaks yang sedang banyak dipercaya oleh masyarakat yakni terkait informasi penanganan untuk pasien Covid-19. Termasuk hoaks yang mengklaim virus ini dapat disembuhkan melalui cara memakan bawang merah sebanyak tiga kali dalam sehari dan meneteskan cairan lemon di hidung.
Berita yang belum diketahui kebenarannya tersebut sudah menyebar dalam kelompok-kelompok masyarakat, sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap hal yang belum diketahui akurasi kebenarannya.
Bagaimana cara terhindar dari penulisan berita hoaks? Saat seseorang sedang membaca sebuah berita, maka diharapkan para pembaca memiliki pengetahuan yang cukup. Dengan begitu, masyarakat dapat memberikan perspektifnya terhadap berita yang disampaikan apabila memang terdapat kejanggalan.
Terkait permasalahan tersebut, penulis berupaya untuk mengulas teori budaya literasi yang perlu diterapkan. Melakukan gerakan literasi akan mempermudah seseorang dalam identifikasi terkait kebenaran dalam berita tersebut, karena keseluruhan berita dan informasi yang diterima akan dibaca dengan baik.
Setelah itu, para pembaca perlu mengonfirmasi kebenaran terkait informasi yang diterimanya dengan melakukan pengecekan informasi lebih mendalam. Jika masyarakat menerapkan budaya literasi, maka hal-hal yang akan janggal maupun informasi yang telah dimanipulasi akan mudah diketahui.
Dalam upaya pengecekan informasi untuk menentukan kebenarannya, perlu menggunakan beberapa sumber yang dipercaya. Pengecekan kebenaran terhadap informasi yang diterima merupakan salah satu implementasi dalam memaksimalkan penggunaan media sosial.
Misalnya dalam suatu kasus terdapat dua kubu yang sedang berdebat terkait kebenaran informasi yang diterimanya. Pendapat yang dilontarkan oleh kedua kubu tersebut saling berseberangan, sehingga masing-masing akan berusaha mempertahankan pendapatnya terkait kebenaran informasi yang diterima.
Usaha yang dilakukan oleh kedua belah pihak adalah dengan cara menyertakan berbagai sumber penelitian, berupa informasi yang sudah diketahui jelas akurasi kebenarannya. Keduanya akan saling memberikan referensi dari sumber terpercaya dan mempertahankan pendapatnya, sehingga hal tersebut dapat menciptakan adanya informasi yang terpercaya.
Implementasi terkait budaya literasi dapat dilakukan dengan cara menanamkan pola pemikiran bahwa setiap hal yang dibaca dapat dijadikan sebagai ilmu. Selain itu, masyarakat pun perlu memiliki kemampuan dasar saat ingin menerapkan budaya literasi karena dibutuhkan rasa kemauan yang besar saat melakukan pengecekkan informasi sebagaimana akan diterima.
Selain itu, penilaian terhadap informasi yang diterima oleh masyarakat perlu dipertimbangkan dengan baik kebenarannya secara imbang, tanpa adanya kecenderungan terhadap perasaan.
Dalam kata lain, penilaian kebenaran informasi perlu dilakukan dengan cara logika yang sehat. Salah satu penilaian yang tidak baik adalah penilaian yang menggunakan fanatisme melewati batas.
Untuk menciptakan program Indonesia tanpa hoaks, maka perlu adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat. Melalui implementasi budaya literasi, dapat dilakukan dengan cara membiasakan membaca, menyimak informasi dengan baik, mengelola dengan logis terkait informasi yang diterima, mencari kebenaran informasi melalui sumber-sumber terpercaya.
Dalam upaya mencetak sumber daya manusia yang berintegritas karena tidak mudah terprovokasi oleh berita dan informasi hoaks, dibutuhkan kesadaran dari para penulis untuk menerapkan etika penulisan.
Pemaparan di atas membuktikan bahwa media dan masyarakat adalah dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Senada dengan teori yang dikatakan oleh Jeffres bahwa “The mass media can ‘reflectsociety’ in a multitudeofways”. Pernyataan tersebut memiliki makna untuk memberikan sebuah ilustrasi bahwa eksistensi dari Media memiliki keterkaitan berat dengan masyarakat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
-
Kenapa Banyak Orang Bertahan di Pekerjaan yang Tidak Disukai?
Terkini
-
PC Tanpa Ribet Kabel? Acer Aspire C24 AIO Tawarkan Desain Tipis dan Ringkas
-
5 Pilihan HP Samsung dengan Bypass Charging, Anti Overheat Saat Nge-Game
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya
-
Berburu Hidden Gem Modest Fashion di Tengah Kota: Last Stock Sale 2026 Resmi Dibuka!
-
5 Tas Gym Pria Paling Praktis untuk Bawa Perlengkapan Olahraga