Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Bagian dari Poster Film Kupeluk Kamu Selamanya (IMDb)
Athar Farha

Pembahasan terkait sesuatu yang ‘mengurung’ saat nonton Film Kupeluk Kamu Selamanya nggak bisa diabaikan begitu saja. Bukan karena ceritanya sempit, tapi karena film ini sengaja menahan kita di satu ruang yang sama terlalu lama, rumah sakit.

Disutradarai Pritagita Arianegara, film ini tampaknya jadi eksperimen emosional yang lumayan halus. Dia mengambil risiko dengan memusatkan sebagian besar durasi pada satu lokasi yang secara sinematik sering dianggap ‘terbatas’ atau ‘minim’ alias ‘di situ-situ saja’. Namun, di tangan yang tepat, keterbatasan itu berubah jadi tekanan. Dan tekanan itu pelan-pelan menjelma jadi sesuatu yang menguras batin.

Sekilas Kisah Film Kupeluk Kamu Selamanya

Poster Film Kupeluk Kamu Selamanya (IMDb)

Kisahnya sendiri menyoroti Naya (Hana Malasan), sosok ibu yang hidupnya sudah berat bahkan sebelum masuk ke ruang rumah sakit. Dia bekerja di laundry dengan gaji yang sering terlambat, mencoba berjualan pakaian secara daring tapi malah berhadapan dengan pelecehan digital (banyak yang mengomentari dirinya ketimbang dagangannya), dan harus mengurus anaknya, Aksa, yang sejak bayi mengidap kelainan jantung.

Ketika kondisi Aksa memburuk dan dia harus dirawat intensif, rumah sakit bukan lagi tempat ‘berobat’. Set ini menjadi ruang tunggu yang panjang. Menunggu keajaiban, menunggu kabar buruk, atau mungkin menunggu waktu habis.

Lebih Dalam Memaknai Rumah Sakit

Scene Film Kupeluk Kamu Selamanya (IMDb)

Di titik ini, film berhenti menjadi sekadar drama keluarga. Filmnya berubah menjadi potret tentang bagaimana manusia menghadapi ketidakpastian.

Aku merasa rumah sakit dalam film ini bukan sekadar latar. Ini seperti karakter diam yang terus mengawasi. Dinding-dinding putihnya, suara alat medis yang monoton, lorong-lorong yang terasa panjang. Semuanya menciptakan atmosfer yang bukan hanya dingin, tapi juga intim. Intim dalam arti yang paling menyakitkan: kita dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang nggak bisa dikontrol.

Yang menarik, konflik eksternal, misalnya kemunculan mantan suami Naya, Bagas (Ibnu Jamil), yang ingin merebut hak asuh, bak gema yang datang dari luar ruangan. Konflik ini penting, tapi nggak pernah mengambil alih fokus. Karena pusat gravitasi film ini tetap ada di ruang rumah sakit itu, di tempat di mana semua hal besar terasa kecil, dan semua hal kecil terasa menentukan.

Aku melihat bagaimana waktu bekerja secara berbeda di sini. Di luar, hidup berjalan cepat. Namun, di dalam rumah sakit, waktu kayak ditarik pelan. Setiap detik terasa lebih panjang. Setiap keputusan terasa lebih berat. Dan film ini berhasil menangkap ritme itu tanpa harus menjelaskannya secara verbal.

Ini yang membuat pilihan setting jadi terasa sangat sadar, bukan kebetulan.

Ada satu hal yang menurutku paling kuat: rumah sakit memaksa semua karakter untuk jujur. Naya nggak punya ruang untuk pura-pura kuat. Bahkan ketika dia mencoba bertahan, kamera seringkali menangkap wajahnya dalam close-up, dan di situ, kita melihat retakan kecil yang nggak bisa disembunyikan.

Nah, rumah sakit, dalam konteks ini, menjadi ruang di mana semua topeng runtuh.

Menariknya lagi, film ini juga menyelipkan elemen spiritual tanpa terasa dipaksakan. Di tengah tekanan yang hampir konstan, ada momen-momen ketika Naya salat. Bukan sebagai bentuk religiusitas yang ditampilkan ke orang lain, tapi sebagai bentuk dialog pribadi dengan dirinya sendiri, dengan harapan, atau mungkin dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Masjid yang muncul dalam film juga nggak terasa jadi tempat yang eksklusif atau menghakimi. Lebih tepatnya sebagai ruang aman, tempat di mana seseorang bisa berhenti sejenak dari kekacauan yang nggak bisa dikendalikan.

Dan ini terasa selaras dengan fungsi rumah sakit dalam film: dua-duanya adalah ruang ‘transisi’. Tempat di mana manusia nggak benar-benar berada di masa lalu, tapi juga belum tahu akan berakhir di mana.

Pilihan untuk nggak memperluas setting ke banyak tempat juga membuat film ini terhindar dari jebakan melodrama yang berlebihan. Nggak ada distraksi visual yang nggak perlu. Nggak ada subplot yang mencoba mencuri perhatian. Semua energi diarahkan ke satu hal: bagaimana rasanya bertahan di ruang yang isinya tuh ketidakpastian.

Dan jujur saja, itu nggak nyaman. Mungkin memang nggak seharusnya nyaman.

Karena Kupeluk Kamu Selamanya bukan film yang ingin membuat kita merasa lebih baik. Dan ketika film ini akhirnya mencapai puncaknya, dengan iringan lagu ‘Mencintaimu’ yang dibawakan Sal Priadi, semuanya terasa seperti pelepasan yang tertunda. Bukan ledakan emosi, tapi semacam runtuh yang pelan. 

Jujur, rasanya ingin sekali membagikan spoiler lebih banyak, sayangnya demi menjaga pengalaman nontonmu, cukuplah sampai di titik ini. Dan bila Sobat Yoursay mau nonton, siapkan tisu untuk melihat momen puncaknya. Selamat nonton ya.