Sebagai kalangan yang melek dengan teknologi, pengetahuan, dan berbagai perbedaan, mahasiswa menjadi vital penting dalam menerapkan moderasi beragama. Dalam moderasi beragama kita benar-benar mengedepankan watak atau moral kita terhadap sesama, sehingga menyebabkan kita harus toleran terhadap perbedaan (keberagaman) yang ada.
Salah satu contoh sikap moderasi beragama yang harus diterapkan mahasiswa, terutama di lingkungan kampus yakni sikap toleransi. Dengan demikian, semua pihak yang terlibat dalam lingkungan tersebut akan merasa dihargai, walaupun perbedaan suku, agama, ras, dan daerah campur aduk di dalamnya.
Moderasi beragama merupakan cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem atau sewajarnya saja. Memiliki moderasi beragama bukan berarti beragama dengan pendirian yang lemah atau cenderung liberal (bebas), tetapi cara beragama dengan menghargai berbagai perbedaan yang ada. Itulah mengapa, semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi satu) harus bisa terawat kuat hingga akhir hayat.
Mengapa moderasi beragama itu sangat penting bagi seorang mahasiswa? Hal ini dengan adanya sikap moderasi beragama tersebut, diharapkan cara beragama mahasiswa itu dapat diimplementasikan dengan sikap yang adil dan jalan tengah (moderat).
BACA JUGA: Sudah Masuk Inggris, Ini Sederet Alasan Project S Bisa Mengancam UMKM Indonesia
Sehingga dengan adanya sikap moderasi ini, dari cara beragama yang kadang berlebihan dapat menjadi penopang dengan adanya pengetahuan moderasi beragama, dan terlebih dapat menghalau cara beragama yang radikal.
Dengan demikian, ketika adanya penerapan moderasi beragama di kalangan mahasiswa dengan baik, itu diharapkan dapat menjadi tembok penghalang cara beragama yang radikal atau intoleran.
Dengan adanya moderasi beragama yang baik, juga dapat mempererat dan memperbanyak relasi antar sesama, sehingga muncul sikap saling memahami arti dan makna dari yang namanya perbedaan. Telah kita ketahui semua kalau Indonesia adalah negara yang unik, karena memiliki ciri khas yang didalamnya terdapat beragam macam suku, etnis, ras, agama, budaya, bahasa dan sebagainya. Dan itu merupakan salah cita-cita kemerdekaan untuk tetap merawat supaya tidak terpecah.
Hal ini juga menjadi upaya untuk menanamkan nilai-nilai dan watak bangsa kepada mahasiswa, yang sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila. Sehingga itu menjadi modal besar untuk menjadi pemimpin di negara kita Indonesia nanti, yang mampu merangkul semua dan tidak mendiskreditkan dengan banyaknya perbedaan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Prabowo, Reformasi yang Capek, dan Mimpi Orde Transformasi
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
Artikel Terkait
Kolom
-
Saatnya Mengaku: Kita Scrolling Bukan Mencari Hiburan, Tapi Lari dari Kenyataan
-
Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?
-
Berhitung Bea Masuk Sekolah, Dilema Kaum Menengah Jelang Tahun Ajaran Baru
-
Antara Topeng Kasih dan Kewaspadaan: Refleksi dari Kasus Little Aresha
-
Belajar Ikhlas dari Macet: Psikologi Bertahan Hidup di Jalanan Jakarta
Terkini
-
Suara Kerekan dari Sumur Tua di Belakang Rumah Ainun
-
Menyusuri Gelap Kota di Taksi Malam: Antara Realita dan Moral yang Rapuh
-
4 Serum Lokal Vitamin C untuk Cegah Kulit Kusam dan Lelah Akibat Polusi
-
Tragedi Lansia di Pekanbaru: Ketika 'Mantan Keluarga' Rancang Skenario Maut Demi Harta
-
Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan