Dalam hidup, kita sering kali berharap semua hal punya akhir yang jelas, terutama saat berurusan dengan hubungan, perpisahan, atau hal-hal emosional yang menyisakan tanda tanya.
Saat ada sesuatu yang selesai, kita ingin tahu kenapa. Kita ingin mendengar penjelasan, mendapatkan alasan, dan memastikan semuanya “selesai dengan benar.” Di sinilah konsep closure biasanya hadir.
Closure adalah tahapan akhir yang kerap dianggap penting dalam proses mengakhiri suatu hubungan. Di momen ini, dua pihak, kamu dan dia, berkesempatan untuk saling memberi dan menerima penjelasan terkait alasan di balik perpisahan.
Biasanya, ini menjadi ruang untuk menyampaikan perasaan, menjernihkan kesalahpahaman, dan memahami apa yang membuat hubungan tidak bisa dipertahankan.
Tidak sedikit orang yang memilih untuk mengakhiri hubungan secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan atau closure.
Tindakan ini sering kali meninggalkan banyak tanda tanya di benak pihak yang ditinggalkan, seperti merasa bertanya-tanya, "Apa yang salah dari diriku?", "Apakah aku kurang baik?", atau "Apakah aku memang layak ditinggalkan?".
Perasaan kecewa, marah, dan frustrasi yang muncul akibat perpisahan mendadak ini bisa berdampak cukup serius. Stres, trauma emosional, bahkan depresi bisa muncul, membuat seseorang sulit untuk membuka hati kembali dan memulai hubungan baru, atau dengan kata lain, mengalami proses move on.
Oleh sebab itu, keberadaan closure menjadi sangat penting. Dengan adanya penjelasan dan kejelasan di akhir hubungan, kamu dan dia bisa sama-sama memahami dan menerima alasan di balik perpisahan tersebut.
Hal ini memungkinkan kalian untuk mengakhiri semuanya dengan lapang dada, tanpa rasa dendam atau kebencian, sehingga proses penyembuhan pun bisa berjalan lebih baik.
Fungsi utama dari closure adalah membantu kedua belah pihak mencapai titik damai. Dengan adanya penjelasan yang terbuka dan jujur, masing-masing bisa lebih mudah menerima kenyataan dan melepaskan masa lalu tanpa menyisakan tanya atau penyesalan yang menggantung.
Closure bukan sekadar percakapan, tapi proses emosional yang memungkinkan seseorang melangkah maju dengan lebih ringan dan tenang.
Namun, dalam kenyataannya, tidak semua orang mendapatkan momen ini. Kadang, hubungan berakhir tiba-tiba. Ada yang ditinggal tanpa kabar, ada juga yang ditolak tanpa penjelasan.
Meskipun menyakitkan, kondisi ini bukan berarti tak bisa dilalui. Justru di sinilah makna dari “no closure is a closure” muncul, bahwa terkadang, tidak adanya jawaban adalah bentuk jawaban itu sendiri.
Ketika tidak ada penjelasan yang datang dari orang lain, satu-satunya jalan keluar adalah berdamai dengan kenyataan sendiri. Mengandalkan kekuatan diri untuk menyimpulkan bahwa mungkin, tidak adanya jawaban itulah jawabannya.
Ketika seseorang memilih pergi tanpa kata, mungkin itu memang bentuk final dari keputusannya. Tidak semua orang mampu atau mau memberikan penutupan yang kita harapkan.
Memahami ini memang tidak mudah, apalagi jika hubungan tersebut penting dan meninggalkan banyak kenangan. Tapi dari proses ini, kita belajar banyak: tentang melepaskan, tentang menerima, dan tentang tidak menggantungkan ketenangan batin pada orang lain.
Closure tidak selalu datang dalam bentuk percakapan terakhir atau pertemuan penutup. Kadang, closure hadir dalam bentuk keheningan, keputusan untuk tidak lagi menunggu, atau keberanian untuk melangkah maju meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika kamu menyadari bahwa no closure is a closure, saat itulah kamu menciptakan closure versimu sendiri.
Jadi, kalau kamu sedang berada dalam fase bertanya-tanya, "kenapa semuanya berakhir seperti ini?" atau "kenapa dia pergi tanpa kata?", mungkin kamu tidak akan pernah tahu.
Tapi kamu tetap bisa memilih untuk berhenti mencari, dan mulai menerima. Karena pada akhirnya, closure bukan tentang jawaban yang diberikan orang lain, tapi tentang keputusan kita untuk selesai, meskipun tanpa penjelasan.
Baca Juga
-
Ngaku Fans Peterpan, Pasha Ungu Antusias Ditawari Jadi Vokalis
-
Ipar Dituding Numpang Hidup, Ayu Ting Ting Langsung Pasang Badan
-
Swara Prambanan 2025, Tutup Tahun dengan Nada, Budaya, dan Doa
-
Tanpa Kembang Api, Swara Prambanan 2025 Rayakan Tahun Baru dengan Empati
-
Saat Sketsa dan Tulisan Berubah Jadi Aksi Menjaga Mangrove di Pantai Baros
Artikel Terkait
-
Reaksi Salah Tingkah Raffi Ahmad Saat Ditanya Soal Kemungkinan Undang Ayu Ting Ting ke Acaranya
-
Amanda Manopo dan Kenny Austin Diduga Berpacaran, Netizen Mulai Cocoklogi
-
Dibayangi Trauma, Ria Ricis Sudah Siap Memulai Hubungan Baru?
-
Ungkap Ada Rasa Spesial? Ini Hubungan Titi DJ dan Thomas Djorghi
-
Soroti Hubungan Beda Agama, Ini Tanggapan Fadly Faisal dan Maudy Effrosina
Kolom
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Belajar Bahasa Asing Itu Bukan Cuma soal Grammar, tapi soal Rasa
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Merayakan Small Wins: Strategi Bertahan atau Justru Menidurkan Ambisi?
Terkini
-
4 Rekomendasi Kafe 24 Jam di Jakarta, Nongkrong sampai Pagi Tetap Nyaman!
-
Inara Rusli Klarifikasi Isu Pukul Anak, Benarkan Pernyataan Mantan Mertua?
-
5 Inspirasi Gaya Girly nan Elegan ala Youngseo ADP, Pancarkan Aura Mahal!
-
Dongeng Palsu Berjudul Fana
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup