Sobat Yoursay, tragedi kekerasan anak yang terus berulang memaksa kita mempertanyakan kembali komitmen negara dalam memberikan perlindungan nyata kepada generasi penerusnya. Keraguan ini muncul dari realitas pahit yang terus berulang, seolah-olah berbagai tragedi yang terjadi memberikan kesimpulan yang sama—bahwa di tanah air ini, keselamatan seorang anak sering kali dipandang sebelah mata.
Seorang anak berusia 14 tahun meninggal setelah mengalami kekerasan oleh aparat. Ia bukan kriminal apalagi pelaku kejahatan besar. Ia hanyalah seorang pelajar, seseorang yang seharusnya masih sibuk memikirkan tugas sekolah, bermain dengan teman-temannya, atau sekadar pulang ke rumah sebelum malam. Namun hidupnya berhenti di sebuah peristiwa yang seharusnya tidak perlu berujung pada kematian.
Sobat Yoursay, mungkin kita sering mendengar bahwa anak adalah masa depan bangsa. Kalimat itu diulang dalam pidato, ditulis dalam dokumen resmi, dan dijadikan slogan dalam berbagai program pemerintah.
Negara bahkan memiliki berbagai regulasi yang menegaskan pentingnya perlindungan anak. Katanya, anak harus dilindungi, dijaga, dan dipastikan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Sayangnya, di lapangan, cerita yang muncul justru sebaliknya.
Anak-anak di Indonesia tidak hanya rentan terhadap kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga semakin sering menjadi korban kekerasan di ruang publik. Mereka bisa menjadi korban kelalaian, korban sistem yang tidak bekerja, dan dalam kasus yang lebih tragis, korban kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya melindungi mereka.
Di titik ini, perlindungan anak tidak lagi sekadar soal kebijakan di atas kertas. Ia menjadi soal nyata tentang apakah seorang anak bisa pulang ke rumah dengan selamat atau tidak.
Sobat Yoursay, kematian seorang anak akibat kekerasan aparat memperlihatkan betapa rapuhnya posisi anak di hadapan kekuasaan. Aparat memiliki kewenangan, perlindungan hukum, dan pelatihan khusus. Sementara anak hanya memiliki tubuh kecil dan statusnya sebagai warga sipil. Ketimpangan ini seharusnya membuat aparat bertindak lebih hati-hati, bukan sebaliknya.
Yang membuat situasi ini semakin menyakitkan adalah kenyataan bahwa korban adalah seorang pelajar. Ia bukan ancaman bagi negara dan bukan pula seseorang yang membawa bahaya besar bagi masyarakat. Namun tetap saja, ia tidak terlindungi.
Sobat Yoursay, jika seorang pelajar saja tidak aman, lalu siapa yang benar-benar aman?
Selama ini, negara sering berbicara tentang pentingnya perlindungan anak. Program demi program diluncurkan dengan tujuan memastikan anak-anak mendapatkan haknya. Kampanye tentang anti-kekerasan terhadap anak juga sering digaungkan. Namun ketika kekerasan justru datang dari pihak yang memiliki otoritas, semua janji itu terasa jauh dari kenyataan.
Sobat Yoursay mungkin juga menyadari bahwa ini bukan kasus pertama di mana anak menjadi korban. Sebelumnya, ribuan anak pernah menjadi korban keracunan makanan. Ada juga anak-anak yang menjadi korban kemiskinan, membuat mereka putus sekolah. Ada yang harus bekerja di usia dini. Ada yang hidup tanpa akses pendidikan yang layak. Ada pula yang kehilangan nyawa karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis.
Kini daftar itu bertambah panjang dengan anak-anak yang menjadi korban kekerasan aparat.
Jika anak bisa menjadi korban kemiskinan, korban kebijakan, dan korban kekerasan sekaligus, maka sulit untuk mengatakan bahwa negara sudah benar-benar hadir melindungi mereka.
Masalahnya bukan hanya pada satu peristiwa, tetapi pada kejadian yang terus berulang. Setiap kali tragedi terjadi, selalu ada pernyataan duka, janji evaluasi, hingga komitmen untuk memperbaiki keadaan. Namun setelah waktu berlalu, semuanya kembali seperti semula.
Ruang publik yang seharusnya aman justru bisa menjadi tempat berbahaya bagi anak. Jalanan, sekolah, bahkan lingkungan sekitar bisa berubah menjadi tempat yang mengancam. Dan ketika ancaman itu datang dari aparat, rasa aman yang seharusnya dijamin negara menjadi semakin sulit dirasakan.
Sobat Yoursay, kita mungkin tidak mengenal anak yang menjadi korban itu secara pribadi. Kita mungkin tidak tahu seperti apa kesehariannya, apa cita-citanya, atau apa yang ia sukai. Namun satu hal yang pasti, ia adalah seorang anak yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan hidup lebih lama.
Ketika seorang anak meninggal akibat kekerasan yang seharusnya bisa dihindari, maka yang hilang bukan hanya satu nyawa. Yang hilang adalah masa depan yang tidak pernah sempat terjadi.
Jika perlindungan hanya terasa dalam bentuk kata-kata, tetapi tidak dalam kenyataan, maka anak-anak akan terus berada dalam posisi rentan. Dan jika nyawa anak terus hilang dalam berbagai tragedi, maka kita harus berani mengakui bahwa ada sesuatu yang salah.
Karena pada akhirnya, martabat sebuah bangsa tidak diukur dari kemegahan infrastruktur atau ambisi programnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjamin keselamatan warga yang paling rentan.
Dan jika seorang anak berusia 14 tahun saja tidak terlindungi, maka mungkin kita perlu bertanya lagi, seberapa berhargakah nyawa anak di mata negara?
Baca Juga
-
Kritik Kebijakan Jadi Pelanggaran HAM? Logika Terbalik Menteri Pigai
-
BPJS Dipimpin Jenderal: Bakal Makin 'Gercep' atau Malah Kaku?
-
Saat Menkeu Minta Rakyat Diam: Matinya Nalar Kritis di Balik Anggaran
-
Ramadan dan Ketimpangan: Siapa yang Paling Berat Menjalani?
-
Ramadan dan Meja Makan yang Kembali Ramai
Artikel Terkait
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Marak Kasus Kekerasan, Aparat Akan Diberi Pelatihan Hak Asasi Manusia Agar Lebih Humanis
-
Bertaruh Nyawa di Arus Lahar Semeru, Aksi Heroik Polisi Lumajang Gendong Siswa SD Demi Bisa Sekolah
-
Semangat Anak Muda dan Momentum Gerakan Subuh Berjamaah di Kala Ramadan
-
Bos LPDP: Anak Pejabat Boleh Terima Beasiswa
Kolom
-
Melipat Jaring di Jalan Raya: Mengembalikan Marwah Pembangunan Masjid
-
Semangat Anak Muda dan Momentum Gerakan Subuh Berjamaah di Kala Ramadan
-
Paspor Kuat Itu Bukan Cuma soal Visa: Tentang Privilege dan Martabat Global
-
Kritik Kebijakan Jadi Pelanggaran HAM? Logika Terbalik Menteri Pigai
-
Di Balik Nasi Sisa Sahur: Refleksi Emak-Emak tentang Ramadan dan Kesederhanaan