Selama ini, pembahasan soal paspor sering berhenti di satu titik: bebas visa atau tidak bebas visa. Padahal, realitasnya jauh lebih luas. Paspor kuat itu bukan cuma soal bisa masuk banyak negara tanpa cap kedutaan, tapi tentang akses hidup global.
Mulai dari kesehatan, mobilitas, investasi, hingga status hukum lintas negara. Visa hanya pintu masuknya. Yang ada di dalam rumah itu jauh lebih besar.
Kita harus jujur: paspor Indonesia memang lemah. Bukan dalam arti merendahkan, tapi dalam arti objektif dan struktural. Warga Indonesia untuk ke Amerika Serikat atau kawasan Eropa harus melewati proses visa yang panjang, mahal, dan belum tentu lolos meskipun dananya ada.
Apply Schengen atau visa Amerika itu bukan cuma soal uang, tapi soal persepsi risiko negara asal, reputasi paspor, dan kepercayaan sistem imigrasi global.
Namun yang Jarang Dibahas: Paspor Kuat itu Punya Privilege di Luar Visa
Pertama, reciprocal health benefit. Di banyak negara, warga dari negara tertentu bisa mengakses layanan kesehatan lintas negara dengan skema timbal balik. Ini bukan turis insurance, tapi sistem perlindungan antarnegara yang berbasis perjanjian diplomatik. Ini privilege paspor, bukan privilege uang.
Kedua, jalur cepat menjadi Permanent Resident (PR). Pemegang paspor kuat di banyak negara punya akses jalur imigrasi yang lebih ringkas: skilled migration, investment visa, hingga residency by stay. Bahkan di beberapa negara, ada paspor tertentu yang bisa langsung mengurus PR tanpa proses panjang. Ini bukan soal kaya atau miskin, tapi soal kekuatan paspor secara geopolitik.
Ketiga, hak beli properti lintas negara. Banyak negara membatasi kepemilikan properti untuk warga asing, kecuali dari negara tertentu yang punya perjanjian bilateral. Lagi-lagi, ini privilege paspor, bukan saldo rekening.
Keempat, fleksibilitas hidup. Pemilik paspor kuat bisa ganti itinerary di tengah perjalanan tanpa pusing. Bisa spontan pindah negara, extend stay, ubah rencana hidup, bahkan pindah karier lintas negara tanpa drama administratif. Mobilitas ini menciptakan kesempatan hidup yang tidak terlihat tapi sangat nyata.
Terima Kenyataan Bahwa Paspor Indonesia Masih Lemah, Jangan Denial
Itulah sebabnya, membahas paspor lemah dengan denial justru kontraproduktif. Realitanya, paspor Indonesia memang lemah. Titik. Bukan salah individu, tapi hasil dari posisi negara dalam sistem global: ekonomi, stabilitas, reputasi migrasi, dan diplomasi internasional.
Contoh konkretnya banyak. Orang bisa bolak-balik Singapura, Hong Kong, Korea Selatan tanpa masalah, tapi begitu ke Amerika dan Eropa, baru terasa beratnya sistem visa. Baru terasa betapa nyamannya hidup tanpa kedutaan, tanpa wawancara, tanpa dokumen tebal, tanpa rasa “diadili”.
Mengapa Ada Paspor yang Kuat? Dan Apa Fungsi Sebenarnya?
Ada juga kisah orang Jepang yang ganti kewarganegaraan ke Indonesia karena menikah. Saat ditanya soal paspor, jawabannya sederhana: “Saya tidak suka traveling, jadi tidak ngaruh.” Dan itu benar. Paspor kuat tidak ada gunanya untuk orang yang tidak bergerak.
Karena paspor kuat itu tentang mobilitas hidup, bukan gaya hidup traveling.
Masalahnya, ketika paspor lemah, yang terdampak bukan cuma turis, tapi:
- atlet yang gagal tampil karena visa tidak keluar,
- akademisi yang kehilangan kesempatan konferensi,
- profesional yang batal kerja,
- seniman yang gagal tampil,
- mahasiswa yang kehilangan peluang riset.
Ini semua soal kesempatan struktural, bukan hobi jalan-jalan. Maka arah diskusinya seharusnya bukan denial, bukan defensif, bukan pembenaran. Tapi strategi:
- dorong diplomasi bebas visa timbal balik,
- perkuat reputasi WNI sebagai low-risk travelers,
- bangun kepercayaan internasional,
- perkuat ekonomi dan stabilitas,
- perbaiki citra migrasi tenaga kerja,
- konsistensi kebijakan luar negeri.
- Paspor kuat itu bukan hadiah. Ia adalah produk kepercayaan global.
Dan pada akhirnya, benar juga, bahwa tidak semua orang butuh paspor kuat. Tapi negara yang besar, sehat, dan maju, harus punya paspor yang kuat.
Bukan demi gaya, bukan demi pamer,
tapi demi akses, martabat, dan kesempatan warganya di dunia global.
Baca Juga
-
Menggugat Beasiswa: Belajar dari DAAD, Menata Ulang Cara Pandang LPDP
-
New Wisata Wendit: Ikon Legendaris Malang yang Cocok Jadi Destinasi Liburan Keluarga
-
Membuka Portal Dunia Baru di Novel Bumi Karya Tere Liye
-
Potret Dunia Kerja yang Penuh Tekanan di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Menjalin Cinta yang Sehat di Buku Bu, Pantaskah Dia Mendampingiku?
Artikel Terkait
-
Ekonom: Tarif Impor AS Bisa Tekan Rupiah dan Picu Kenaikan Harga Dalam Negeri
-
Menlu Sugiono: Indonesia Siap Kirim 8.000 Personel Pasukan ISF, Fokus Lindungi Warga Sipil
-
8 Fakta Alumni LPDP Pamer Paspor Inggris Anak: dari Flexing hingga Minta Maaf
-
Ironi Sosial: Ketika Permasalahan Publik Terus Dinormalisasi dan Diabaikan
-
Umrah Mandiri Makin Diminati: Panduan Lengkap Rencanakan Ibadah Fleksibel dari Visa sampai Hotel
Kolom
-
Kritik Kebijakan Jadi Pelanggaran HAM? Logika Terbalik Menteri Pigai
-
Di Balik Nasi Sisa Sahur: Refleksi Emak-Emak tentang Ramadan dan Kesederhanaan
-
Menggugat Beasiswa: Belajar dari DAAD, Menata Ulang Cara Pandang LPDP
-
Putaran Tanpa Arah Menjelang Magrib: Pelajaran Kecil dari Jalanan yang Saya Dapat Saat Ngabuburit
-
BPJS Dipimpin Jenderal: Bakal Makin 'Gercep' atau Malah Kaku?
Terkini
-
Kartu Pokemon Milik Logan Paul Laku Fantastis, Tembus Rp277 Miliar
-
Pertemuan di Masjid Kota
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Tayang 28 Maret Nanti, Intip Sinopsis Anime Agents of the Four Seasons