“Lowongan banyak, tapi kok tetap susah dapat kerja?”, mungkin pertanyaan ini sering muncul di kalangan Gen Z. Di satu sisi, peluang kerja terlihat ada di mana-mana. Di sisi lain, lamaran sudah dikirim puluhan bahkan ratusan, tapi hasilnya nihil.
Dari sinilah muncul dilema, apakah memang susah dapat kerja atau kita terlalu pilih-pilih? Realitanya, dilema ini tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang membuat proses mencari kerja terasa makin rumit bagi Gen Z.
Pasar Kerja Berubah, Tapi Ekspektasi Juga Naik
Gen Z masuk ke dunia kerja di tengah kondisi yang tidak ideal. Setelah pandemi, banyak perusahaan melakukan efisiensi. Lowongan kerja tetap ada, tapi jumlah pencari kerja jauh lebih besar dari pasar kerja.
Di saat yang sama, Gen Z tumbuh dengan akses informasi luas. Kita tahu soal work-life balance, kesehatan mental, harapan terkait lingkungan kerja yang sehat, hingga gaji yang layak.
Hal ini membuat standar kerja Gen Z cenderung lebih tinggi. Bukan karena manja, tapi karena lebih sadar hak dan batasan diri. Kerja bukan lagi mengejar validasi, tapi juga munculnya tren career minimalism.
Kenapa Terasa Sulit Dapat Kerja?
Ada beberapa alasan kenapa banyak Gen Z merasa susah dapat kerja. Pertama, ketatnya persaingan hingga membuat satu lowongan bisa diincar ratusan pelamar dengan latar belakang beragam. Nggak jarang baru mau kirim lamaran kerja saja sudah overthinking.
Kedua, syarat kerja yang terkadang terasa nggak realistis. Banyak perusahaan mencari “fresh graduate” tapi juga menambahkan syarat pengalaman kerja bertahun-tahun. Tentu spesifikasi ini jadi bertentangan dan membuat kesempatan kerja jadi terbatas bagi Gen Z.
Ketiga, proses rekrutmen yang panjang dan nggak transparan juga bikin peluang kerja makin berkurang. Sudah lolos beberapa tahap, tapi akhirnya kena ghosting juga gara-gara faktor “X” yang membuat usaha terasa sia-sia.
Benarkah Gen Z Terlalu Pilih-pilih?
Label “terlalu pilih-pilih” urusan cari kerja sering disematkan pada Gen Z. Padahal, kalau dilihat dari sudut pandang Gen Z yang terjadi adalah selektif, bukan manja.
Gen Z cenderung mempertimbangkan jam kerja dan fleksibilitas, budaya perusahaan, kejelasan peran, dan peluang karier bisa berkembang di masa depan.
Menolak kerja dengan gaji yang dianggap kurang layak atau lingkungan toksik bukan berarti malas. Justru langlah ini merupakan bentuk kesadaran diri dan self-respect. Namun, dilema muncul saat idealisme bertabrakan dengan kebutuhan hidup.
Antara Realita Finansial dan Prinsip Pribadi
Tidak semua Gen Z punya privilege untuk menunggu dan mendapatkan pekerjaan ideal. Banyak yang harus segera bekerja demi membantu keluarga atau memenuhi kebutuhan sendiri hingga prinsip pribadi akhirnya kalah di hadapan realita finansial.
Di sinilah konflik batin muncul untuk bertahan menunggu kerja yang “sesuai passion” atau menerima pekerjaan yang tidak ideal tapi realistis. Pilihan ini sering membuat Gen Z merasa bersalah seolah apa pun yang dipilih pasti salah.
Media sosial juga berperan besar pada munculnya dilema Gen Z soal karier. Timeline dipenuhi cerita teman sebaya yang sudah mapan, karier yang terlihat mulus, serta penghasilan besar di usia muda yang “dipamerkan”.
Padahal, yang ditampilkan sering kali hasil akhir, bukan proses penuh jatuh bangun. Perbandingan ini membuat pencarian kerja terasa semakin berat secara mental seolah sedang dituntut buat segera menyusul demi memenuhi ekspektasi dan standar medsos.
Strategi Tengah: Realistis Tanpa Mengkhianati Diri
Alih-alih memilih antara idealisme atau bertahan hidup, Gen Z bisa mencari jalan tengah. Kita bisa mempertimbangkan strategi untuk menerima pekerjaan sementara sambil meningkatkan skill dan memilih tempat kerja yang masih sejalan dengan nilai utama.
Cara lain yang bisa jadi win-win solution juga bisa dilakukan dengan membangun pengalaman meski bukan di posisi impian serta terus belajar dan memperluas jaringan. Pahami dulu kalau kerja pertama itu nggak harus jadi kerja terakhir, kok.
Dilema Gen Z Soal Karier: Bukan Salah Siapa-siapa
Dilema cari kerja yang dialami Gen Z bukan salah siapa-siapa, apalagi faktor anggapan malas atau terlalu pilih-pilih. Ada sistem, kondisi ekonomi, dan perubahan nilai yang ikut berperan dan mempengaruhi pertimbangan Gen Z dalam mencari kerja.
Gen Z nggak salah karena ingin memperjuangkan hidup layak. Dunia kerja juga nggak sepenuhnya salah karena ada tuntutan bisnis. Yang dibutuhkan hanyalah ruang dialog dan adaptasi dua arah.
Karena pada akhirnya, mencari kerja bukan cuma soal bertahan hidup, tapi juga soal membangun masa depan yang masuk akal dan manusiawi. Pemberi kerja juga bukan sekadar membuka lowongan, tapi ada kebutuhan operasional perusahaan.
Baca Juga
-
Rekap Malaysia Open 2026 Day 2: Jojo Menang Straight Game, Alwi Kalah Rubber
-
Malaysia Open 2026: 5 Wakil Indonesia Berjuang untuk Lolos ke Perempat Final
-
Baca Buku Bisa Jadi Cara Ampuh Healing Inner Child, Gen Z Wajib Coba!
-
Fenomena Brondong Dekati Janda: Apa Tips Sukses Asmara Beda Usia?
-
Melawan Budaya Patriarki dari Rumah Sendiri: Perlawanan Sunyi ala Gen Z
Artikel Terkait
Kolom
-
Nadiem Ditarik Paksa: Mengapa Negara Begitu Takut Terdakwa Bicara?
-
Lebih Baik Baca Buku daripada Membaca Hasil AI
-
Dari Fotokopi ke AI: Mengapa Kecurangan Skripsi Terus Hidup di Tiap Zaman?
-
Ketika Pendidikan Dianggap Scam, Siapa yang Akan Menopang Hidup Kita?
-
8 Cara Melupakan Mantan Dengan Cepat Tanpa Drama, Mulai dari Jangan Menyalahkan Diri Sendiri!
Terkini
-
4 Padu Padan OOTD Layering Monokrom ala Felix Stray Kids yang Wajib Ditiru!
-
4 Rekomendasi Sampo Pelurus Rambut, Jadi Lebih Halus dan Mudah Diatur
-
Motorola Kenalkan Razr Fold di Consumer Electronics Show 2026, HP Lipat Layar Lega 8,09 Inci
-
Sukses di Bioskop, The Housemaid Konfirmasi Lanjut Sekuel Mulai Tahun Ini
-
5 Milk Cleanser Korea yang Bikin Kulit Bersih, Lembap, dan Glowing