Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi momen buka bersama saat Ramadan (Pexels/RDNE Stock project)
e. kusuma .n

Bulan Ramadan selalu identik dengan tradisi buka bersama atau bukber. Mulai dari teman sekolah, rekan kerja, komunitas, hingga keluarga besar, semua berlomba-lomba mengadakan agenda ini.

Grup WhatsApp mendadak ramai, polling tanggal berseliweran, dan restoran cepat penuh reservasi. Namun di tengah antusiasme tersebut, muncul pertanyaan menarik: bukber benar-benar momen silaturahmi atau justru berubah menjadi ajang FOMO?

Rasa takut tertinggal dari pengalaman sosial yang dianggap menyenangkan atau penting ternyata juga “menyerang” momen Ramadan. Di era media sosial, fenomena ini semakin terasa pada momentum bukber yang diunggah ke medsos.

Unggahan konten di Instagram Stories atau TikTok seolah menjadi pengingat kalau “semua orang sedang berkumpul”. Makna awal bukber pun seolah mulai bergeser, bukan lagi murni untuk silaturahmi.

Makna Awal Bukber: Menjalin Silaturahmi

Secara tradisional, buka bersama adalah momen mempererat hubungan. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan, memperbaiki relasi, dan menyambung kembali komunikasi yang sempat renggang.

Dalam suasana puasa, kebersamaan saat berbuka terasa lebih hangat dan bermakna. Bukber juga sering menjadi ruang nostalgia saat jadi ruang bertemu teman lama, mengenang masa sekolah, atau berbagi cerita perjalanan hidup setelah sekian tahun tak bersua.

Di titik ini, bukber jelas memiliki nilai sosial dan emosional yang positif. Namun, seiring perkembangan zaman, bukber tak lagi sekadar makan bersama, tapi ada unsur gaya hidup, eksistensi, bahkan status sosial yang ikut bermain.

Bukber dan Tekanan Sosial

Di era digital, setiap kegiatan hampir selalu didokumentasikan dan diunggah ke platform media sosial. Foto meja penuh makanan hingga outfit terbaik seolah jadi konten wajib. Tanpa sadar, momen bukber bergeser jadi ajang menunjukkan “kehidupan sosial yang aktif”.

Di sinilah FOMO mulai muncul. Ketika melihat teman-teman menghadiri berbagai acara bukber, sebagian orang merasa tertinggal jika tidak ikut serta. Undangan bukber yang sebenarnya melelahkan pun tetap dihadiri karena takut dianggap anti-sosial.

Tekanan ini terasa kuat terutama di kalangan anak muda dan pekerja kantoran. Jadwal bukber pun mendadak memenuhi agenda yang bahkan bisa terjadi hampir setiap minggu. Bukannya mempererat hubungan, justru bisa memicu kelelahan sosial dan finansial.

Dampak Finansial dan Emosional

Fenomena bukber juga berdampak pada keuangan. Tidak sedikit orang merasa pengeluaran Ramadan justru membengkak karena sering makan di luar. Meski banyak restoran dan kafe yang menawarkan paket khusus bukber, tetapi tetap saja menguras dompet.

Di sisi lain, bagi sebagian orang, ada tekanan tersendiri untuk tampil rapi, membeli outfit baru, atau memilih tempat makan yang “layak upload”. Jika tidak dikelola dengan bijak, bukber bisa berubah menjadi beban, bukan kebahagiaan.

Selain itu, terlalu banyak agenda sosial bisa membuat energi terkuras. Ramadan yang seharusnya menjadi momen refleksi dan peningkatan ibadah malah dipenuhi aktivitas luar rumah. Waktu untuk istirahat dan quality time bersama keluarga inti bisa terpinggirkan.

Antara Kebutuhan Sosial dan Validasi

Secara psikologis, manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan koneksi. Bertemu dan berbincang langsung memberikan rasa kebersamaan yang tidak tergantikan oleh pesan teks dan momen bukber memenuhi kebutuhan dasar tersebut.

Namun, ketika motivasi bergeser menjadi sekadar ingin terlihat “ikut tren”, makna kebersamaan ini bisa berubah. Ada perbedaan antara datang karena ingin bertemu dan datang karena takut ketinggalan momen.

Media sosial memperkuat dorongan validasi ini. Unggahan foto bukber sering kali disertai caption penuh kehangatan, meski dalam kenyataannya percakapan di meja makan lebih banyak diisi scrolling ponsel masing-masing.

Jika yang terjadi hanya kebutuhan konten, maka kebersamaan yang diciptakan melalui momen bukber hanya akan terasa semu karena fokus utama hanya untuk dokumentasi dan bukan interaksi.

Silaturahmi atau FOMO?

Pada akhirnya, bukber bisa menjadi momen silaturahmi yang tulus atau ajang FOMO tergantung bagaimana kita memaknainya. Tradisi ini pada dasarnya positif, tetapi bisa kehilangan esensi jika hanya dijadikan panggung eksistensi.

Ramadan mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam hal keinginan untuk selalu terlihat aktif dan diterima. Tidak semua momen perlu dibagikan dan tidak semua undangan harus diikuti.

Mungkin pertanyaan reflektif yang perlu diajukan adalah apakah kita pulang dari bukber dengan hati yang hangat atau justru dengan rasa lelah dan kosong? Jika jawabannya hangat dan penuh makna, berarti silaturahmi benar-benar terjalin.

Namun, jika yang tersisa hanya foto di galeri dan dompet yang menipis, bisa jadi kita sedang terjebak dalam FOMO. Di bulan yang penuh berkah ini, semoga setiap kebersamaan bukan sekadar formalitas, melainkan ruang untuk benar-benar hadir dan saling menguatkan.