M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Ilustrasi siluet karyawan berlari untuk bekerja (Gambar oleh geralt dari Pixabay)
Irhaz Braga

Selama bertahun-tahun, ambisi dipuja sebagai motor kemajuan. Bekerja keras, mengejar posisi tinggi, dan mengumpulkan capaian material dipromosikan sebagai jalan menuju hidup yang lebih baik. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, narasi itu mulai dipertanyakan. Muncul sebuah kecenderungan baru, terutama di kalangan anak muda, yang dikenal dengan istilah “soft life”. Istilah ini menggambarkan keinginan hidup yang lebih tenang, minim konflik, dan tidak selalu terikat pada perlombaan prestasi.

Fenomena ini bukan lahir dari kemalasan semata, melainkan dari kelelahan kolektif. Banyak orang menyaksikan bagaimana ambisi yang dibangun dengan kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan hidup. Jam kerja yang panjang, tekanan target, dan ketidakpastian ekonomi justru kerap berujung pada burnout, kecemasan, serta rapuhnya kesehatan mental. Dalam kondisi ini, soft life hadir sebagai bentuk perlawanan halus terhadap logika hidup yang terlalu keras.

Keinginan untuk hidup tenang mencerminkan perubahan cara pandang terhadap makna berhasil. Sukses tidak lagi semata-mata tentang naik jabatan atau memperbesar penghasilan, tetapi tentang kemampuan menjaga kewarasan, relasi, dan kualitas hidup. Namun, pilihan ini tidak datang tanpa dilema, terutama ketika realitas ekonomi semakin menekan.

Soft Life sebagai Strategi Bertahan

Bagi sebagian orang, soft life bukan gaya hidup estetis seperti yang kerap tampil di media sosial, melainkan strategi bertahan hidup. Di tengah harga kebutuhan pokok yang naik, pasar kerja yang tidak stabil, dan masa depan yang sulit diprediksi, menurunkan ekspektasi hidup dianggap lebih realistis daripada terus memaksakan ambisi besar.

Generasi muda tumbuh dengan kesadaran bahwa kerja keras saja tidak cukup. Banyak yang menyaksikan orang tua mereka berjuang seumur hidup tanpa jaminan keamanan ekonomi di hari tua. Pengalaman ini membentuk sikap skeptis terhadap narasi lama tentang meritokrasi. Soft life, dalam konteks ini, menjadi cara untuk mengambil jarak dari kekecewaan struktural.

Namun, soft life juga rentan disalahpahami. Ia sering dituding sebagai bentuk menyerah atau antiambisi. Padahal, bagi banyak orang, pilihan hidup yang lebih sederhana justru membutuhkan keberanian. Mengurangi ambisi berarti menghadapi stigma sosial, rasa tertinggal, dan ketidakpastian finansial yang nyata. Tidak semua orang memiliki privilese untuk hidup tenang tanpa memikirkan kebutuhan dasar.

Di sinilah paradoks soft life muncul. Ia menawarkan ketenangan, tetapi individu tetap hidup dalam sistem ekonomi yang menuntut produktivitas tinggi. Keinginan untuk melambat kerap berbenturan dengan kenyataan bahwa biaya hidup tidak ikut melambat.

Menemukan Jalan Tengah antara Tenang dan Bertahan

Fenomena soft life seharusnya tidak dibaca secara hitam-putih. Ia bukan penolakan total terhadap ambisi, melainkan ajakan untuk meninjau ulang arah dan harganya. Ambisi yang tidak disertai kesadaran akan batas manusiawi berisiko mengorbankan banyak hal yang justru esensial.

Tantangan ke depan adalah menemukan keseimbangan antara keinginan hidup tenang dan tuntutan bertahan hidup. Ini bukan persoalan individual semata, melainkan juga persoalan struktural. Dunia kerja perlu menyediakan ruang yang lebih manusiawi, sementara negara perlu memastikan jaring pengaman sosial yang memadai. Tanpa itu, soft life mudah berubah menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati segelintir orang.

Pada level personal, refleksi tentang soft life membuka ruang dialog yang lebih jujur tentang kebutuhan hidup. Apa yang benar-benar ingin dicapai dan apa yang bersedia dikorbankan. Hidup tenang tidak selalu berarti tanpa tantangan, tetapi hidup yang dijalani dengan kesadaran dan pilihan sadar.

Di tengah realitas ekonomi yang keras, soft life mungkin bukan solusi final, tetapi ia adalah sinyal penting. Sinyal bahwa banyak orang lelah hidup dalam tekanan tanpa henti; bahwa ada kerinduan kolektif untuk hidup yang lebih manusiawi, meski jalannya tidak mudah.

Pada akhirnya, soft life mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang seberapa jauh kita berlari, tetapi tentang apakah kita masih mampu bernapas dengan lega di sepanjang perjalanan. Ambisi tetap penting, tetapi ketenangan jiwa tidak kalah bernilai. Di antara keduanya, manusia modern terus mencari titik temu agar hidup tidak hanya bertahan, tetapi juga layak dijalani.