Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Anak Belajar Bersama Ibu (Freepik/fwstudio)
Ukhro Wiyah

Beberapa waktu lalu, ketika mengikuti Dewiku Class bersama dengan Kak Rusti Dian, saya mendengar sebuah pernyataan yang sedikit berbeda dari yang biasa saya dengar. Selama ini, kita seringkali mendengar kalimat: “Perempuan tidak pernah salah.” Namun kala itu, saya mendengar Kak Rusti berkata bahwa perempuan adalah sosok yang selalu disalahkan. Yang mana, dalam pengambilan keputusan pribadi sekalipun, perempuan ada di bawah bayang-bayang kendali masyarakat.

Salah satu contoh yang sering terjadi: ketika seorang perempuan memilih untuk melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu di perguruan tinggi, masih ada stigma dari masyarakat yang mengatakan: “Perempuan nggak perlu sekolah tinggi.” atau “Buat apa sekolah tinggi? Ujung-ujungnya juga nikah dan jadi ibu rumah tangga.” Banyak perempuan yang masih mendengar kalimat seperti ini ketika mereka ingin melanjutkan pendidikan.

Xaviera Putri, kreator muda yang mulai banyak dikenal melalui program Clash of Champions (COC) dari Ruangguru, sempat membagikan pengalaman serupa dalam podcast bersama Habib Ja’far di channel Jeda Nulis. Xaviera mengungkapkan bahwa dirinya juga pernah mendapatkan statement negatif ketika memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Korea Selatan: “Ngapain sih belajar capek-capek? Toh, nanti nikah juga.”

Pandangan tersebut rasanya terlalu menyederhanakan peran perempuan dalam keluarga. Padahal jika perempuan kelak menjadi seorang ibu, justru pendidikan menjadi bekal yang sangat penting bagi mereka. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mencoba melihat kembali pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Peran Orangtua dalam Mendidik Anak

Dalam Islam, kita mengenal sebuah ungkapan berbahasa Arab yang berbunyi: al ummu madrasatul ula wal abu mudiruha. Artinya: Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya dan ayah adalah kepala sekolahnya.

Ungkapan di atas mengandung makna yang sangat dalam tentang peran orangtua dalam pendidikan anak. Seorang ibu disebut sebagai madrasah pertama karena sejak awal terlahir ke dunia, anak lebih banyak berinteraksi dengan ibunya. Dari ibu, anak pertama kali belajar berbicara, mengenal lingkungan, memahami emosi, hingga meniru perilaku sehari-hari. Segala hal yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak sejak kecil perlahan membentuk cara berpikir dan kepribadiannya.

Selain menyoroti peran ibu sebagai madrasah pertama, ungkapan tersebut juga menyebutkan bahwa ayah adalah kepala sekolahnya. Artinya, pendidikan dalam keluarga bukanlah tanggung jawab ibu seorang diri. Ayah tetap memiliki peran penting sebagai pemimpin keluarga yang mengarahkan, melindungi, serta memastikan bahwa proses pendidikan di dalam rumah berjalan dengan baik. Dengan kata lain, pendidikan anak adalah kerja sama antara ibu dan ayah yang saling melengkapi.

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran ibu sebagai madrasah pertama memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Interaksi yang intens sejak masa awal kehidupan membuat ibu menjadi sosok yang sering kali paling dekat dengan proses belajar anak. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi ibu bukanlah peran yang bisa dianggap sederhana.

Pentingnya Bekal Pendidikan bagi Perempuan

Melihat betapa esensialnya peran ibu, maka penting sekali bagi perempuan untuk memiliki bekal pendidikan yang baik. Seorang ibu yang terdidik akan lebih mudah memahami bagaimana cara mendampingi proses belajar anak, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta membimbing mereka menghadapi berbagai tantangan zaman yang terus berubah. Pendidikan juga membantu seorang ibu untuk berpikir lebih terbuka, bijak dalam mengambil keputusan, dan mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Pendidikan bagi perempuan tidak hanya berkaitan dengan karier di ruang publik. Pendidikan juga memiliki peran besar dalam kehidupan keluarga. Perempuan yang berpendidikan tidak hanya mempersiapkan dirinya untuk bekerja atau berkontribusi di masyarakat, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjalankan peran penting sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.

Oleh karena itu, anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga terasa kurang tepat. Justru jika peran ibu begitu besar dalam membentuk generasi berikutnya, maka memiliki ibu yang terdidik menjadi sebuah keuntungan yang sangat berharga bagi anak-anak.

Seorang ibu yang berpendidikan bukan hanya mampu membantu anak memahami pelajaran di sekolah, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, serta cara berpikir kritis. Hal-hal tersebut sering kali tidak hanya dipelajari dari buku pelajaran, tetapi dari contoh dan kebiasaan yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Pendidikan dalam keluarga memang tidak hanya bergantung pada satu pihak. Ibu sebagai madrasah pertama dan ayah sebagai kepala sekolah atau pemimpin keluarga memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi. Keduanya bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik bagi anak-anak mereka.

Ketika seorang perempuan memilih untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, langkah tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, hal itu justru dapat dilihat sebagai upaya mempersiapkan diri untuk menjadi pendidik yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Sebab jika seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka menjadi perempuan yang terdidik adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa madrasah tersebut berdiri di atas fondasi ilmu yang kuat.