Hayuning Ratri Hapsari | Desi Nurcahyati
Ilustrasi menunggu buka puasa di masjid (Pexels/Abdullah Ghatasheh)
Desi Nurcahyati

Langit Ramadan selalu memiliki caranya sendiri untuk memikat insan manusia. Semburat jingga menggantung pelan di ufuk barat, menunjukkan isyarat bahwa hari akan segera ditutup dengan doa dan seteguk air pertama. Jalanan mendadak lebih hidup dari biasanya. Motor-motor berdesakan di jalan, klakson yang bersahutan, dan aroma gorengan bercampur dengan wangi kolak yang tercium dari sudut-sudut gang. Semua manusia seperti berlomba dengan waktu, mengejar detik-detik terakhir sebelum azan maghrib berkumandang.

Di sebuah restoran mewah di tepi jalan utama, lampu-lampu gantung menyala begitu hangat. Meja-meja panjang telah terisi penuh sejak setengah jam lalu. Piring tersusun rapi, gelas-gelas bening berembun, dan hidangan berjajar seperti parade kecil yang nampak menggoda mata. Tawa terdengar di sela obrolan. Beberapa orang sibuk mengabadikan momen dengan mengatur sudut kamera, memastikan pencahayaan kamera cukup, lalu mengunggahnya dengan caption “ramadan vibes unlocked”. Ramadan di meja itu hadir sebagai sebuah perayaan. Ia menjadi alasan untuk berkumpul, untuk melepas rindu, untuk berbagi cerita setelah sekian lama tak saling bersua. Tak ada yang salah dengan itu. Bukankah Ramadan juga tentang kebersamaan di setiap momennya?

Namun, hanya beberapa puluh meter saja dari restoran mewah itu, di halaman masjid kecil yang cat temboknya mulai memudar, antrean mulai terbentuk. Anak-anak menggenggam kupon takjil dengan penuh hati-hati, seolah takut terlipat atau hilang. Seorang ibu membawa rantang kecil dari rumah, berharap bisa membawa pulang sedikit makanan untuk berbuka puasa bersama keluarganya. Seorang bapak tua duduk di tangga masjid, menatap jam tangannya yang sudah usang. Di hadapannya hanya ada sebotol air mineral dan dua butir kurma yang dibagikan panitia.

Azan yang sama akan terdengar oleh mereka. Langit yang sama pun akan menjadi saksi. Tetapi meja yang menyambut mereka sangatlah berbeda.

Di restoran mewah, menu berbuka dimulai dari takjil yang manis, dilanjutkan oleh hidangan utama yang beragam, lalu di tutup oleh dessert yang fancy. Sedangkan di masjid kecil itu? Sebagian orang berbuka dengan apa yang ada; air putih, kurma, atau sebungkus nasi sederhana. Bagi sebagian orang, berbuka adalah momen memanjakan diri setelah seharian menahan lapar. Tetapi bagi sebagian yang lain, berbuka adalah jeda singkat sebelum kembali memikirkan esok hari yang belum tentu lebih mudah.

Ramadan memang datang ke setiap pintu rumah. Ia mengetuk pintu tersebut tanpa memandang status, pekerjaan, atau isi dompet sekalipun. Tetapi ia singgah dengan cerita yang berbeda-beda.

Ada manusia yang memaknai lapar sebagai bagian dari gaya hidup sehat, sebagai momen untuk detoksifikasi tubuh sekaligus pikiran. Ada pula yang tak asing dengan lapar, bahkan di luar bulan puasa. Bagi mereka, Ramadan tidak banyak mengubah rasa di perut, yang berubah mungkin hanya suasana saja, karena kini ada lebih banyak tangan yang berbagi.

Kontras itu sering kali hadir di tengah-tengah kehidupan tanpa kita sadari. Kita mungkin duduk nyaman di kursi empuk, bercengkerama sambil menunggu azan, tanpa pernah benar-benar melihat keadaan di sekeliling. Padahal, di jalan yang sama, pada senja yang sama, ada wajah-wajah lain yang memaknai Ramadan dengan cara yang jauh lebih sunyi.

Hal ini bukan berarti yang satu lebih benar dari yang lain. Ramadan tidak pernah meminta kita untuk membandingkan. Namun, ia mengajak kita untuk melihat lebih dalam bahwa di balik kemeriahan promo buka bersama dan meja-meja yang penuh dengan hidangan, ada realitas yang berjalan berdampingan. Realitas tentang harapan sederhana: bisa berbuka dengan layak, bisa membawa pulang makanan untuk anak di rumah, bisa menjalani esok hari tanpa cemas berlebihan.

Senja itu akhirnya benar-benar tenggelam. Azan maghrib pun berkumandang, merambat melalui pengeras suara masjid dan memantul di dinding-dinding restoran. Semua orang, di tempatnya masing-masing, menundukkan kepala. Tangan-tangan terangkat, doa-doa berbisik lirih memuji nama-Nya.

Mungkin, pada akhirnya, Ramadan tidak hanya ingin kita merasakan lapar dan dahaga. Ia ingin kita merasakan kehadiran orang lain yang jalan hidupnya mungkin tak sama, yang mejanya mungkin tak seramai milik kita, tetapi doanya sama tulusnya menembus langit.

Di bawah langit yang sama, kita belajar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang apa yang tersaji di atas meja. Namun, Ramadan juga adalah tentang kepekaan yang tumbuh di dalam dada. Tentang kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu dibagi rata, tetapi empati selalu bisa diperluas. Karena pada senja yang sama, selalu ada meja yang berbeda. Dan di situlah wajah Ramadan yang paling jujur memperlihatkan dirinya.