Langit Ramadan selalu memiliki caranya sendiri untuk memikat insan manusia. Semburat jingga menggantung pelan di ufuk barat, menunjukkan isyarat bahwa hari akan segera ditutup dengan doa dan seteguk air pertama. Jalanan mendadak lebih hidup dari biasanya. Motor-motor berdesakan di jalan, klakson yang bersahutan, dan aroma gorengan bercampur dengan wangi kolak yang tercium dari sudut-sudut gang. Semua manusia seperti berlomba dengan waktu, mengejar detik-detik terakhir sebelum azan maghrib berkumandang.
Di sebuah restoran mewah di tepi jalan utama, lampu-lampu gantung menyala begitu hangat. Meja-meja panjang telah terisi penuh sejak setengah jam lalu. Piring tersusun rapi, gelas-gelas bening berembun, dan hidangan berjajar seperti parade kecil yang nampak menggoda mata. Tawa terdengar di sela obrolan. Beberapa orang sibuk mengabadikan momen dengan mengatur sudut kamera, memastikan pencahayaan kamera cukup, lalu mengunggahnya dengan caption “ramadan vibes unlocked”. Ramadan di meja itu hadir sebagai sebuah perayaan. Ia menjadi alasan untuk berkumpul, untuk melepas rindu, untuk berbagi cerita setelah sekian lama tak saling bersua. Tak ada yang salah dengan itu. Bukankah Ramadan juga tentang kebersamaan di setiap momennya?
Namun, hanya beberapa puluh meter saja dari restoran mewah itu, di halaman masjid kecil yang cat temboknya mulai memudar, antrean mulai terbentuk. Anak-anak menggenggam kupon takjil dengan penuh hati-hati, seolah takut terlipat atau hilang. Seorang ibu membawa rantang kecil dari rumah, berharap bisa membawa pulang sedikit makanan untuk berbuka puasa bersama keluarganya. Seorang bapak tua duduk di tangga masjid, menatap jam tangannya yang sudah usang. Di hadapannya hanya ada sebotol air mineral dan dua butir kurma yang dibagikan panitia.
Azan yang sama akan terdengar oleh mereka. Langit yang sama pun akan menjadi saksi. Tetapi meja yang menyambut mereka sangatlah berbeda.
Di restoran mewah, menu berbuka dimulai dari takjil yang manis, dilanjutkan oleh hidangan utama yang beragam, lalu di tutup oleh dessert yang fancy. Sedangkan di masjid kecil itu? Sebagian orang berbuka dengan apa yang ada; air putih, kurma, atau sebungkus nasi sederhana. Bagi sebagian orang, berbuka adalah momen memanjakan diri setelah seharian menahan lapar. Tetapi bagi sebagian yang lain, berbuka adalah jeda singkat sebelum kembali memikirkan esok hari yang belum tentu lebih mudah.
Ramadan memang datang ke setiap pintu rumah. Ia mengetuk pintu tersebut tanpa memandang status, pekerjaan, atau isi dompet sekalipun. Tetapi ia singgah dengan cerita yang berbeda-beda.
Ada manusia yang memaknai lapar sebagai bagian dari gaya hidup sehat, sebagai momen untuk detoksifikasi tubuh sekaligus pikiran. Ada pula yang tak asing dengan lapar, bahkan di luar bulan puasa. Bagi mereka, Ramadan tidak banyak mengubah rasa di perut, yang berubah mungkin hanya suasana saja, karena kini ada lebih banyak tangan yang berbagi.
Kontras itu sering kali hadir di tengah-tengah kehidupan tanpa kita sadari. Kita mungkin duduk nyaman di kursi empuk, bercengkerama sambil menunggu azan, tanpa pernah benar-benar melihat keadaan di sekeliling. Padahal, di jalan yang sama, pada senja yang sama, ada wajah-wajah lain yang memaknai Ramadan dengan cara yang jauh lebih sunyi.
Hal ini bukan berarti yang satu lebih benar dari yang lain. Ramadan tidak pernah meminta kita untuk membandingkan. Namun, ia mengajak kita untuk melihat lebih dalam bahwa di balik kemeriahan promo buka bersama dan meja-meja yang penuh dengan hidangan, ada realitas yang berjalan berdampingan. Realitas tentang harapan sederhana: bisa berbuka dengan layak, bisa membawa pulang makanan untuk anak di rumah, bisa menjalani esok hari tanpa cemas berlebihan.
Senja itu akhirnya benar-benar tenggelam. Azan maghrib pun berkumandang, merambat melalui pengeras suara masjid dan memantul di dinding-dinding restoran. Semua orang, di tempatnya masing-masing, menundukkan kepala. Tangan-tangan terangkat, doa-doa berbisik lirih memuji nama-Nya.
Mungkin, pada akhirnya, Ramadan tidak hanya ingin kita merasakan lapar dan dahaga. Ia ingin kita merasakan kehadiran orang lain yang jalan hidupnya mungkin tak sama, yang mejanya mungkin tak seramai milik kita, tetapi doanya sama tulusnya menembus langit.
Di bawah langit yang sama, kita belajar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang apa yang tersaji di atas meja. Namun, Ramadan juga adalah tentang kepekaan yang tumbuh di dalam dada. Tentang kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu dibagi rata, tetapi empati selalu bisa diperluas. Karena pada senja yang sama, selalu ada meja yang berbeda. Dan di situlah wajah Ramadan yang paling jujur memperlihatkan dirinya.
Baca Juga
-
Tren Ganti Provider Makin Ramai, XL Ikut Jadi Sorotan Warganet!
-
POV Mahasiswa: Menjadi Agent of Change dari Bli Nyoman Desa Sejahtera Astra
-
Membangun Desa dari Manusianya: Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra Les
-
Cuan di Awal, Bertahan di Akhir: Membedah Siklus Sunyi Pekerja Setiap Bulannya
-
Di Balik Angka yang Disebut Cukup: Senyum di Luar, Pusing Hitung Sisa Saldo Kemudian
Artikel Terkait
-
20 Link Kartu Ucapan Lebaran Kreatif untuk Semua Kalangan, Gratis dan Siap Pakai
-
Idul Fitri 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perhitungannya Menurut Pemerintah dan Muhammadiyah
-
Peristiwa Nuzulul Quran Terjadi pada Tanggal Berapa? Ini Penjelasannya
-
Mudik Gratis Telkom 2026 Dibuka: Simak Jadwal, Cara Pendaftaran, dan Rute Perjalanan
-
Daftar Mudik Gratis BNI 2026: Cek Syarat, Rute, dan Jadwal Keberangkatan
Kolom
-
Ketika Makan Bergizi Gratis Berubah Menjadi Ancaman: Negara Harus Bertindak
-
Sawit Bisa Dipanen dalam Hitungan Tahun, Hutan Butuh Generasi untuk Kembali
-
Tak Cuma Pekerja Kreatif yang Underpaid, Sistem Kerja Kita Emang Bermasalah
-
Krisis Empati Saat Bencana Alam dan Program MBG Terus Berjalan
-
Demokrasi Terbalik: Rakyat Memilih, Rakyat Membayar, Kenapa Pejabat Dipuja?
Terkini
-
Lontong Medan: Kuliner "Ramai" yang Bikin Rindu, Wajib Ada Mi!
-
Kisah Cinta Beda Budaya yang Bikin Baper dalam Film Baby Udon
-
Spek Xiaomi Pad 9 Pro Bocor: Tablet Flagship Usung Chipset Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 11.000 mAh
-
Rumus Kebenaran Musim Panas: Ketika Sains Berhadapan dengan Rahasia Masa Lalu
-
Ulasan Film Bapakmu Kiper: Cerita Rekonsiliasi Ayah dan Anak yang Menyentuh