Pernah merasa hanya ingin membuka media sosial “sebentar saja”, tetapi realita tiba-tiba waktu sudah berlalu hampir satu jam? Satu reels pendek berubah menjadi sepuluh reels, lalu berlanjut ke unggahan lain yang terus muncul tanpa henti. Tanpa sadar, jempol terus saja menggulir layar, sementara waktu tetap berjalan; tidak akan berhenti.
Fenomena ini sering disebut doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten digital secara terus-menerus tanpa benar-benar kita sadari. Di era algoritma seperti sekarang, media sosial memang dirancang agar kita nyaman berlama-lama di dalamnya; bikin kecanduan. Setiap konten yang muncul terasa semakin relevan, semakin menarik, dan semakin sulit untuk ditinggalkan rasanya.
Namun ketika bulan Ramadan tiba, muncul pertanyaan kecil yang cukup mengusik hati dan pikiran. Jika kita diajarkan untuk menahan lapar dan dahaga, mengapa kita tidak mencoba untuk menahan diri dari kebiasaan scrolling yang berlebihan? Bulan Ramadan lalu membuat manusia menyadari satu hal sederhana: mungkin yang perlu dipuasakan bukan hanya perut semata, tetapi juga jempol.
Selama ini, kebiasaan membuka media sosial sering terasa otomatis. Saat menunggu waktu berbuka, saat bangun sahur, bahkan saat dan setelah tarawih. Padahal awalnya hanya ingin “sebentar saja”. Namun kenyataannya, waktu berlalu tanpa terasa. Ketika disadari, satu jam sudah lewat, dan yang tersisa hanyalah rasa lelah tanpa benar-benar mendapatkan sesuatu yang berarti.
Dari situ, muncul keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda, yaitu menjalani Ramadan dengan lebih bijak dalam mengonsumsi media sosial. Bukan berarti harus berhenti total. Media sosial tetap memiliki sisi positif. Kita bisa mendapatkan informasi, terhubung dengan teman, bahkan menemukan inspirasi. Namun yang menjadi penting adalah bagaimana kita mengatur cara menggunakannya.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah membatasi waktu membuka media sosial pada momen tertentu saja. Misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan atau setelah kegiatan ibadah selesai. Sehingga, media sosial tidak lagi menjadi kebiasaan refleks setiap kali merasa bosan.
Selain itu, dapat juga dimulai dengan lebih selektif terhadap konten yang dikonsumsi. Jika biasanya timeline dipenuhi konten yang hanya menghibur sesaat, Ramadan menjadi kesempatan untuk mengubah hal tersebut. Mengikuti akun yang membagikan refleksi, cerita inspiratif, atau pengingat kebaikan membuat pengalaman berselancar di media sosial terasa berbeda.
Perubahan kecil seperti ini ternyata memberikan dampak yang cukup terasa. Waktu terasa lebih panjang, pikiran lebih tenang, dan fokus terhadap aktivitas sehari-hari menjadi lebih baik.
Menariknya, ketika kita tidak terlalu sering membuka media sosial, kita juga mulai lebih peka terhadap hal-hal sederhana yang terjadi di sekitar. Obrolan keluarga saat berbuka terasa lebih hangat. Suasana tarawih di masjid terasa lebih khusyuk. Bahkan momen menunggu azan maghrib pun bisa dinikmati tanpa harus terus-menerus melihat layar.
Ramadan memang selalu membawa kesempatan untuk memperbaiki diri, meskipun dari langkah kecil. Dalam konteks gaya hidup modern, salah satu bentuk perbaikan itu bisa hadir melalui cara kita mengelola konsumsi digital.
Bijak berkonsumsi tidak selalu tentang makanan atau barang yang kita beli. Di zaman sekarang, ia juga berkaitan dengan apa yang kita lihat, baca, dan dengarkan setiap hari. Media sosial, jika tidak disadari, bisa menjadi “konsumsi” yang sama besarnya dengan hal-hal lain dalam hidup kita.
Karena itu, Ramadan tentu menjadi momen yang tepat untuk menata ulang kebiasaan tersebut. Bukan dengan menjauhi teknologi sepenuhnya, tetapi dengan menggunakannya secara lebih sadar.
Mungkin dengan mengurangi satu jam waktu scrolling setiap hari. Mungkin dengan memilih konten yang lebih memberi makna. Atau mungkin dengan sesekali meletakkan ponsel dan benar-benar hadir di momen yang sedang dijalani.
Pada akhirnya, bijak berkonsumsi media sosial di bulan Ramadan bukan hanya tentang menghemat waktu. Lebih dari itu, ini tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan Ramadan dengan lebih utuh tanpa terlalu banyak gangguan dari layar kecil di genggaman kita. Karena bisa jadi, ketenangan yang kita cari selama ini sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Kita hanya perlu berhenti sejenak dari algoritma untuk menyadarinya.
Baca Juga
-
Senja yang Sama di Meja yang Tak Sama
-
Di Bawah Bayang Rob: Kisah Perjuangan Sunyi Perempuan Pesisir Melawan Krisis Iklim
-
Antara Pasir yang Berjalan: Cerita Ketangguhan dari Pesisir Selatan Lombok
-
Saat Laut Menyimpan Napas Terakhir: Kisah Ketangguhan dari Karimunjawa
-
Falling in Love: Suporter Iringi Perjalanan MAN 1 Sukabumi di AXIS Nation Cup 2025
Artikel Terkait
-
Gaji Rp2 Juta Zakat Berapa? Ini Hitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah
-
Panitia Zakat Dapat Berapa Persen? Ini Penjelasan Menurut Syariat Islam
-
Ijab Qabul Zakat Fitrah: Bacaan Lengkap Saat Menyerahkan Zakat dan Menerimanya
-
IEMF 2026 Dorong Do Good Marketing Jadi Strategi Indonesia Memimpin Ekosistem Bisnis Islam Global
-
Stok Barang Impor Mampet, Pengusaha Ritel Cemas Momentum Lebaran 2026 Terganggu
Lifestyle
-
Mindful Eating saat Puasa: Menghargai Makanan dan Mengendalikan Nafsu Berbuka
-
4 Tips Jalani Ramadan versi Slow Living: Kurangi Drama, Perbanyak Makna
-
Bijak Belanja saat Ramadan: Cara Menghindari Pengeluaran Membengkak
-
Motorola Razr Fold Cetak Rekor Kamera HP Lipat Terbaik di DXOMARK dengan Skor 164
-
Honor MagicBook Pro 14 (2026) Resmi Rilis: Laptop Tipis dengan Baterai 92Wh
Terkini
-
Jelang Jamu Persik Kediri, Bojan Hodak Dipusingkan dengan Masalah Ini!
-
Kenapa Pertanyaan 'Kapan Nikah' Selalu Muncul saat Lebaran?
-
Realitas Sosial Jalan Muharto: Wajah Lain Malang yang Jarang Terlihat
-
Raymond/Joaquin Libas Ganda China, Segel Tiket Semifinal All England 2026
-
Praktik Hukum yang Kian Rapuh di Novel Sui Generis