Sekar Anindyah Lamase | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi mudik lebaran. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU/am.)
Yayang Nanda Budiman

Setiap menjelang Idul Fitri, jutaan orang bergerak serentak meninggalkan kota-kota besar menuju kampung halaman. Jalan tol padat, terminal sesak, stasiun penuh, bandara dipadati antrean panjang.

Mudik telah menjadi ritual tahunan yang melampaui makna perjalanan fisik. Ia adalah peristiwa sosial, ekonomi, sekaligus politik yang memperlihatkan bagaimana negara hadir melalui infrastruktur.

Data Kementerian Perhubungan saban tahun menunjukkan peningkatan mobilitas masyarakat, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara.

Pembangunan jalan tol Trans Jawa, pengembangan jalur Trans Sumatera, modernisasi pelabuhan dan bandara, hingga penambahan armada kereta api, selalu dikaitkan dengan kesiapan menghadapi arus mudik. Dalam konteks ini, mudik menjadi momentum evaluasi sekaligus panggung unjuk kerja negara.

Ritual Sosial dan Identitas Kolektif

Mudik bukan sekadar tradisi pulang kampung. Ia adalah pernyataan identitas. Para perantau yang bekerja di Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya, menegaskan keterhubungan emosional dengan desa atau kota asalnya.

Di ruang-ruang media sosial, narasi mudik dipenuhi unggahan perjalanan panjang, kemacetan, cerita di rest area, hingga momen haru bertemu orang tua.

Ritual ini menyatukan dimensi spiritual dan sosial. Idul Fitri menjadi titik kulminasi setelah sebulan berpuasa. Namun, mudik juga memperlihatkan ketimpangan spasial pembangunan. Urbanisasi mendorong konsentrasi ekonomi di kota besar, sementara kampung halaman menjadi ruang nostalgia dan akar kultural.

Pergerakan massal setiap tahun menjadi pengingat bahwa pusat ekonomi dan pusat identitas kerap berada di dua tempat berbeda.

Di sisi lain, mudik juga menghadirkan dampak ekonomi signifikan. Perputaran uang di daerah meningkat, usaha kecil menggeliat, sektor transportasi melonjak. Negara membaca dinamika ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Infrastruktur menjadi tulang punggung agar mobilitas besar tersebut tidak berubah menjadi bencana kemacetan dan kecelakaan.

Infrastruktur sebagai Arena Politik

Sejak era pembangunan jalan tol masif dalam satu dekade terakhir, infrastruktur kerap ditempatkan sebagai simbol kemajuan. Begitu pula proyek pelabuhan dan bandara baru yang diklaim memperlancar arus barang dan manusia.

Namun, infrastruktur bukan sekadar proyek teknis. Ia adalah keputusan politik tentang prioritas anggaran, pembagian sumber daya, dan arah pembangunan.

Ketika negara memilih membangun jalan tol dibanding memperkuat transportasi publik berbasis rel di kota-kota besar, itu mencerminkan pilihan kebijakan. Mudik lalu menjadi momen pembuktian, apakah pilihan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan warga.

Kemacetan panjang di gerbang tol, lonjakan tarif tiket pesawat, hingga kecelakaan di jalur alternatif sering kali menjadi kritik publik. Infrastruktur yang megah tidak otomatis menjamin distribusi manfaat yang adil.

Pertanyaan tentang siapa yang paling diuntungkan dari pembangunan jalan tol, misalnya, terus mengemuka. Apakah ia mempermudah pemudik kelas menengah dengan kendaraan pribadi, atau juga mengakomodasi kelompok berpenghasilan rendah yang mengandalkan bus dan kereta ekonomi?

Politik infrastruktur juga berkaitan dengan narasi keberhasilan pemerintah. Setiap musim mudik, konferensi pers digelar, data kecelakaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, waktu tempuh dirilis sebagai indikator efisiensi. Negara hadir dalam bentuk rekayasa lalu lintas, diskon tarif tol, hingga mudik gratis. Semua itu memperlihatkan bahwa mudik telah menjadi barometer performa tata kelola.

Menimbang Arah Pembangunan

Di tengah euforia pembangunan fisik, penting untuk menimbang keberlanjutan dan keadilan akses. Infrastruktur seharusnya tidak berhenti pada pembangunan jalan atau jembatan, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan, keterjangkauan biaya, dan pemerataan layanan.

Transportasi publik yang terintegrasi, sistem tiket yang transparan, serta perlindungan bagi pekerja transportasi menjadi bagian tak terpisahkan.

Mudik mengajarkan bahwa mobilitas adalah hak sosial. Ketika jutaan orang merasa perlu pulang untuk merayakan kebersamaan, negara dituntut memastikan perjalanan itu aman dan manusiawi. Politik infrastruktur yang sensitif terhadap kebutuhan warga akan memperkuat kepercayaan publik.

Lebih jauh, fenomena mudik juga bisa menjadi refleksi tentang ketimpangan pembangunan antarwilayah. Jika peluang ekonomi lebih merata di daerah, mungkin intensitas urbanisasi dan ketergantungan pada kota besar dapat ditekan. Dengan demikian, mudik tidak lagi sekadar arus balik musiman akibat konsentrasi ekonomi, melainkan perayaan kultural yang tidak dibayangi beban struktural.

Pada akhirnya, mudik adalah cermin relasi antara warga dan negara. Ia menunjukkan betapa kebijakan pembangunan menyentuh kehidupan sehari-hari. Setiap kilometer jalan tol, setiap jadwal kereta tambahan, dan setiap posko kesehatan di jalur mudik, adalah bentuk konkret kehadiran negara.

Pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat orang sampai di kampung halaman, melainkan seberapa adil dan inklusif negara merancang infrastruktur bagi seluruh warganya.