Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Perempuan (Freepik)
Ukhro Wiyah

Sosok Raden Ajeng Kartini dikenang sebagai pelopor emansipasi wanita. Hingga hari ini jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan masih terus diperbincangkan dalam berbagai bentuk. Mulai dari upacara, hingga unggahan di media sosial. Namun, di balik semua itu, sejujurnya ada pertanyaan yang cukup mengganggu di pikiran saya: apakah kita benar-benar memahami apa yang diperjuangkan Kartini?

Saat ini, kita sering menemui anggapan bahwa perempuan dianggap berdaya ketika ia aktif di ruang publik, berkarier, mandiri secara ekonomi, dan lepas sepenuhnya dari peran rumah tangga. Sekilas, narasi ini tampak sebagai bentuk kemajuan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, pemahaman seperti ini justru berisiko menjadi bentuk baru dari tekanan.

Kartini tidak pernah menuliskan bahwa perempuan harus meninggalkan perannya di rumah untuk bisa dianggap setara. Dalam kumpulan suratnya yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, yang paling kuat justru adalah kegelisahannya terhadap keterbatasan akses pendidikan, kebebasan berpikir, dan ruang untuk berkembang sebagai manusia.

Dari sini, jelas sekali bahwa yang diperjuangkan oleh Kartini adalah hak perempuan untuk belajar, memahami dunia, dan memiliki suara atas hidupnya sendiri. Dengan kata lain, esensi emansipasi yang diperjuangkan Kartini bukanlah tentang memindahkan perempuan dari satu peran ke peran lain, melainkan memberikan kebebasan untuk memilih.

Namun, dalam realitas hari ini, pilihan itu sering kali justru dipersempit oleh ekspektasi sosial yang berubah bentuk. Perempuan yang memilih fokus pada keluarga, misalnya, kerap dianggap kurang “berdaya”. Di sisi lain, perempuan yang mengejar karier di ruang publik pun tetap dituntut untuk memenuhi berbagai standar lain:  menjadi sukses, tetap “pantas”, dan tidak melupakan peran domestik.

Pandangan tersebut akhirnya membuat perempuan berada dalam posisi yang serba sulit. Apa pun yang dipilih, selalu ada standar yang menunggu untuk menilai. Dan kita bisa melihat bahwa masalahnya bukan lagi sekadar tentang ruang domestik atau publik, tetapi tentang bagaimana masyarakat masih sering memaksakan satu definisi tunggal tentang “perempuan yang ideal”.

Padahal, jika kita kembali pada semangat Kartini, yang ia perjuangkan justru sebaliknya. Kartini ingin perempuan memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Ia ingin perempuan bisa berpikir tanpa dibatasi, bermimpi tanpa dipersempit, dan menjalani hidup tanpa harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspektasi yang tidak ia pilih.

Emansipasi seharusnya tidak diartikan sebagai kewajiban untuk menjadi sesuatu yang tertentu. Ia bukan tentang harus bekerja di luar rumah, atau sebaliknya, harus tetap berada di dalamnya. Ia bukan tentang memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.

Sebab sejatinya emansipasi adalah tentang kebebasan. Kebebasan untuk menentukan arah hidup. Kebebasan untuk memilih peran. Kebebasan untuk berubah tanpa harus merasa bersalah. Dan yang tidak kalah penting, kebebasan untuk tidak selalu memenuhi standar yang ditetapkan oleh orang lain.

Sayangnya, di tengah arus informasi yang begitu cepat hari ini, makna tersebut sering kali tereduksi. Emansipasi menjadi sekadar label, slogan, atau bahkan alat untuk membenarkan sudut pandang tertentu. Nama Kartini digunakan, tetapi semangatnya tidak selalu benar-benar dipahami.

Sekarang, mungkin inilah saatnya kita kembali memahami tafsir emansipasi yang dibawa oleh Raden Ajeng Kartini. Bukan untuk menentukan mana pilihan yang paling benar, tetapi untuk menyadari bahwa selama ini kita sering kali tanpa sadar membatasi makna emansipasi itu sendiri. Kita menggantikan satu tekanan dengan tekanan lain, satu standar dengan standar yang baru.

Padahal, yang diperjuangkan Kartini bukanlah tentang mengarahkan perempuan menjadi sesuatu yang tertentu, melainkan memberi ruang agar perempuan bisa menentukan hidupnya sendiri.

Bahwa menjadi perempuan berdaya tidak harus selalu mengikuti standar masyarakat yang terus berubah. Ketika seorang perempuan memilih berkarier, ia berdaya. Ketika ia memilih untuk fokus pada keluarga, ia pun tetap berdaya. Bahkan, ketika ia masih dalam proses mencari arah hidupnya, itu pun bagian dari keberdayaan.

Tidak ada bentuk keberdayaan yang lebih tinggi dari yang lain. Sebab emansipasi bukan tentang siapa yang paling terlihat berhasil, melainkan tentang siapa yang benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih dan berani menjalani pilihannya tanpa harus terus-menerus merasa kurang di hadapan harapan orang lain.

Dan mungkin, di situlah emansipasi menemukan maknanya yang paling utuh: ketika perempuan tidak lagi sibuk memenuhi definisi orang lain, tetapi mulai berani mendefinisikan hidupnya sendiri.