Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi Perpustakaan (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Remaja kerap dilabeli apatis terhadap politik. Mereka dianggap tidak peduli, enggan mengikuti isu publik, dan lebih tertarik pada dunia hiburan atau media sosial. Narasi ini berulang dalam banyak percakapan, seolah menjadi kebenaran umum yang tidak perlu dipertanyakan. Namun, benarkah remaja benar-benar tidak peduli?

Jika ditelusuri lebih jauh, banyak remaja justru memiliki kepedulian terhadap isu sosial dan politik. Mereka aktif membicarakan ketimpangan, lingkungan, hingga hak asasi manusia, meskipun tidak selalu dalam forum formal. Media sosial menjadi ruang alternatif bagi mereka untuk berekspresi, berdiskusi, dan bahkan mengorganisasi gerakan.

Masalahnya, bentuk partisipasi ini sering tidak diakui sebagai “politik” dalam pengertian konvensional. Politik masih dipersempit sebagai aktivitas elektoral atau keterlibatan dalam institusi formal. Akibatnya, ketika remaja tidak hadir dalam ruang tersebut, mereka langsung dicap apatis. Label ini tidak hanya menyederhanakan realitas, tetapi juga mengabaikan perubahan cara generasi muda berinteraksi dengan isu publik.

Sistem yang Tertutup dan Minim Representasi

Di sisi lain, perlu diakui bahwa sistem politik belum sepenuhnya ramah terhadap partisipasi remaja. Banyak proses pengambilan keputusan yang bersifat hierarkis, formal, dan kurang inklusif. Bahasa politik yang kaku, prosedur yang kompleks, serta minimnya akses informasi menjadi penghalang tersendiri bagi generasi muda.

Selain itu, representasi remaja dalam institusi politik juga sangat terbatas. Kebijakan yang menyangkut masa depan mereka sering dirumuskan tanpa melibatkan suara mereka secara langsung. Ketika aspirasi tidak tersalurkan, wajar jika muncul perasaan bahwa keterlibatan tidak akan membawa perubahan signifikan.

Fenomena ini menciptakan lingkaran yang problematik. Sistem yang tidak inklusif membuat remaja menjauh, sementara jaraknya remaja dari sistem kemudian dijadikan alasan untuk tidak memberi mereka ruang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengikis kepercayaan terhadap institusi publik.

Lebih jauh, pengalaman negatif seperti polarisasi politik, disinformasi, dan praktik politik yang tidak etis juga memengaruhi persepsi remaja. Mereka tidak hanya melihat politik sebagai sesuatu yang jauh, tetapi juga sebagai arena yang penuh konflik dan tidak selalu mencerminkan nilai-nilai yang mereka yakini.

Membuka Ruang, Bukan Sekadar Menuntut Kepedulian

Mengatasi persoalan ini tidak cukup dengan menyerukan agar remaja lebih peduli. Hal yang dibutuhkan adalah upaya membuka ruang partisipasi yang nyata dan bermakna. Remaja perlu dilibatkan tidak hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek yang memiliki suara.

Sekolah dapat menjadi titik awal dengan memperkuat pendidikan kewarganegaraan yang tidak sekadar teoritis. Diskusi kritis, simulasi pengambilan keputusan, hingga keterlibatan dalam proyek komunitas dapat membantu remaja memahami bahwa politik adalah bagian dari kehidupan sehari hari, bukan sesuatu yang jauh dan eksklusif.

Di tingkat yang lebih luas, pemerintah dan institusi publik perlu menciptakan mekanisme partisipasi yang lebih inklusif. Forum konsultasi publik, platform digital yang interaktif, hingga keterlibatan organisasi pemuda dalam proses perumusan kebijakan dapat menjadi langkah konkret. Yang terpenting, partisipasi tersebut harus memiliki dampak nyata, bukan sekadar formalitas.

Media juga memiliki peran dalam membentuk narasi yang lebih adil. Alih-alih terus mengulang label apatis, media dapat mengangkat berbagai bentuk keterlibatan remaja yang selama ini kurang terlihat. Dengan demikian, publik dapat melihat bahwa generasi muda sebenarnya memiliki kepedulian, hanya saja membutuhkan ruang yang tepat untuk menyalurkannya.

Pertanyaan tentang apatisme remaja tidak bisa dijawab secara hitam putih. Ia merupakan hasil interaksi antara individu dan sistem. Menyalahkan remaja semata hanya akan menutup kemungkinan perubahan yang lebih besar. Sebaliknya, dengan membuka ruang partisipasi yang inklusif, kita tidak hanya mendorong keterlibatan generasi muda, tetapi juga memperkuat kualitas demokrasi itu sendiri.

Karena dalam demokrasi yang sehat, suara remaja bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari arah masa depan.