Sejak kecil saya sudah terbiasa mengikuti momen Eid al-Fitr, entah bersama orangtua atau berkunjung ke rumah saudara. Setiap tahun suasananya hampir serupa: rumah ramai, hidangan tersaji, suara tawa bersahutan. Ada rasa hangat yang selalu dirindukan dari pertemuan keluarga besar yang jarang terjadi. Namun di balik kehangatan itu, ada satu hal yang kerap saya perhatikan dan terus berulang dari tahun ke tahun.
Silaturahmi yang Berubah Arah
Awalnya semua terasa wajar. Obrolan dibuka dengan pertanyaan ringan, “Sekarang kerja di mana?” atau “Kabar si ini bagaimana?” Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar seperti bentuk perhatian karena lama tak berjumpa. Tetapi semakin lama, percakapan bisa bergeser menjadi pembahasan yang lebih dalam tentang kehidupan orang lain, bahkan hingga hal-hal yang sangat pribadi. Di titik itulah silaturahmi pelan-pelan berubah arah.
Antara Rasa Ingin Tahu dan Kebiasaan Bergosip
Tidak semua pertanyaan berujung gosip, tentu saja. Namun sering kali, ketika jawaban yang terdengar tidak sesuai harapan—misalnya soal pekerjaan yang belum mapan atau kondisi ekonomi yang sedang sulit—nada percakapan ikut berubah. Dari sekadar bertanya, menjadi membandingkan. Dari membandingkan, menjadi mengomentari. Tanpa sadar, meja makan Lebaran berubah menjadi ruang membicarakan kehidupan orang yang bahkan tidak hadir di sana.
Ketika Empati Tertinggal
Menurut saya, di sinilah letak persoalannya. Tidak semua orang sedang berada di fase terbaik dalam hidupnya. Ada yang masih berjuang, ada yang sedang jatuh, ada pula yang memilih diam karena lelah menjelaskan. Membicarakan kekurangan atau kegagalan seseorang di momen Lebaran terasa kurang etis, apalagi jika dilakukan tanpa empati. Bukankah hari raya seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan saling menguliti?
Luka yang Tak Selalu Terlihat
Gosip sering dianggap hal biasa, bahkan hiburan ringan saat berkumpul. Padahal, dampaknya bisa panjang. Cerita yang awalnya hanya beredar di satu ruang bisa berpindah ke ruang lain, hingga akhirnya sampai ke telinga orang yang dibicarakan. Saat itu terjadi, yang tersisa bukan lagi tawa, melainkan rasa malu, kecewa, bahkan sakit hati. Ironisnya, semua itu lahir dari momen yang seharusnya menjadi hari saling memaafkan.
Refleksi tentang Karma Sosial
Seorang mentor pernah berkata kepada saya, jika kita terbiasa menggosipkan orang lain, suatu saat kita pun akan digosipkan kembali. Entah oleh siapa, entah dalam kesempatan apa. Banyak orang menyebutnya karma—hukum sosial yang tak tertulis. Apa yang kita ucapkan tentang orang lain bisa saja berbalik arah kepada diri sendiri. Dan ketika posisi itu berpindah, barulah kita menyadari betapa tidak nyamannya menjadi bahan pembicaraan.
Pada akhirnya, saya tidak mengatakan bahwa bertanya kabar adalah hal yang salah. Silaturahmi memang identik dengan bertukar cerita. Namun mungkin yang perlu dijaga adalah batasnya. Lebaran seharusnya menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan, mempererat kembali yang renggang, dan saling mendoakan yang terbaik. Bukan menjadikannya ajang membicarakan kehidupan orang lain tanpa izin dan tanpa empati.
Baca Juga
-
Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Trauma Nyata Perempuan Korban Perang Dunia I dalam Buku Testament of Youth
-
Review Buku Chernobyl: Saat Politik Mengalahkan Kebenaran
Artikel Terkait
Kolom
-
Negara Minta Inovasi, tetapi Pelaku Agribisnis Justru Dipersulit
-
Fenomena Tren Hopping: Ambisi Kekinian yang Merusak Identitas Diri
-
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
-
Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
Terkini
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
-
Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap
-
Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield
-
Ulasan Cerpen Lotre dalam Buku Lotre dan Cerita-Cerita Lainnya