The Doll Ghawiah merupakan film horor Indonesia terbaru garapan sutradara Guntur Soeharjanto yang kembali membawa semesta The Doll ke layar lebar. Diproduksi oleh Hitmaker Studios, Legacy Pictures, dan Masih Belajar Project, film ini mengangkat urban legend tentang boneka Uci yang dikenal di kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.
Dibintangi Titi Kamal, Darius Sinathrya, Sara Wijayanto, Aisyah Aqilah, dan Laura Moane, film yang tayang pada 29 Oktober 2026 ini menawarkan kisah teror boneka misterius dengan latar waktu 1988. Film ini juga mengungkap asal-usul boneka tersebut dan rahasia kelam yang menjadi sumber terornya.
Awal Mula Teror Boneka Terkutuk
Cerita membawa penonton mundur jauh ke tahun 1988, berlatar di sebuah sudut kota Bandung yang masih terasa asri namun menyimpan kesan dingin yang misterius. Kisahnya berpusat pada sebuah keluarga kecil yang terpaksa pindah dari Jakarta setelah sang ayah mengalami kebangkrutan besar. Keputusan untuk memulai hidup baru di rumah tua dekat kawasan Babakan Siliwangi ini menjadi awal dari segala petaka yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ketegangan mulai terbangun perlahan saat anak bungsu mereka secara tidak sengaja menjelajah ke dalam area hutan di dekat tempat tinggal baru mereka. Di sana, sang anak bertemu dengan sosok misterius yang kemudian memberinya sebuah boneka kuno yang tampak usang. Tanpa rasa curiga, boneka yang belakangan diketahui bernama Ghawiah itu dibawa pulang ke rumah dan dijadikan teman bermain baru.
Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan boneka tersebut. Satu per satu kejadian aneh mulai meneror seisi rumah, mulai dari suara-suara ketukan di dinding saat malam hari hingga perubahan perilaku sang anak yang menjadi sangat tertutup dan agresif. Suasana rumah yang semula diharapkan bisa menjadi tempat perlindungan yang tenang, perlahan-lahan berubah menjadi sangkar teror yang mencekam.
Puncaknya terjadi ketika teror mistis tersebut mulai mengancam keselamatan nyawa seluruh anggota keluarga secara fisik. Di tengah keputusasaan menghadapi kekuatan gaib yang semakin beringas, muncullah karakter Laras muda yang mencoba mengurai benang kusut misteri di balik boneka terkutuk tersebut. Lewat sudut pandang Laras, penonton akhirnya diajak melihat bagaimana jiwa yang terluka di masa lalu bisa terperangkap dalam sebuah objek dan menuntut balas dendam yang sangat kejam.
Review film The Doll Ghawiah
Dari segi visual dan atmosfer, patut diapresiasi untuk komitmen film ini dalam menghadirkan estetika tahun 80-an yang sangat meyakinkan. Penggunaan warna-warna gelap, desain rumah kuno, hingga pemilihan kostum para karakternya berhasil membuat ku merasa benar-benar terlempar ke masa lalu. Detail-detail kecil ini sangat membantu membangun rasa tidak nyaman penonton sejak menit pertama film dimulai.
Akting para pemain utamanya juga patut mendapat pujian karena tampil sangat natural dalam menggambarkan kepanikan sebuah keluarga yang terpojok, terutama lewat penampilan Titi Kamal sebagai Evi dan Darius Sinathrya sebagai Arya. Hubungan emosional antara suami istri yang stres karena masalah finansial dan harus menghadapi teror gaib terasa intens dan tidak berlebihan. Dinamika akting mereka, yang juga didukung performa kuat dari Aisyah Aqilah, Laura Moane, Sara Wijayanto, hingga aktris cilik Fara Shakila, membuat ku bisa ikut bersimpati dan merasakan ketakutan yang mereka alami di dalam rumah tersebut.
Sebagai sebuah cerita asal-usul, film ini terbilang sukses menjahit alur cerita untuk menjawab rasa penasaran para penonton. Penjelasan mengenai bagaimana boneka ini bisa tercipta dan mengapa ia memiliki daya hancur yang begitu besar disampaikan dengan porsi yang pas. Aku suka bagaimana ceritanya tidak hanya mengandalkan kemunculan setan secara tiba-tiba, tetapi juga memberikan latar belakang emosional yang kuat pada sosok makhluk yang menghantui.
Namun, bukan berarti film ini tanpa cela karena ada beberapa bagian di paruh tengah yang temponya terasa agak lambat. Ada momen-momen di mana teror yang muncul polanya agak berulang, alhasil nuansa seramnya sedikit berkurang bagi aku yang sudah terbiasa menonton film horor. Untungnya, tensi cerita kembali naik secara drastis begitu film memasuki babak akhir yang penuh dengan aksi ritual dan konfrontasi mistis.
Satu hal yang paling aku suka adalah penataan suaranya digarap dengan sangat baik untuk meneror pendengaran penonton. Desau angin hutan Bandung malam hari, derit lantai kayu, hingga bisikan-bisikan lirih berhasil membuat merinding berkali-kali tanpa perlu dentuman musik yang mengagetkan.
Overall, bagiku film ini adalah sebuah sajian horor yang sangat solid dan memuaskan untuk menutup akhir bulan Oktober. Meskipun ada beberapa formula horor klasik yang masih dipertahankan, eksekusi teknis yang rapi dari sutradara Guntur Soeharjanto dan jajaran pemain yang berkelas membuatnya tetap seru untuk dinikmati di layar lebar.
Baca Juga
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield
-
Fenomena Tren Hopping: Ambisi Kekinian yang Merusak Identitas Diri
-
The Midnight Library: Belajar Berhenti Berandai dan Menerima Realita Hidup
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Beras Bebas Pajak, Pembalut Kena PPN: Potret Hukum Kita Buta Gender
Artikel Terkait
-
NGORBIT: Wavi Zihan & Ihsan Tarore Ungkap Kisah Mistis di Balik Layar Film Rambut Sewu
-
Review Film The Doll Ghawiah: Misteri Boneka Berdarah Paling Menakutkan!
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
Ulasan
-
Ulasan Cerpen Lotre dalam Buku Lotre dan Cerita-Cerita Lainnya
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Film The Doll Ghawiah: Misteri Boneka Berdarah Paling Menakutkan!
-
Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam
-
Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu
Terkini
-
Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap
-
Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield
-
Negara Minta Inovasi, tetapi Pelaku Agribisnis Justru Dipersulit
-
Rayakan 20 Tahun The Black Parade, MCR Rilis Film Pendek Prelude to The End